NU Online Jombang,
Ribuan jemaah tumpah ruah memadati halaman kantor Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang pada Ahad (10/5/2026). Meski harus duduk berdesak-desakan, para jamaah tetap khidmat mengikuti rangkaian acara puncak Haul ke-55 KH Abdul Wahab Chasbullah.
Dalam mauidzah hasanahnya, KH Ahmad Muwafiq atau yang akrab disapa Gus Muwafiq, menekankan bahwa Allah SWT telah mengatur kemunculan manusia sesuai dengan zamannya masing-masing secara adil. Menurutnya, karakteristik orang-orang terdahulu yang dikenal sangat kuat dan pemberani memang didesain untuk menghadapi tantangan pada masa itu.
“Orang seperti kita ini tidak cocok dilahirkan di zaman dahulu, begitu pula menjadi kiai di era sekarang. Karena tantangannya jauh berbeda, begitu pula dengan masa Mbah Wahab,” ujar Gus Muwafiq.
Ia mencontohkan bagaimana dedikasi Mbah Wahab yang totalitas dalam berjuang. Selain mempertaruhkan nyawa demi mengibarkan bendera Merah Putih, Mbah Wahab juga dikenal sangat ringan tangan dalam mewakafkan tanah-tanahnya demi kepentingan organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Gus Muwafiq juga menceritakan bagaimana penjajah Belanda mencoba melumpuhkan kekuatan santri tidak hanya melalui perang fisik, tetapi juga lewat jalur budaya dan agama. Ia juga mengisahkan kepiawaian Mbah Wahab saat didebat oleh pihak Belanda mengenai perbandingan antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS.
Kala itu, Belanda mengumpamakan Nabi SAW sebagai pohon yang telah mati dan Nabi Isa sebagai pohon yang masih hidup. Kemudian mereka menanyakan pada Mbah Wahab mana hang lebih nyaman antara berteduh di bawah pohon hidup atau pohon mati.
“Beliau dengan lantang menjawab bahwa lebih enak berteduh di bawah pohon mati, karena saat itu mereka sedang berada di dalam bangunan yang kokoh yang terbuat dari kayu atau pohon yang sudah mati,” kisah Gus Muwafiq disambut takjubnya jamaah.
Selengkapnya klik di sini.





Comments are closed.