Sejatinya, kebaikan tidak harus dimulai dari hal besar atau dari orang lain. Justru, kebaikan sebaiknya dimulai dari diri sendiri. Ketika seseorang mampu menumbuhkan kebaikan dalam dirinya, maka dampaknya dapat menyebar ke lingkungan sekitar dan bahkan kepada masyarakat yang lebih luas.
Oleh karena itu, naskah khutbah Jumat ini berjudul: “Khutbah Jumat: Memulai Kebaikan dari Diri Sendiri”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٢ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٣
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Selain mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT, pada awal khutbah ini marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan sekadar ucapan, melainkan perubahan nyata dalam diri: dari kelalaian menuju ketaatan, dari keburukan menuju kebaikan. Takwa adalah komitmen untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sekaligus terus menjaga dan memperbaiki diri, serta mengajak orang lain kepada kebaikan.
Namun pada kenyataannya, sering kali kita pandai memberi nasihat, mengingatkan orang lain untuk menjaga diri, bahkan mengajak kepada kebaikan, tetapi kita sendiri masih lalai dalam mengamalkannya.
Allah swt telah mengingatkan dalam Al-Qur’an surat As-Shaf ayat 2:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٢
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
Kemudian dilanjutkan dengan ayat 3:
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٣
Artinya: “Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
Imam Thabari dalam kitab Jamiul Bayan, Jilid XXIII, halaman 350 menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan Allah sebagai teguran kepada para sahabat. Bersumber diriwayatkan dari Abdullah bin Rawahah bahwa para sahabat pernah berkata, “Seandainya kami tahu amalan yang paling dicintai Allah, pasti kami akan melaksanakannya.” Lalu disampaikan bahwa amalan tersebut adalah iman dan jihad. Namun ketika perintah itu datang, sebagian merasa berat.
Lebih jauh, Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini mengandung peringatan tegas: Allah sangat membenci orang yang pandai berbicara, namun tidak mengamalkan apa yang ia ucapkan. Dalam ayat tersebut juga tersirat dua kelemahan mendasar manusia.
Pertama, adanya ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan. Tidak sedikit dari kita yang fasih mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, tetapi justru tidak menjadikannya sebagai bagian dari amal dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, nasihat yang disampaikan kehilangan kekuatan karena tidak lahir dari keteladanan diri sendiri.
Kedua adalah tidak menepati janji. Padahal menepati janji adalah ciri orang beriman. Jika seseorang sering mengingkari janji, itu adalah tanda kemunafikan. Rasulullah saw bersabda:
ﺁيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ. (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Tanda orang munafik ada tiga macam: bila berkata, ia berdusta, bila berjanji, ia menyalahi janjinya, dan bila dipercaya, ia berkhianat.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim)
Namun, memulai kebaikan dari diri sendiri bukan berarti seseorang harus menunggu menjadi sempurna sebelum menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Kesempurnaan bukanlah syarat untuk berbagi nilai-nilai baik. Setiap individu tetap memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran, meskipun dirinya masih dalam proses belajar dan memperbaiki diri.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٦
Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS at-Tagābun: 16)
Penjelasan ini mengingatkan kita bahwa keteladanan jauh lebih kuat daripada sekadar rangkaian kata-kata. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali lebih mudah menunjuk kesalahan orang lain ketika masalah muncul, daripada bercermin dan melihat ke dalam diri sendiri.
Padahal, langkah awal menuju perubahan yang sejati justru dimulai dari muhasabah atau introspeksi diri yang jujur. Namun, tidak jarang kita justru sibuk mencari kambing hitam, seolah-olah kesalahan selalu berada di luar diri kita, bukan pada sikap dan tindakan yang perlu diperbaiki.
Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa perubahan yang nyata selalu berawal dari keberanian untuk memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu, sebelum menuntut orang lain untuk berubah.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Perubahan dari diri sendiri memiliki kekuatan luar biasa. Ketika kita memperbaiki diri, kita menjadi contoh nyata. Bukan hanya berbicara, tetapi menunjukkan. Bukan hanya memberi ceramah mauidzah hasanah namun memberi teladan dengan uswatun hasanah dan qudwah hasanah. Dan dari sinilah lahir inspirasi pada orang lain.
Kita perlu sadari bahwa tindakan nyata lebih berdampak daripada kata-kata. Ketika kita melakukan kebaikan, orang lain akan terdorong untuk mengikuti. Inilah yang dalam Islam disebut dakwah bil hal yakni dakwah dengan perbuatan.
Bayangkan, kita berubah, lalu menginspirasi keluarga. Keluarga menginspirasi masyarakat. Masyarakat menginspirasi bangsa. Maka benar, perubahan kecil dari diri sendiri bisa menciptakan efek domino kebaikan. Di dalam dunia tasawuf, ada sebuah prinsip inspiratif yang sangat terkenal yakni ibda’ bi nafsik yakni “mulailah dari dirimu sendiri.”
Tokoh sufi Jalaluddin Al-Rumi pun mengajak kita untuk terus melakukan perbaikan diri dengan mentransformasikan diri dari bukan hanya sekedar pintar, namun juga bijaksana. Beliau pernah berucap: “Kemarin aku adalah seorang cerdik-pandai, maka aku ingin mengubah dunia. Tapi kini, aku seorang yang bijaksana, karena itu, aku akan mengubah diriku sendiri”.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Perubahan diri bukan perkara mudah. Perubahan membutuhkan kesabaran, tekad, dan keberanian menghadapi ketidaknyamanan. Perubahan memerlukan proses panjang dan perjuangan melawan diri sendiri.
Dalam Islam, perjuangan disebut mujahadah yakni bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Kita harus belajar mengendalikan emosi, menumbuhkan empati, dan memperbaiki akhlak. Karena sejatinya, kebaikan yang keluar dari hati yang baik akan lebih mudah diterima dan menyentuh orang lain.
Mari kita mulai perubahan itu hari ini. Tidak perlu menunggu sempurna. Tidak perlu menunggu orang lain. Mulailah dari diri kita sendiri. Jika kita memperbaiki diri, InsyaAllah Allah akan memperbaiki hidup kita. Allah berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.”
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa memperbaiki diri, menjadi teladan dalam kebaikan, dan menjadi sebab tersebarnya kebaikan di muka bumi.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ .اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
————
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung





Comments are closed.