Di balik lebatnya hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), tersembunyi warisan budaya megalitik berusia ribuan tahun bernama kubur tebing Situs Binuanga. Situs ini memiliki 17 ruang pahatan di dinding tebing andesit, yang pernah menjadi tempat persemayaman terakhir para leluhur. Untuk menuju lokasi ini, perjalanan dimulai dari Desa Toraut, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Uara. Setelah menempuh sekitar dua jam perjalanan darat dari Kotamobagu, perjalanan dialanjutkan berjalan kaki kurang lebih tiga jam menyusuri perkebunan jagung, kelapa, dan nilam milik warga, lalu melewati jalan setapak ke kawasan taman nasional. Kita harus menyeberangi Sungai Kosinggolan sekali dan melewati sepuluh penyeberangan aliran Sungai Binuanga. Setelah semua rute itu dilalui, situs akan terlihat yang posisinya menempel di sisi tegak sebuah bukit, menghadap ke selatan. Berdasarkan pemuktahiran data yang dilakukan Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara pada April 2026, dinding-dinding situs nyaris tertutup tumbuhan merambat dan pakis yang membalut hampir seluruh permukaan tebing batuan andesit tersebut. Sisanya, sedikit celah yang memperlihatkan wajah asli batu di baliknya yakni 17 rongga pahatan berbentuk persegi panjang yang dipahat langsung ke dinding batu. Ini merupakan sebuah kompleks pemakaman prasejarah yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai “batu berkamar Binuanga”. Situs megalitik batu berkamar di dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Foto: Dok. Hari Suroto Hari Suroto, arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara, menyebut temuan ini sebagai ekspresi budaya megalitik yang khas dari wilayah Sulawesi Utara. Setiap rongga pahatan di situs ini memiliki ukuran tidak kecil. Panjang umumnya lebih dari 200 sentimeter, bahkan ada yang mendekati 300 sentimeter.…This article was originally published on Mongabay
Batu Berkamar, Jejak Peradaban Megalitik di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Batu Berkamar, Jejak Peradaban Megalitik di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone





Comments are closed.