Sun,10 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Gus Muwafiq Kisahkan Totalitas Perjuangan Mbah Wahab

Gus Muwafiq Kisahkan Totalitas Perjuangan Mbah Wahab

gus-muwafiq-kisahkan-totalitas-perjuangan-mbah-wahab
Gus Muwafiq Kisahkan Totalitas Perjuangan Mbah Wahab
service

NU Online Jombang,
Ribuan jemaah tumpah ruah memadati halaman kantor Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang pada Ahad (10/5/2026). Meski harus duduk berdesak-desakan, para jamaah tetap khidmat mengikuti rangkaian acara puncak Haul ke-55 KH Abdul Wahab Chasbullah.

Dalam mauidzah hasanahnya, KH Ahmad Muwafiq atau yang akrab disapa Gus Muwafiq, menekankan bahwa Allah SWT telah mengatur kemunculan manusia sesuai dengan zamannya masing-masing secara adil. Menurutnya, karakteristik orang-orang terdahulu yang dikenal sangat kuat dan pemberani memang didesain untuk menghadapi tantangan pada masa itu.

“Orang seperti kita ini tidak cocok dilahirkan di zaman dahulu, begitu pula menjadi kiai di era sekarang. Karena tantangannya jauh berbeda, begitu pula dengan masa Mbah Wahab,” ujar Gus Muwafiq.

Ia mencontohkan bagaimana dedikasi Mbah Wahab yang totalitas dalam berjuang. Selain mempertaruhkan nyawa demi mengibarkan bendera Merah Putih, Mbah Wahab juga dikenal sangat ringan tangan dalam mewakafkan tanah-tanahnya demi kepentingan organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Gus Muwafiq juga menceritakan bagaimana penjajah Belanda mencoba melumpuhkan kekuatan santri tidak hanya melalui perang fisik, tetapi juga lewat jalur budaya dan agama. Ia juga mengisahkan kepiawaian Mbah Wahab saat didebat oleh pihak Belanda mengenai perbandingan antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS.

Kala itu, Belanda mengumpamakan Nabi SAW sebagai pohon yang telah mati dan Nabi Isa sebagai pohon yang masih hidup. Kemudian mereka menanyakan pada Mbah Wahab mana hang lebih nyaman antara berteduh di bawah pohon hidup atau pohon mati.

“Beliau dengan lantang menjawab bahwa lebih enak berteduh di bawah pohon mati, karena saat itu mereka sedang berada di dalam bangunan yang kokoh yang terbuat dari kayu atau pohon yang sudah mati,” kisah Gus Muwafiq disambut takjubnya jamaah.

Selengkapnya klik di sini.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.