Sekelompok burung biru laut ekor blorok (Limosa lapponica) menyisir dataran tambak berlumpur di pesisir Pantai Lampulo, Kota Banda Aceh, Aceh. Kaki rampingnya melangkah dengan hati-hati sambil sesekali menusukkan paruh untuk mencari makan. Tak jauh dari situ, ada burung trinil kaki merah (Tringa totanus) tengah mematuk-matuk lumpur basah, bergerak maju secara perlahan dan menyapu setiap area untuk berburu mangsanya hingga sebelum matahari terbenam. Pesisir Banda Aceh berada di jalur migrasi East Asia-Australasian Flyway (EAAF), salah satu jalur terbang terbesar dan penting bagi banyak burung migran di dunia. Karena itu, kawasan pesisir Banda Aceh tidak pernah kosong dari kehadiran burung migran. Meski kini, ruang itu kian menyempit, hutan-hutan mangrove terus tergerus. Heri Tarmizi, Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH), bilang, pesisir Banda Aceh juga menjadi jalur akhir migrasi terutama bagi banyak burung dari tempat pembiakan di Siberia, Asia Utara untuk menghindari musim dingin. Ketika mangrove menghilang, rantai panjang perjalanan itu ikut terancam. “Ketika mangrove tergerus, mereka tidak akan singgah lagi ke pesisir Banda Aceh karena tidak ada sumber makanan. Dampaknya bukan hanya kehilangan, burung-burung ini juga menjaga keasrian alam dengan perannya dan bunyi-bunyiannya. Jika tidak ada lagi, maka Kota Banda Aceh akan seperti kota mati,” katanya April lalu. Penelitian Mira dkk. (2020) luas lahan mangrove di pesisir Banda Aceh mengalami pengurangan signifikan mencapai 52,13% sejak 2004 hingga 2009, dari 600 hektar menjadi 287,19 hektar. Penyebabnya karena alih fungsi menjadi lahan pemukiman. Kawasan mangrove ini tersebar di lima kecamatan di Kota Banda Aceh, meliputi Jaya Baru, Kuta Alam, Kuta Raja, Meuraxa, dan Syiah Kuala.…This article was originally published on Mongabay
Burung Migran di Pesisir Banda Aceh Perlahan Hilang
Burung Migran di Pesisir Banda Aceh Perlahan Hilang





Comments are closed.