Antara tahun 1876 hingga 1879, dunia mengalami salah satu bencana iklim terbesar dalam sejarah modern. Sebuah peristiwa El Niño yang luar biasa kuat memicu kekeringan panjang secara bersamaan di Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian Australia. Tidak ada satu pun wilayah yang bisa menjadi penyangga bagi wilayah lain, karena semua menghadapi krisis pada waktu yang hampir bersamaan. Akibatnya, ini bukan sekadar gagal panen di satu sudut dunia, melainkan sebuah krisis pangan global yang tersinkronisasi, yang berujung pada kematian antara 30 hingga 60 juta jiwa dalam kurun waktu kurang dari empat tahun. Para ilmuwan kini menyebut peristiwa ini sebagai salah satu El Niño terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah. Rekonstruksi iklim menggunakan data dari terumbu karang dan cincin pertumbuhan pohon menunjukkan bahwa intensitas El Niño 1877-1878 setara dengan dua peristiwa El Niño paling kuat di era modern, yaitu 1997/98 dan 2015/16. Namun ada satu perbedaan mendasar: dunia pada 1877 tidak memiliki sistem peringatan dini, tidak ada jaringan bantuan internasional yang terorganisasi, dan bahkan tidak ada pemahaman ilmiah yang memadai tentang apa yang sedang terjadi. Pemerintah-pemerintah di berbagai belahan dunia bereaksi terlambat, sering kali dengan kebijakan yang justru memperburuk keadaan. Hasilnya adalah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah dicatat oleh sejarah, dan ironisnya, salah satu yang paling jarang dibahas. Mengapa El Niño 1877 Begitu Dahsyat? El Niño adalah bagian dari siklus iklim yang disebut El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Dalam kondisi normal, angin pasat di Samudra Pasifik bertiup dari timur ke barat, mendorong air hangat ke arah Asia dan Australia, sementara wilayah…This article was originally published on Mongabay
Super El Niño 1877, El Niño Terkuat dalam Sejarah yang Melumpuhkan Tiga Benua
Super El Niño 1877, El Niño Terkuat dalam Sejarah yang Melumpuhkan Tiga Benua





Comments are closed.