Jakarta –
Kisah pilu datang dari Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang siswa SMK Negeri 4 Samarinda, Mandala Rizky Saputra, meninggal dunia setelah diduga mengalami gangguan kesehatan akibat menggunakan sepatu sekolah yang terlalu sempit.
Kejadian ini pun segera menyita perhatian publik. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur menyatakan telah melakukan koordinasi serta pendalaman informasi dengan berbagai pihak terkait.
Berdasarkan hasil penelusuran sementara, Mandala diketahui mengalami penurunan kondisi kesehatan, dengan gejala pembengkakan pada kaki.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kondisi kesehatan siswa diketahui mengalami penurunan kondisi fisik, pusing, dan pembengkakan pada kaki. Setelah dilakukan kunjungan ke rumah siswa, menurut informasi sepatu kekecilan,” ujar Disdikbud Kaltim, dikutip dari laman detikcom, Rabu (6/5/2026).
Kronologi meninggalnya Mandala
Disdikbud juga menjelaskan kronologi kejadian nahas ini bisa terjadi. Pihaknya mengatakan Mandala sedang mengikuti kegiatan praktek kerja pada 9 Februari–20 Maret 2026 di Ramayana Robinson Jalan M Yasmin Samarinda.
Lokasi praktek kerja ini dinilai sesuai dengan jurusan yang diambil Mandala, yakni pemasaran. Pada 30 Maret 2026, Mandala sudah kembali ke sekolah dan mengikuti kegiatan belajar-mengajar.
Namun, keesokan harinya sekolah menyarankan Mandala untuk istirahat di rumah dan diantar pulang karena kondisi fisik yang menurun. Semenjak saat itu, Mandala tidak masuk sekolah karena sakit dan orang tua sudah mengirimkan izin.
Pada 8 April 2026, melalui pesan singkat WhatsApp, ibundanya meminta bantuan untuk meminjam uang ke sekolah melalui wali kelas. Wali kelas kemudian meminta ibu Mandala untuk datang ke sekolah untuk berkoordinasi.
Undangan itu dipenuhi ibu Mandala pada 10 April 2026. Ketika bertemu, ia menyampaikan kondisi putranya dan menyebut ada penurunan karena gangguan non-medis.
“Sekolah membantu fasilitas permohonan biaya untuk pengobatan di Tenggarong sebesar Rp1,1 juta,” ungkap Disdikbud.
Sepuluh hari kemudian, tepatnya pada 21 April 2026, sekolah akhirnya melakukan kunjungan ke rumah Mandala. Pada kunjungan itu, ditemukan kondisi kaki Mandala lemas dan bengkak, tetapi tidak ada luka atau lecet.
Melihat hal ini, para guru menyarankan agar melakukan pengobatan ke fasilitas kesehatan. Namun, lantaran benturan ekonomi dan adanya tunggakan sebesar Rp2,4 juta yang belum dibayar, keluarga enggan melakukannya.
TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI.
(asa/rap)





Comments are closed.