Balinar tengah sibuk merapikan kayu di dapurnya yang dalam perbaikan usai terdampak banjir bandang akhir 2025 di Batu Busuak, Kelurahan Lambuang Bukik, Kota Padang, Selasa (5/5/26). Satu rumah yang ada di belakang tempat tinggalnya hilang tersapu banjir. Memang, galado yang terjadi jelang tutup tahun itu tak sampai menghancurkan rumah Balinar. Namun, gara-gara peristiwa itu, kini dia tak punya penghasilan setelah sawahnya yang berada tak jauh dari sungai porak-poranda. Praktis, perempuan 73 tahun itu bertahan hidup dengan mengandalkan bantuan. Sebelum peristiwa itu terjadi, Balinar hidup dari tujuh petak sawah, delapan pohon kelapa dan puluhan tanaman kakao miliknya. Setahun, dia bisa dua kali panen dari sawah dengan rata-rata hasil panen 10 karung. Dengan harga Rp400.000 untuk satu karung gabah, Balinar merasa cukup. Apalagi, dia masih bisa mendapat tambahan dari kelapa yang biasa dia panen setiap dua bulan sekali. “Tapi sekarang sudah tidak ada yang bisa saya panen, satu petak pun tidak ada sisanya,” kata Balinar, Selasa (5/5/26). Ironisnya, saat kondisi ekonominya berantakan, nyaris tak ada bantuan dari pemerintah yang dia terima. Rumah warga di Batu Busuak Kecamatan Pauh hancur dihantam banjir bandang akhir November 2025. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia. Balinar berulang kali mengadukan kondisi sawahnya itu ke kantor kelurahan tetapi tak ada hasil. “Belum ada (respons) sampai sekarang, memang mati mata pencaharian kami,” ujarnya. Saat pembahasan lahan pertanian di kantor kelurahan, suaminya sempat mendapat bantuan bibit kelapa. Namun, dia tak ambil karena tak ada lahan untuk menanamnya. Meski begitu, dia tetap berharap pemerintah dapat mencarikan solusi atas lahan sawah yang hilang itu.…This article was originally published on Mongabay
Petani Padang Menanti Pemerintah Bantu Pulihkan Lahan Sawah Pasca Bencana
Petani Padang Menanti Pemerintah Bantu Pulihkan Lahan Sawah Pasca Bencana





Comments are closed.