Mubadalah.id – Belakangan makin marak dan ramai apa yang viral dengan people pleaser. Term itu terus merongrong ke dalam pikiran beberapa orang yang merefleksikan dirinya sebagai orang yang “nggak enakan ke orang lain”.
Alih-alih menjadi tameng untuk menjaga “image” diri karena alasan merawat relasi, memperoleh pengakuan, atau menghindari konflik, people pleaser bukan pilihan untuk self-image atau mencintai diri sendiri. Karena, ia akan menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan mental, menurunkan produktivitas, bahkan menghambat perkembangan diri.
Sejatinya, cara mencintai diri sendiri adalah menyadari kesetaraan akan kemanusiaan itu sendiri. Tidak perlu berlebihan, tidak perlu juga merendahkan diri, cukup berdiri di tempat yang semestinya sebagai manusia yang punya hak untuk berkata tidak, hak untuk merasa lelah, dan hak untuk tidak selalu menyenangkan semua orang.
Meskipun menurut Islam cara menyenangkan seseorang paling sederhana adalah memberi senyuman manis, jika berlebihan juga akan memunculkan kecurigaan tersendiri. People pleaser juga akan mudah hadir dalam hal ini, tidak peduli tindakan kita salah atau benar, karena berdasarkan takut akan kesalahan, konsekuensinya segala hal terjawab dengan satu senyuman.
Memang terlihat sopan dari luar, tapi di dalamnya menyimpan kegelisahan yang tak terucap. Senyuman itu bukan lagi ekspresi ketulusan, melainkan topeng yang dipakai untuk menutupi ketidaknyamanan, ketakutan, bahkan penolakan yang tidak berani disampaikan secara langsung.
Bicara People Pleaser
Telah menjadi rahasia umum bahwa bagi pegiat psikologi, people pleaser adalah istilah informal yang terderibasi untuk menggambarkan seseorang yang cenderung mengutamakan kepentingan orang lain demi menjaga hubungan atau citra baik, meski harus mengorbankan kenyamanan pribadi. Biasanya, seseorang demikian sulit mengatakan “tidak” karena takut ada anggapan egois atau tidak bertanggung jawab, atau tidak cukup baik.
Lebih jauh, perilaku ini sering berakar dari pengalaman atau dedikasi lingkungan saat masa kecil yang menganggap sebuah konflik adalah sebuah ancaman. Akibatnya, individu belajar bahwa cara paling aman untuk bertahan yakni dengan menyenangkan orang sekitarnya. Bisa jadi, pola ini berkembang di bawah nalar sadar dan terbawa hingga dewasa.
Sementara itu, Islam memandang people pleaser sebagai sikap yang bertolak belakang dengan Hadist Nabi, kecuali dengan sikap ithar.
Barang siapa melapangkan seorang mukmin dari satu kesusahan dunia, Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan di hari kiamat. Barang siapa meringankan penderitaan seseorang, Allah akan meringankan penderitaannya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba selama hamba itu mau menolong saudaranya.” (HR. Muslim) (Al-Baghawi, Syarhus Sunnah, Hadis no. 127).
Secara tidak langsung, people pleaser memiliki makna menerima atau menolong seseorang dengan harapan apresiatif dari orang lan. Maka, people pleaser termasuk ke dalam amal/tindakan yang kurang ikhlas, karena lebih mementingkan penerimaan sosial daripada menuruti kata hati.
Bahkan, besar kemungkinannya sikap ini menumbuhkan rasa munafik dalam diri. Ketika seseorang mengatakan “iya” padahal hatinya berkata “tidak”, ketika senyumnya merekah tapi hatinya tertekan karena takut menolak sesuatu, maka ada jarak yang semakin lebar antara apa yang tampak nyata dengan yang ia rasakan. Jarak inilah yang lambat laun menggerus integritas diri dan keaslian sebuah relasi.
Jangan Ragu Untuk Berpikir Kritis
Salah satu upaya untuk melawan sikap people pleaser adalah mengupayakan untuk berpikir kritis (critical thinking). Mungkin hal ini bisa kita mulai dari membiasakan tidak melestarikan budaya afirmasi. Budaya afirmasi artinya pola pikir dan sikap yang selalu meng-iya kan atau mengafirmasi segala sesuatu yang ada dihadapan kita, baik lisan maupun tindakan.
Karena jika tidak menfilternya dengan baik, seakan-akan kuasa otoritas tampak makin dominan, sehingga kita (objek afirmatif) tampak setuju begitu saja. Padahal, menyetujui sesuatu tanpa proses berpikir yang matang bukan tanda kerendahan hati, melainkan sebuah pengabaian atas perintah Qur’an Afalaa Ta’qiluun? Afala Tatafakkaaruun?.
Berpikir kritis ini dapat meningkatan kemampuan memecahkan masalah, pengambilan keputusan yang lebih rasional, dan evaluasi informasi yang objektif. Bukan berarti ia menentang dengan mentah-mentah, ia adalah kemampuan untuk berhenti sejenak, menimbang, dan bertanya: apakah ini benar? Apakah ini sesuai dengan nilai yang aku pegang? Apakah aku menyetujui ini karena memang yakin, atau sekadar karena tidak ingin dianggap berbeda?
Oleh karena itu, people pleaser dengan sendirinya akan padam dan terkikis dengan pola pikir kritis dan akal sehat. Dengan akal sehat, kita tidak lagi menjawab “iya” dengan otomatis. Namun, menimbang dan dapat membedakan situasi yang membutuhkan kelenturan sikap, keadilan kemanusiaan, dan utamanya menjaga mental serta psikologi kita.
Memupuk Rasa Egaliter
Setelah melalui proses berpikir kritis, people pleaser berhadapan dengan musuh tunggalnya, yaitu sifat egaliter atau egaliterianisme. Semacam altruis, egaliter lebih menjunjung kesetaraan manusia dan memiliki kesempatan yang sama dalam segala sesuatu.
Tentu dalam Islam, sikap egaliter ini dikemas dengan narasi menghapus kasta, ras, dan pangkat seseorang dalam hal sosial (Q.S. Al-Hujurat:13). Bagaimana dengan dunia kerja yang hierarki strukturalnya sangat kental dan tampak sekat pangkat antara pimpinan dan bawahan? Islam juga punya solusi tentang ini, Q.S At-Taubah:105 menegaskan bahwa mukmin yang bekerja dengan tulus, baik, jujur, akan mendapat pengawasan dari umat muslim lainnya, Nabi Muhammad, dan jaminan balasan dari Allah Swt di dunia.
Lebih familiar lagi, Islam menawarkan konsep mizan, tawasuth, dan itsar untuk merawat hak kesehatan mental dan pikiran kita. Memberi tanpa menguras diri, menolong tanpa kehilangan diri, dan bersikap baik tanpa mengorbankan kejujuran adalah wujud keseimbangan yang sesungguhnya.
Rasa egaliter ini jauh dari makna keangkuhan. Ia adalah kesadaran bahwa kebutuhan kita sama sahnya dengan kebutuhan orang lain. Bahwa mengatakan “tidak” bukan berarti kita tidak peduli, melainkan kita cukup jujur untuk tidak berpura-pura mampu ketika kenyataannya tidak.
Maka, marilah stop people pleaser dalam diri kita, dia bagus, tapi jika over akan menjadi bahaya juga. People pleaser bukan kebaikan yang salah tempat, ia adalah rasa takut yang belum selesai berdamai dengan dirinya sendiri. Dan selama ketakutan itu yang memegang kendali, kamu tidak sedang mencintai siapapun termasuk dirimu sendiri. []





Comments are closed.