Mubadalah.id – Apakah Anda memperhatikan bahwa ada tekanan yang tidak terucap atau bahkan diucapkan, dalam mengatur aktivitas bagi anak? Apakah itu balet, T-ball, atau sepak bola, sampai seakan-akan Anda tidak mengerjakan peran seorang ibu apabila tidak mendaftarkan anak-anak ke tempat les setidaknya tiga atau empat kali seminggu?
Berapa kali Anda mendengar orang tua mengatakan bahwa Sabtu mereka sudah penuh dengan mengatur anak -anak ke beberapa tempat-tempat aktivitas, olahraga, atau les?
Sebaliknya, kapan terakhir Anda mendengar seseorang mengatakan, “Sabtu ini anak saya akan bermain?”
Istilah bermain maksudnya bukan bermain biola, memainkan olahraga, atau bermain bersama yang aktivitasnya sudah ditentukan oleh orang dewasa. Yang kami maksud bermain adalah ketika mereka kita biarkan dengan permainan mereka sendiri, bersama teman atau main sendiri, untuk bermain apa pun yang menurutnya menarik, selama yang mereka inginkan.
Bahkan, jika orang tua membolehkan anak-anak bermain seperti ini, sering kali tetap ada perasaan bersalah untuk mengakuinya.
Karena, sebenarnya, kita merasa menjadi orang tua yang lebih baik dengan mengajari mereka sesuatu, membuat mereka terlibat dalam olahraga, atau memberi input ke dalam otak kecil mereka. Bermain sering kali hanya membuang waktu berharga. Namun, benarkah seperti itu?
Amerika Serikat
Di Amerika Serikat dalam lima puluh tahun terakhir, jumlah jam anak-anak diperbolehkan untuk bermain telah menurun secara dramatis.
Di samping televisi dan teknologi, ada ketakutan orang tua bahwa anak-anak akan terluka, terlebih lagi keinginan mereka untuk “mengembangkan” anak-anak—semua faktor ini telah mengambil alih banyak waktu yang tadinya mereka gunakan untuk bermain.
Sebagai orang tua, kita merasa nyaman ketika anak-anak memberikan tanda-tanda kemajuan yang tampak nyata. Kita senang melihat anak-anak bermain sepak bola. Sementara yang lain bisa menyoraki mereka, atau pergi ke pertunjukan balet maupun piano mereka.
Kita merasa bangga mengatakan bahwa Billy memenangkan sebuah medali atau trofi, belajar lagu, bisa mengeja alfabet dalam bahasa Spanyol. Ini membuat kita merasa menjadi orang tua yang baik.
Kita melakukannya dengan tujuan yang paling baik karena dengan memberi mereka lebih banyak instruksi dan aktivitas terstruktur. Terlebih kita juga memberikan mereka latihan untuk menjadi orang dewasa yang lebih sukses dan berkembang. Atau, benarkah begitu?
Bukan menjadi rahasia lagi bahwa diagnosis gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan pemusatan perhatian telah melambung tinggi di Amerika Serikat. Apakah mungkin bahwa kita membuat anak-anak cemas tanpa menyadarinya dengan tidak mengizinkan mereka untuk lebih sering bermain? []
*)Sumber Tulisan: Buku The Danish Way Of Parenting Karya Jessica J X dan Iben D S, hlm 10-11





Comments are closed.