Dua pemuda ditemukan tinggal jasad terbakar dalam aksi protes anak muda terbesar pasca-Reformasi pada Agustus 2025. Keluarga mereka sangat terluka. Keluarga bertekad mencari kebenaran dan keadilan.
Liputan ini dikerjakan bersama BBC News Indonesia. Baca laporan terkait: Pemberangusan Gen Z ala Rezim Prabowo
MUHAMMAD Farhan Hamid pulang diantar mobil ambulans, melewati lorong gang sempit, hanya bisa sampai di depan pintu rumah, disambut tangis mamanya yang pecah, dua bulan setelah menghilang dalam kondisi tubuh susah dikenali di dalam peti jenazah. Umurnya berhenti di 23 tahun.
“Mama kuat, Rony. Mama kuat,” ujar Atun.
“Rony nggak tahu? Nggak tahu Farhan pahlawan? Farhan pahlawan. Rony harus bangga,” kata seorang saudaranya.
Rony adalah kakak Farhan, terpaut tiga tahun. Kakak-adik ini sangat dekat.
Pada 29 Agustus 2025, memakai kemeja lengan panjang hitam dan celana jin, Farhan pamit salat Jumat dari rumahnya di Koja, Jakarta Utara.
Atun penasaran kalau sekadar salat di masjid dekat rumah, biasanya pakai sarung.
“Ba’am mau salat di Masjid Istiqlal.” Ba’am adalah panggilan sehari-harinya. “Nanti Ba’am mau sekalian mengiringi jenazah Affan.”
Affan Kurniawan, ojol umur 21 tahun, tewas dilindas mobil rantis Brimob yang ugal-ugalan memecah kerumunan demonstran pada malam 28 Agustus.
Atun berusaha melarang, tapi anaknya menenangkan, “Nggak apa-apa, Ma. Ramai-ramai, kok.” Dia berangkat bersama sepupunya.
“Ya sudah, kalau sudah selesai, pulang, ya, Nak.”
Tapi Farhan tidak kunjung pulang.
Sepupunya pulang duluan dan bercerita mereka ikut demonstrasi di Mako Brimob, Kwitang, Jakarta Pusat, lokasi para pelindas Affan bersembunyi. Keduanya terpisah seketika ada tembakan gas air mata.
Sepupunya membagikan foto Farhan berpose di depan Mako Brimob. Atun melihat di bawah kedua mata anaknya ada semacam cat putih.
“Ini pakai apa?” tanya Atun.
“Pakai odol, dikasih sama ojol,” kata sepupunya. “Biar nggak perih.”

Yang bikin khawatir lagi, telepon anaknya tidak diangkat. Pesan WhatsApp pun tidak dibaca. Atun dan suaminya, Hamidi, baru tahu setelahnya bila anaknya menggadaikan ponsel sesaat sebelum ikut demonstrasi.
“Saya nggak tahu, demi Allah saya nggak tahu,” kata Atun. “Memang anak saya kalau ada apa-apa nggak cerita ke orangtua. Nggak pernah mau menyusahkan.”
Satu hari … dua hari … dua bulan berlalu… tapi Farhan tak pernah pulang.
Di rumah, keluarga mengadakan doa setiap malam demi keselamatan dan kepulangannya.
Pada satu malam, Atun bermimpi anaknya pulang dengan kaki pincang. Pada malam lain, anaknya pulang telanjang. “Mama, Ba’am sakit. Sakit, Ma.”
Di malam lain, tubuh anaknya luka lebam. “Mama… Mama yang sabar, ya.”
Atun terjaga dengan mata basah. Ia membayangkan putra bungsunya, yang tak pernah sekalipun ia pukul, sedang kesakitan di luar sana.

‘Penemuan Dua Kerangka Jenazah’
Baru saja tiba di rumah, pada Kamis malam, 30 Oktober, Hamidi ditelepon polisi untuk tes DNA ke RS Polri Kramat Jati. “Ada penemuan dua kerangka jenazah,” kata polisi.
Seketika ia dan Atun berangkat. Saat tiba di ruang tunggu, seorang polisi menghampiri mereka. “Apakah anak bapak memakai liontin?”
Polisi menunjukkan foto liontin dalam kondisi terbakar. Batu giok liontin itu hancur, tinggal rangka dan rantai kalung. Atun langsung histeris. Liontin itu mirip dengan yang dipakai anaknya.
Keluarga Reno Syahputra Dewo di Surabaya juga diminta polisi ke Jakarta untuk tes DNA.
Reno, pemuda 24 tahun asal Surabaya, merantau ke Jakarta dan tinggal bersama Amel, kakak sepupunya. Ia membantu Amel dan suaminya berjualan ikan hias di pasar.
Abraham, adik Reno, baru saja pulang ke Surabaya dari Jakarta. Sejak kakaknya hilang, ia bolak-balik Jakarta. Pada 31 Oktober 2025, Abraham kembali berangkat ke Jakarta bersama ayahnya.
Abraham menyampaikan kabar dari polisi ada dua kerangka manusia ditemukan di sebuah gedung terbakar. Ibunya, yang nantinya menyusul ke Jakarta, langsung lemas.
“Jangan pikir yang tidak-tidak,” Abraham menenangkan. “Bukan kakak, kok. Kan belum tes DNA.”
Selama sepekan itu keluarga Farhan dan Reno melakukan dua kali tes DNA.
‘Kami Dipaksa untuk Menerima’
Polisi menggelar jumpa pers di RS Polri Kramat Jati seminggu setelahnya. Keluarga orang hilang itu diminta datang. Ada Hamidi dan Atun, Rita dan Yasin—ibu dan bapak Reno—serta Abraham dan sepupu mereka. Kedua orangtua itu tidak ikut menemui wartawan.
Abraham harus kuat-kuat mengabarkan orangtuanya setelah konferensi pers berakhir.
“Ini kerangka kakak… Yang sabar. Ikhlaskan, ya”
Rita histeris. Yasin menangis, “Ya Allah… Sebegitunya anak saya diperlakukan begini.”
Sampai hari itu mereka masih yakin anak-anak mereka masih hidup.
“Semua nggak menyangka,” cerita Abraham.
Ada tanda-tanda Farhan dan Reno masih hidup setelah api menyala di gedung Astra Credit Companies (ACC) Kwitang.
Pesan WhatsApp dari Amel masih bertanda centang dua hingga jam 6 sore pada 29 Agustus.
Seorang saksi mata di Kwitang berkata kepada Hamidi melihat seorang demonstran dengan ciri-ciri fisik seperti Farhan sekitar jam 7 malam pada 29 Agustus. Orang mirip Farhan itu meminta pertolongan medis karena kakinya terkena peluru. Saksi menyetop dua ojol untuk mengantarkan orang mirip Farhan itu ke RSPAD Gatot Soebroto.
“Tapi kami telusuri ke sana tidak ada,” cerita Hamidi.
Bagaimana mungkin seseorang yang tertembak dan terluka bisa ada di lantai dua gedung terbakar?
Polisi mengatakan Farhan dan Reno terjebak di dalam gedung saat kebakaran.
Terjebak atau dijebak?
Hasil autopsi menunjukkan keduanya meninggal karena terbakar.
Terbakar atau dibakar?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui benak keluarga Farhan dan Reno.
Sehari setelah konferensi pers, jasad Farhan dan Reno diserahkan ke keluarga. Farhan dimakamkan di TPU Budi Dharma Semper pada 8 November. Sementara Reno dibawa pulang ke Surabaya dan dimakamkan di TPU Putat Gede pada 9 November.
Melihat kondisi jasad yang hangus, keluarga tak punya cara lain membuktikan identitas kedua jenazah selain dari pernyataan polisi.
“Kami dipaksa untuk menerima. Kami juga tidak bisa menolak,” kata Hamidi.
Kejanggalan I: Farhan Masih Tampak di Luar Lokasi Kebakaran
Farhan dan Reno tidak saling kenal. Tetapi jasad mereka ditemukan satu sama lain hanya berjarak 1-2 meter. Jasad mereka berada di lantai dua sisi depan gedung, berdekatan teralis yang tampak dari luar.
Lantai itu memang ditutup teralis. Saat kebakaran pada 29 Agustus 2025, seseorang sempat terjebak di dalam. Sebuah video di media sosial menunjukkan orang yang terjebak itu diselamatkan oleh sejumlah massa dan tentara dengan melepas teralis.
Gedung ACC Kwitang berjarak 150 m dari Mako Brimob. Kebakaran gedung terjadi pada sore hari.

Sebelum kebakaran, sebuah video di media sosial menampakkan massa keluar dari gedung mengambil barang-barang jarahan. Video lain menunjukkan lantai dasar atau tempat parkir kendaraan dijubeli massa. Seseorang di balik kamera terdengar berteriak, “Bakar! Bakar!”
Saksi mata yang dikutip DetikX menyebut gedung mulai dibakar sejak pukul 15.00. Titik api diduga bermula dari dua mobil yang dibakar di lantai dasar.
Sebuah video yang kami dapatkan menunjukkan Farhan masih melintas di sekitar Mako Brimob Kwitang pada pukul 16.20, 29 Agustus.
Berdasarkan sebuah video yang beredar di media sosial, asap hitam dari gedung membumbung tinggi pada pukul 16.30. Beberapa massa terjebak di dalam gedung turun menggunakan tali dari balkon lantai 4.
“Anehnya, kenapa dia naik ketika api sedang membesar? Ketika orang-orang sedang menghindar. Kenapa dua anak ini naik ke atas?” Hamidi bertanya-tanya.
Jika memang Farhan dan Reno masuk ke dalam gedung, mengapa mereka tidak bisa keluar?
“Padahal di sana ada pertolongan. Banyak orang. Ada TNI dan pemadam kebakaran yang bisa menyelamatkan,” tambah Hamidi.
Dua damkar tiba untuk memadamkan api. Berdasarkan keterangan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, unit damkar tiba pukul 16.41. Mereka melakukan proses pemadaman dan pendinginan hingga selesai pukul 17.47.
Sementara petugas keamanan ACC Kwitang berkata api tidak sepenuhnya padam pada hari itu. Pemadaman bara api tersisa kembali dilakukan esok hari. “Damkar datang lagi sekitar pukul 10.00,” kata satpam gedung.
KontraS, organisasi pembela hak asasi manusia yang membuka posko laporan penghilangan paksa demonstran pasca aksi Agustus 2025, mewawancarai petugas damkar yang memadamkan gedung esok harinya. Kata si petugas, rekan-rekannya memadamkan api dari pukul 10.00-18.00.
Mako Brimob Kwitang masih didemo meski jumlah massa sudah berkurang. Para petugas damkar, yang dicurigai demonstran sebagai intel, sempat berlindung dari lemparan batu. Mereka berlindung di lantai dua sekitar dua jam. Selama di lantai itu mereka tidak melihat ada jasad terbakar.
“Pihak pemadam kebakaran yang kami temui mengatakan tidak ada. Tidak ada orang yang terjebak. Tidak juga mencium bau-bau mencurigakan seperti bau anyir mayat,” kata Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya kepada Kompas.
Project Multatuli mengajukan permohonan informasi publik melalui portal Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Provinsi DKI Jakarta terkait laporan penanganan kebakaran saat itu.
Sekretaris Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Pemprov DKI Jakarta Sugeng Wiyono, dalam jawaban tertulis, menyampaikan kronologi penanganan kebakaran pada 29 Agustus 2025. Ia menyatakan “tidak terdapat korban jiwa” dalam kebakaran tersebut.
Kepolisian melakukan olah TKP pada 2 dan 19 September, masing-masing dilakukan oleh Polres Metro Jakarta Pusat dan Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri, untuk mencari sumber titik api. Polisi tidak menemukan ada jasad meninggal atau korban jiwa di sana.
Polisi beralasan bau daging manusia terbakar menyerupai kayu terbakar. Lokasi penemuan jasad Farhan dan Reno dikelilingi puing-puing dan plafon yang terjatuh.
“Karena lokasi ditemukan [jenazah] itu cukup tidak terlihat. Terlihatnya hanya puing-puing seperti bekas AC, kayu terbakar, plafon jatuh. Kenapa bisa lama ditemukan? Karena dari mulai terbakar sampai ditemukan, di lokasi tersebut tidak ada kegiatan membersihkan puing-puing atau membuka bongkaran tumpukan,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Jakarta Pusat Roby Heri Saputra.
Kejanggalan II: Mayoritas Orang Hilang Ditangkap Polisi
Akun media sosial Farhan sempat aktif setelah ia hilang. Facebook dan Instagram dia mengunggah berita justru tentang kehilangan dirinya.
Pihak yang menguasai akun Instagram dia pernah mengaku sebagai bapak Farhan dan membalas pesan Ferry Irwandi, seorang persona internet. Padahal keluarga tidak punya akses ke akun medsos Farhan.
Hingga kini keluarga tidak tahu siapa pelaku peretasan akun anaknya.
Setelah demonstrasi 25-31 Agustus 2025, bukan hanya Farhan dan Reno yang dinyatakan hilang. Posko pengaduan KontraS menerima laporan 44 orang hilang dalam sepekan. Lonjakan laporan ini terjadi di wilayah-wilayah pusat mobilisasi massa seperti Jakarta dan Bandung.
Dimas berkata mayoritas orang hilang itu ditemukan di dalam kantor polisi.
KontraS mengkategorikan mereka sebagai korban penghilangan paksa jangka pendek (short-term enforced disappearances). Dalam konteks ini, korban akhirnya diketahui keberadaannya atau dibebaskan, tapi ada masa singkat mereka tidak dapat diakses oleh keluarga, kuasa hukum, maupun pihak luar lainnya.
Lewat laporan “Mereka Tidak Hilang, Mereka Dihilangkan Paksa: Pemetaan Praktik Penghilangan Orang Secara Paksa dalam Aksi 25-31 Agustus 2025”, KontraS menemukan berbagai kasus polisi menghalangi dan menutup informasi keberadaan korban.
Beberapa korban disiksa selama ditahan. Seorang korban di Polda Metro Jaya mengalami bocor kepala, punggung dan kedua dengkulnya terluka. Seorang korban lain di Polres Metro Jakarta Timur mengalami luka memar di hidung dan di bawah mata.
Puluhan korban itu akhirnya bisa dijangkau keberadaannya, tapi tidak untuk Farhan dan Reno.
Setelah keluarga melaporkan ke KontraS serta polisi mengumumkan masih mencari keduanya, keluarga keduanya menerima kunjungan rutin polisi. Pada satu hari tiga polisi dari Polres Jakarta Utara mendatangi rumah keluarga Farhan, mengorek informasi yang seolah-olah Farhan punya jejak kriminal. Kali lain sebelas polisi datang dan memeriksa ponsel Rony, kakak Farhan. Berikutnya, tujuh polisi kembali datang sampai Hamidi dibuat jengkel.
“Saya capek. Sudah dua bulan anak saya tidak ditemukan. Kerja kalian apa?”
Abraham, adik Reno, berangkat dari Surabaya ke Jakarta demi mencari kakaknya. Rumah sepupunya rutin didatangi polisi seakan tanpa kenal waktu, dari malam sampai dini hari. Satu malam polisi datang dengan tujuh mobil dan lima motor.
“Ponsel saya dicek. Email dibuka. Semua diperiksa. Kami berpikir kayak diintimidasi,” kata Abraham.
Kejanggalan III: Siapa Pembakar Gedung ACC Kwitang?
Keluarga Farhan dan Reno, sampai hari ini, bertekad memeriksa ulang jenazah bersama tim forensik independen.
Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS yang menjadi korban penyiraman air keras oleh anggota BAIS TNI, terlibat intens mendampingi keluarga Farhan dan Reno. Andrie sudah mengurus proses perizinan ke polisi. Polisi sudah menyetujui rencana ekshumasi seminggu sebelum Andrie disiram air keras.
KontraS, dalam konferensi pers Tim Advokasi untuk Demokrasi pada 9 April 2026, menyampaikan ada saksi mata yang melihat para tentara memasuki gedung ACC Kwitang menjelang kebakaran.
Polisi mengatakan ada pihak yang memprovokasi massa membakar gedung. “Kenapa gedung menjadi titik sasaran? Karena ada provokasi. Ini sudah dinyatakan beberapa saksi di lokasi,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Budi Hermanto pada 7 November 2025.
Namun, Budi enggan menyebut identitas provokator. “Kami masih mendalami,” dalihnya.

Yang jelas, kematian ojol Affan Kurniawan memicu amarah rakyat. Setelah dimakamkan pada 29 Agustus, sesudah salat Jumat, sasaran demonstran tak cuma gedung pemerintah tapi ke kantor-kantor polisi.
Khusus di Mako Brimob Kwitang, jumlah demonstran melebihi kapasitas polisi. Dari situ tentara ikut berjaga. Ada dari marinir, Kopasgat TNI AU, dan Kostrad TNI AD.
Dalam beberapa video yang beredar di media sosial, beberapa tentara berupaya memadamkan api di gedung ACC Kwitang maupun menyelamatkan orang yang terjebak di dalam gedung.

Cerita lainnya: tentara tak cuma menjaga aset publik selama demonstrasi Agustus 2025, tapi diduga terlibat lebih jauh. Laporan Komisi Pencari Fakta menemukan pola empat level keterlibatan TNI.
Pertama, tentara diduga menghasut massa (instigating). Kedua, tentara diduga membantu dan memfasilitasi (aiding and abetting) kekerasan. Ketiga, tentara diduga melakukan pembiaran dan persetujuan diam-diam tindak kekerasan (tacit approval), pembakaran, dan penjarahan oleh massa. Keempat, ada indikasi putusnya tanggung jawab komando (command responsibility).
Di sejumlah titik demonstrasi, polisi bahkan menangkap sejumlah tentara.
Pada 28 Agustus, contohnya, polisi menangkap personel Badan Intelijen Strategis bernama Mayor SS di Pejompongan, Jakarta Pusat. Berdasarkan laporan Tempo, si mayor memprovokasi demonstran. Mabes TNI membenarkan ada anggota BAIS di lapangan tapi membantah tudingan itu. Mayor SS, klaim pihak TNI, sedang bertugas memantau situasi lapangan.
Selain gedung ACC Kwitang, kebakaran terjadi di berbagai lokasi publik selama 29-30 Agustus.
Di Jakarta, Halte Transjakarta Senen berjarak 350 meter dari ACC Kwitang dibakar. Di Bandung, Wisma MPR dibakar. Di Surabaya, gedung Grahadi dan kantor gubernur dibakar.
Di Makassar, gedung parlemen kota dan daerah dibakar, menyebabkan tiga orang tewas. Berbeda dengan ACC Kwitang, jasad korban di Makassar masih bisa diidentifikasi.
KontraS mendesak polisi tidak cuma berhenti pada penemuan kerangka dan identifikasi DNA.
“Ada jeda satu bulan sejak polisi mencabut garis polisi hingga pemilik gedung menemukan tulang belulang. Itu yang harus didalami aparat penegak hukum,” ujar Dimas. “Kami juga berkomunikasi dengan polisi untuk meminta keterangan petugas damkar, memeriksa sejumlah saksi, dan membuka kembali olah TKP. Ini semata demi menghadirkan kebenaran dan mencapai keadilan.”
Kami mengonfirmasi Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengenai upaya penelusuran kasus lebih lanjut, termasuk menanyakan pelaku provokasi pembakaran maupun peretasan media sosial Farhan. Tapi Budi tidak menjawab sampai artikel ini dirilis.
‘Kuncinya Ada di Polisi’
Polisi melarang keluarga melihat jenazah. Alasannya, agar tidak trauma.
Berdasarkan pernyataan polisi: tidak tersisa tulang tengkorak Farhan, tinggal segelintir organ tersisa dan sudah terbakar; sementara tulang tengkorak Reno masih ada, juga masih ada tulang panjang, tulang panggul, gigi, dan beberapa sisa organ.
Meski dilarang, saudara keluarga Farhan nekat melihat isi kantong jenazah Farhan. Rupanya tempurung kepala dan rahang atas masih ada.
“Gigi kakak saya itu kekuningan karena kebanyakan merokok,” kata Abraham mengenai Reno. “Tapi yang saya lihat benar-benar rapi. Bukan seperti kakak saya.”
Kepala Biro Laboratorium Kedokteran dan Kesehatan Polri Brigjen Sumy Hastry Purwanti berkata timnya tidak menemukan bekas kekerasan benda tumpul dari sisa-sisa organ dalam Reno yang terbakar. Untuk jasad Farhan, timnya menemukan sisa organ dalam yang terbakar.
Tim Laboratorium memperkirakan waktu kematian keduanya lebih dari satu bulan sejak ditemukan.
Abraham berkata polisi tidak memberikan laporan tertulis hasil pemeriksaan DNA maupun autopsi kepada keluarga. “Polisi hanya menjelaskan secara lisan.”
Hamidi minta polisi memberikan barang pribadi Farhan. Di rilis pers, polisi menyebut barang bukti ponsel, liontin, kepala ikat pinggang, dan secarik bahan celana. “Ketika kami minta, yang diserahkan cuma kalungnya,” kata Hamidi.
Belakangan polisi menyerahkan liontin dan ponsel. Hamidi ingin menyimpan robekan celana, tapi polisi menjawab, “Buat apa? Kan, di rumah banyak.’”
Berdasarkan foto dua kerangka di lokasi kebakaran, kami meminta pendapat ahli forensik independen untuk menganalisis kondisi jenazah serta kemungkinan-kemungkinan situasi kebakaran dan penyebab kematian.
Elayne Pope, antropolog forensik yang mendapatkan gelar doktor dari Universitas Arkansas setelah melakukan studi tentang efek api pada tubuh manusia, mendeskripsikan apa yang terjadi atas dua jasad yang ditemukan di gedung ACC Kwitang.
Elayne menduga paparan panas pada kedua tubuh terjadi dalam waktu cukup lama, “yang menyebabkan jaringan terbakar dan mengalami perubahan.”
Ia menganalisis tingkat kebakaran pada masing-masing tubuh berbeda. Pada jasad yang diduga Farhan, tampak jaringan lunak jenazah terbakar habis. Untuk jasad yang diduga Reno, masih tersisa beberapa jaringan lunak yang menandakan tubuh tidak terbakar sepenuhnya. Rahang yang terlepas dari kepala menandakan ada sisa jaringan yang membusuk pasca-terbakar. Gigi belakang dan rahang bagian dalam tampak tidak terekspos api.
Tingkat pembakaran yang berbeda, menurut Elayne, dapat dipicu situasi lingkungan di sekitar korban yang berbeda.
“Kemungkinan tubuh [diduga Reno] terlindungi oleh puing-puing yang runtuh sehingga tidak terkena api secara langsung,” ujarnya.
Kondisi korban cocok dengan situasi kebakaran gedung, lanjutnya. Kedua jasad itu mengalami apa yang disebutnya sebagai situasi kebakaran tidak terkendali atau “uncontrolled fire”, mengakibatkan bagian tubuh dan organ yang terbakar tidak merata.
“Ini berbeda dengan krematorium yang suhunya lebih stabil dan terkendali. Di krematorium, lingkungan dikondisikan untuk kaya oksigen, udara terus dialirkan ke tubuh dengan suhu konsisten dan dalam jangka waktu lama. Sementara, pada kebakaran biasa, api berkembang, mencapai puncak, lalu mereda sehingga suhu menurun.”
Bagaimana dampak kebakaran biasa berbeda dengan kremasi? “Dalam kasus kebakaran biasa, tulang-tulang yang hangus dan terkalsinasi tidak sepenuhnya hancur. Mereka masih bisa diidentifikasi,” jelasnya.

Oktavinda Safitry, dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, memperkirakan berdasarkan foto jenazah, api membakar tubuh dengan suhu tinggi di atas 600 derajat Celcius.
Sama seperti Elayne, ia menduga masih ada sisa jaringan yang menandakan kebakaran tidak terjadi secara sempurna. Ini juga jadi penyebab munculnya bau menyengat pasca-kebakaran.
“Masih ada sisa jaringan. Jadi, menulangnya bukan karena apinya saja, tapi karena ada proses pembusukan setelah kebakaran,” jelas Oktavinda.
Meski demikian, dokter forensik menegaskan ilmu kedokteran memiliki batas. “Kami bisa mengambil kesimpulan sebatas dari apa yang kami temukan,” katanya.
Forensik hanya dapat melacak mundur mekanisme kematian. Sementara penyebab pasti kematian korban, entah itu akibat pembunuhan, bunuh diri, atau kecelakaan, adalah ranah penyidik itu sendiri. “Yang mengaitkan dengan TKP ya penyidik,” ujarnya.
Tanpa pengolahan TKP yang baik, banyak informasi bisa hilang. Bahkan kondisi TKP yang sudah berubah dapat menyulitkan penyelidikan. “Kami pernah dapat TKP yang waktu kami datangi sudah bukan TKP asli. Itu jadi sulit.”
“Kuncinya sebenarnya ada di polisi,” tegas Oktavinda.
Rencana ekshumasi dan pemeriksaan ulang jenazah dilakukan oleh salah satunya Fahmi Oscandar, dokter gigi di bidang forensik odontologi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Tim ini pernah berkontribusi membatalkan vonis hukuman mati kepada dua anak di bawah umur berdasarkan pemeriksaan gigi.
Pada Agustus 2017, vonis hukuman mati kepada Yusman, pemuda asal Nias, dibatalkan setelah Fahmi dan timnya berhasil mengidentifikasi usianya di bawah umur. Yusman dituduh melakukan pembunuhan. Yusman, yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan tidak punya KTP, disiksa dan dipaksa mengaku berusia dewasa.
Kasus lain menimpa Mispo, korban penyiksaan dan rekayasa kasus pembunuhan di Nduga, Papua. Sama seperti Yusman, Mispo tidak lancar berbahasa Indonesia dan tidak punya KTP. Fahmi dan timnya berhasil mengidentifikasi usianya masih di bawah umur sehingga Mispo terbebas dari vonis hukuman mati.
“Semuanya pakai gigi,” sebut Fahmi.
Gigi, jelas Fahmi, adalah bagian dari tubuh manusia yang kuat dan dapat bertahan dalam jangka waktu lama. Bahkan, dalam kondisi ekstrem seperti kebakaran ataupun sudah dikubur, gigi masih menyimpan DNA yang dapat menjadi sumber identifikasi.
“Jadi rencana ekshumasi dalam rangka mendapatkan second opinion,” ujar Fahmi, yang menegaskan mencari pendapat kedua adalah hal biasa di dunia medis.
Permintaan ekshumasi memerlukan persetujuan polisi. Setelahnya, proses ekshumasi melibatkan Persatuan Dokter Forensik Indonesia (PDFI). “Sejauh ini tidak ada hambatan,” kata Fahmi.
Fokus utama ekshumasi dalam kasus ini adalah memastikan identitas korban. Selain itu, tim forensik akan mencoba menelusuri penyebab kematian.
Fahmi tidak menampik hasil temuan bisa jadi berbeda dengan temuan tim forensik dari kepolisian. “Bisa menggugurkan, bisa juga tidak.”
Baginya yang terpenting keluarga mendapatkan jawaban yang mereka cari. “Kalau hasilnya memang sama saja, mungkin keluarga almarhum bisa berlapang dada menerima kondisi. Tapi, kalau misalnya hasilnya berbeda, kami akan kaji secara ilmiah, mengapa bisa berbeda?”

* * *
PEMBICARAAN terakhir Abraham dan Reno terjadi lewat panggilan video bersama teman mereka pada malam hari setelah kabar kematian ojol Affan Kurniawan menyebar luas.
“Kasihan ya ojol yang dilindas sama polisi,” kata Reno.
Abraham menanggapi seadanya dan minta kakaknya tidak keluar rumah. “Demo di mana-mana, Kak.”
Abraham berkata Reno anaknya gampangan, senang bercanda, dan peduli. Ada teman Reno di Surabaya yang putus sekolah, Reno mengajaknya ikut ke Jakarta, menjadikannya seperti saudara sendiri, ikut tinggal bareng dan membantu sepupu mereka berjualan ikan hias.
Sampai sekarang Abraham masih susah percaya ditinggal kakaknya. “Teman-teman juga nggak ada yang menyangka. Orang sehumoris itu bisa tinggal kerangka…”
Hamidi berkata Farhan adalah anak yang murah senyum, peduli, dan disayangi tetangga dan teman-temannya.
Farhan gampang mentraktir bila punya uang. Mengajak teman-temannya makan bakso di dekat rumah, tapi ia sendiri masak mi instan di rumah.
Mungkin karena jiwa pedulinya tinggi, tidak tega melihat sesama rakyat biasa meninggal dengan cara dilindas polisi, Farhan tergerak ikut mengantarkan jenazah Affan Kurniawan selepas salat Jumat. Lalu, setelahnya, berdemonstrasi ke Mako Brimob Kwitang, kata Hamidi.
“Dia paling benci elite politik yang korup,” ujar ayahnya.

Keluarga Farhan hidup sederhana. Hamidi adalah ustaz di lingkungan sekitar. Atun menyediakan jasa urut bagi anak bayi maupun orang dewasa. Mereka tinggal di sebuah rumah lantai dua dalam gang di Koja bersama ketiga anaknya.
Di lantai satu, sebuah sekat lemari memisahkan ruang tamu sekaligus ruang keluarga dengan ruang dapur dan kamar mandi. Ruang keluarga itu jadi ruang tidur Hamidi dan Atun di malam hari. Di lantai dua, ada kamar Farhan dan kedua kakaknya. Tapi Farhan lebih senang tidur di lantai satu bersama bapak dan ibunya.
Biasanya Farhan duduk di samping Hamidi lalu memijat kaki dan jari-jari bapaknya, melenturkan urat-urat nadi yang tegang hingga bapaknya tertidur pulas. Biasanya Farhan mengecup dan memeluk ibunya.
“Farhan selalu di sana,” kata Hamidi menunjuk pojok ruangan beralas karpet.
“Saya kalau mau tidur teringat itu… Kadang-kadang terbayang dia ngomong, ‘Pak, ayo mau nggak dipijit?’ Akhirnya saya nggak bisa tidur.”
Cita-cita Farhan adalah berlayar sebagai kru kapal seperti kedua kakaknya. Untuk bisa menggapai mimpinya, ia harus lanjut studi sekolah pelayaran.
“Nanti gantian ya, Nak,” kata Atun kepada Farhan. “Tunggu kakak berangkat, baru kamu sekolah.”
Seharusnya Farhan sekolah tahun ini. Kedua kakaknya sudah selesai sekolah dan mulai bekerja di kapal.
Selama menunggu masuk sekolah pelayaran, Farhan mengerjakan apa saja. Pernah jadi staf restoran, kedai kopi, atau membantu orangtuanya.
Orangtua mengenang putra bungsunya sebagai anak penyayang.
“Mau makan apa, Bokap?” kata Farhan jika habis gajian. “Ayo, mau makan apa? Dibeliin, nih.”
“Dia manggil saya ‘bokap’. Dia sayang banget dengan keluarga.”
Kematian Farhan tak hanya meninggalkan luka bagi keluarga tapi juga bagi tetangga-tetangganya.
Orangtua Farhan berencana menguburkan Farhan di Banten, berdampingan makam kakeknya, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
Tapi, tetangga menolak. Farhan dicintai orang-orang di Koja. Mereka ingin Farhan dikuburkan dekat dengan mereka.
“Farhan juga anak saya. Farhan orang sini!” kata para tetangga.
Akhirnya, keluarga mengalah.

Sepanjang jalan menuju pemakaman, awan hitam mengiringi jenazah. Hujan besar mengguyur terus-menerus hingga jenazah sampai di liang kubur.
Pemakaman Farhan mengingatkan Hamidi dengan kematian bapaknya. Bumi menangis saat kakek Farhan pergi ke peristirahatan terakhir. Bumi juga menangis saat Farhan pulang.
Tidak ada keraguan sedikitpun bagi keluarga bahwa jika memang jenazah itu adalah Farhan, maka ia meninggal secara terhormat.
“Saya bangga,” ucap Hamidi, “Farhan mengikuti jejak kakeknya. Ia adalah seorang pahlawan.”
Rangga Prasetya Aji Widodo di Surabaya berkontribusi dalam liputan ini.
Baca laporan kami mengenai demonstrasi Agustus 2025:
Pembunuhan Affan Kurniawan oleh Viriya Singgih
Memori 1998 dalam Penjarahan Agustus oleh Mawa Kresna
Polisi Memburu Orang-Orang Biasa oleh Alfian P. Abdi








Comments are closed.