Pertambangan emas ilegal di Pohuwato, Gorontalo, tidak hanya mengubah lanskap, memicu petani gagal panen hingga hilangnya tutupan hutan. Kondisi itu juga mulai tercermin dalam tubuh warganya. Air yang menggenang, udara yang berubah, dan ekosistem yang terganggu menciptakan kehidupan yang tak stabil. Di banyak titik, batas antara ruang tambang dan permukiman menjadi kabur. Lumpur, genangan, dan debu menjadi bagian dari keseharian. Dalam kondisi seperti itu, membuat malaria tidak lagi sekadar penyakit tropis, tetapi cermin dari kerusakan lingkungan lebih luas di Pohuwato. Iswanto Doda masih ingat malam ketika demam itu tiba-tiba datang seperti badai kecil. Tubuhnya menggigil, lalu panas tinggi menyergap tanpa peringatan. Semula dia mengira hanya kelelahan setelah bekerja. Ketika demam tak kunjung mereda disertai nyeri di kepala, dia mulai curiga ada sesuatu yang lebih serius. Akhirnya dia dilarikan dari rumahnya di Pohuwato Timur, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, ke Puskesmas Marisa. Dia terkena malaria. “Saat di Puskesmas, saya langsung ditanya apakah saya penambang atau bukan. Saya menjawab bahwa saya pekerja swasta dan tidak bekerja tambang. Setelah itu, dokter mendiagnosis bahwa saya terpapar malaria,” katanya. Iswanto pun kaget. Tadinya dia hanya mengira cuma masuk angin biasa. “Tapi ternyata malaria,” katanya pelan. Dia bukan satu-satunya. Di wilayahnya, malaria bukan lagi kabar yang hanya muncul dalam laporan kesehatan. Penyakit itu kini hadir di sekitar rumah, di antara tetangga, bahkan di lingkaran pekerja tambang yang setiap hari keluar masuk kawasan hutan dan bukit di Pohuwato. Kawasan permukiman di Pohuwato yang dikelilingi lubang tambang emas ilegal. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia. Banyak lubang tambang, nyamuk berkembang Dalam…This article was originally published on Mongabay
Malaria Merebak dan Lingkungan Rusak Ketika Tambang Emas Ilegal Marak di Pohuwato
Malaria Merebak dan Lingkungan Rusak Ketika Tambang Emas Ilegal Marak di Pohuwato





Comments are closed.