Kabupaten Tangerang, NU Online Banten
Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Miftah Faqih berpesan agar para kader NU selalu mempertautkan satu sama yang lain sebagai rasa terima kasih kepada Allah, Rasulullah, dan kedua orang tua.
“Menjaga korelasi batiniah dan spiritual serta relasi jasmaniah dengan landasan rasa cinta kita. Kita bangun semangat tabarrukan kepada para muassis NU sebagai rasa syukur kepada Allah dan Rasul-Nya serta terima kasih kepada orang tua atas wasilahnya kita lahir ke dunia ini. Menjadi orang-orang terpilih mengikuti pendidikan ini,” ujarnya di Gedung Serbaguna Kitri Bhakti Gemilang Kwartir Cabang Kabupaten Tangerang, Sukabakti, Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, Ahad (10/5/2026) dini hari.
Pada kesempatan itu, dia minta kepada para peserta Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU)
setelah dibaiat, tidak ada yang main-main dalam berkhidmat.
“Berkhidmat itu melayani. Seseorang tidak bisa melayani jika tidak ada kerendahan hati. Meniscayakan nilai kerendahan hati. Orang tidak akan bisa mengabdi kalau tidak ada kerendahan hati. Juga orang tidak akan bisa beribadah jika tidak ada kerendahan hati,” katanya saat sambutan sebelum menutup secara resmi PMKNU Angkatan II yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten itu.
Menurutnya, dengan landasan tabarruk dan rasa syukur kepada Allah dan orang tua, dengan sumpah baiat dan ilmu yang dimiliki, kader tidak akan sekali-kali melakukan pengkhianatan terhadap jam’iyyah. Juga tidak akan melakukan pengkhianatan terhadap ilmu yang dimiliki.
“Jika melakukan, termasuk kabair (dosa besar). Kenapa saya katakana itu, karena melakukan pengkhianatan terhadap muassis, jam’iyyah, dan jamaah NU,” kata kiai yang juga instruktur PMKNU itu.
Mengenakan kemeja lengan panjang warna putih, dipadu peci hitam dan sarung batik bermotif gelap, dia melanjutkan, jalinan kader yang telah dirajut tidak hanya berhenti ketika pendidikan selesai.
“Tapi hingga hari kiamat. Relasi kita akan dipertanggungjawabkan kelak. Aku adalah panjenengan (Anda), dan panjenengan adalah aku. Kita bersama. Yang ada hanyalah kebersamaan dan tanpa kebersamaan mustahil kita akan mendapatkan kemuliaan. Harus ada perbedaan sebelum masuk pengkaderan dan setelah pengkaderan,” tegasnya sembari sesekali merapikan kacamatanya.
Selengkapnya klik di sini.





Comments are closed.