Upaya mempertahankan kelangsungan hidup satwa liar di Indonesia sekarang semakin berat. Belum usai masalah ketersediaan pakan dan perlindungan dari pemburu, satwa nusantara harus bertahan dari kode-kode genetik yang tersimpan di dalam tubuhnya sendiri.
Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memperingatkan, degradasi lingkungan yang masif dan fragmentasi habitat yang semakin parah, melahirkan ancaman serius yang mengikis ketahanan genetik satwa akibat garis putus di jantung rimba.
Fragmentasi habitat memaksa satwa terisolasi dalam kantong-kantong kecil yang tidak saling terhubung. Akibatnya, pengawasan terhadap degradasi lingkungan semakin lemah dan konflik ruang antara manusia serta satwa tidak terhindarkan.
Kondisi ini diperparah oleh cara pandang manusia terhadap alam. Prof. Budi Setiadi Daryono, Dekan Fakultas Biologi UGM sekaligus Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), menyoroti pendekatan antroposentris dalam pembangunan telah merusak harmoni alam.
“Kita sering membanggakan diri sebagai negara megabiodiversitas. Namun pendekatan antroposentrik sangat mengancam keseimbangan alam,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Budi menekankan, perlunya meluruskan stigma hukum rimba yang sering disalahartikan publik sebagai kekacauan. Di mata sains, rimba adalah sistem yang diatur oleh keseimbangan ekologis yang rumit.
Artinya, ketika manusia memecah-belah habitat tersebut, manusia sebenarnya sedang merusak aturan main yang menjaga kehidupan itu sendiri.
“Hutan rimba sebelum datangnya manusia yang tidak bertanggung jawab itu berjalan dengan hukum alam yang harmoni. Justru akibat aktivitas manusia, hutan-hutan kita hilang dan keseimbangan tersebut rusak, yang dampaknya kini mulai kita rasakan sendiri,” imbuhnya.
Dinamika Deforestasi Genetik
Laporan World Resources Institute (WRI) menunjukkan, hilangnya hutan primer di Indonesia meningkat sebesar 14 persen dari tahun 2024 ke 2025. Pendorong utamanya adalah perluasan lahan pertanian dan aktivitas pertambangan yang membelah lanskap hutan yang dulunya utuh.
Di Kalimantan saja, deforestasi tahunan terus meningkat drastis sejak tahun 2021, sehingga menjadikannya wilayah dengan kehilangan tutupan pohon terluas selama sebelas tahun berturut-turut.
Ketika sebuah habitat terfragmentasi, populasi satwa di dalamnya akan mengalami apa yang disebut sebagai inbreeding depression atau depresi penangkaran. Dalam populasi yang kecil dan terisolasi, kemungkinan terjadinya perkawinan sedarah meningkat tajam.
Hal ini memicu akumulasi mutasi berbahaya dan penurunan variasi genetik yang diperlukan satwa untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan atau serangan penyakit.
Literatur dalam buku Conservation and the Genomics of Populations (2022) karya Fred Allendorf, menekankan kehilangan variasi genetik ini sering kali tidak terlihat secara instan. Dampak genetik dari penyusutan populasi saat ini baru akan terasa sepenuhnya pada beberapa generasi mendatang melalui penurunan tingkat kesuburan dan tingginya mortalitas anakan.
Tragedi Orangutan Tapanuli
Kasus nyata dari isolasi genetik ini terlihat pada Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Pada Oktober 2025, peneliti menemukan sekelompok kecil spesies ini di hutan rawa gambut Lumut Maju, sekitar 32 kilometer dari habitat utama mereka di Batang Toru.
Meski penemuan ini awalnya disambut optimis, analisis DNA dari sampel feses yang dilakukan pada Januari 2025 mengonfirmasi kelompok ini terdiri dari kurang dari 100 individu.
Angka tersebut jauh di bawah ambang batas minimal 250 individu yang diperlukan untuk populasi yang berkelanjutan secara genetik.
Terjebak di area non-lindung yang dikelilingi perkebunan sawit, kelompok ini terancam mengalami kepunahan fungsional jika tidak segera direlokasi untuk memperkaya keragaman genetik mereka di blok hutan yang lebih besar.
Inovasi dari Sungai
Ancaman degradasi tidak hanya terjadi di daratan, tetapi juga di ekosistem perairan. Dosen Laboratorium Struktur dan Perkembangan Hewan Fakultas Biologi UGM, Dr. Luthfi Nurhidayat, menjelaskan penurunan populasi ikan lokal, seperti wader pari salah satunya dipicu oleh pembangunan bendungan yang menghambat migrasi satwa akuatik.
Ikan Wader Pari (Rasbora lateristriata) yang merupakan sumber protein lokal, mengalami penurunan populasi tajam akibat kerusakan habitat dan penangkapan berlebih. Kondisi ini diperparah oleh pemisahan populasi yang memicu risiko malformasi atau kecacatan genetik dan hilangnya ikan lokal.
“Fragmentasi menyebabkan pemisahan populasi sehingga berpotensi mengalami malformasi, misalnya ikan yang tidak memiliki ekor atau kepalanya aneh. Tentu ini dapat berpotensi menurunkan populasi. Belum lagi dipengaruhi pencemaran air yang membuat ikan lokal hilang tersisa ikan invasif luar,” ujarnya.
Menanggapi hal ini, tim UGM melakukan langkah inovatif melalui model restocking (penebaran kembali) berbasis data molekuler. UGM menebar sekitar 10.000 bibit Wader Pari di Sungai Baros dan Sungai Gandok, Yogyakarta.
Berbeda dengan pelepasan ikan pada umumnya program ini mengedepankan beberapa tahapan saintifik, mulai dari asesmen habitat, uji mutu genetik, hingga pemantauan populasi secara berkala.
“Kita lakukan restocking untuk menaikkan kemampuan recovery. Dalam penebaran ini, kami juga memasukkan genetik baru sehingga individu yang dihasilkan akan lebih baik dibandingkan populasi yang sebelumnya terfragmentasi,” jelas Dr. Luthfi.
Rekayasa Menjahit Hutan
Upaya mitigasi fragmentasi sebenarnya sudah mulai menyentuh rekayasa infrastruktur. Pada April 2026, sebuah peristiwa bersejarah terekam di Pakpak Bharat, Sumatera Utara. Seekor Orangutan Sumatra muda terlihat menggunakan jembatan kanopi buatan berupa tali yang dibangun melintasi jalan umum, untuk berpindah antarfragmen hutan.
Jembatan yang dibangun oleh organisasi TaHuKah dan SOS ini bertujuan menyambungkan kembali populasi sekitar 350 orangutan yang terbelah oleh perluasan jalan pada tahun 2024.
Inovasi sederhana namun efektif ini menjadi bukti bahwa pembangunan manusia dan pelestarian satwa tidak harus selalu bertentangan.
“Ini adalah tonggak sejarah besar bagi konservasi, membuktikan bahwa mungkin untuk menjahit kembali hutan yang terfragmentasi,” tulis pernyataan resmi Sumatran Orangutan Society (SOS).
Masa depan satwa Indonesia berada di antara jaring-jaring koridor ekologis dan komitmen kebijakan yang berbasis sains. Tanpa upaya serius untuk menghubungkan kembali fragmen-fragmen habitat yang tersisa, kekayaan hayati yang dibanggakan mungkin hanya akan menjadi catatan sejarah dalam pustaka genom yang tak sempat diselamatkan.




Comments are closed.