Fri,22 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Embung Hujan, Cara Petani Bantul Hadapi Kekeringan

Embung Hujan, Cara Petani Bantul Hadapi Kekeringan

embung-hujan,-cara-petani-bantul-hadapi-kekeringan
Embung Hujan, Cara Petani Bantul Hadapi Kekeringan
service

Kolam kecil berukuran 4×5 meter dan kedalaman tiga meter melengkapi sawah-sawah di Dusun Nawungan, Kelurahan Selopamioro, Bantul, Yogyakarta. Para petani menyebutnya sebagai embung penampung hujan. Hingga awal Mei, hujan masih mengguyur Yogyakarta. Petani di Nawungan memanfaatkan embung untuk mengairi bawang merah yang mereka tanam sejak April. “Sebelum ada embung hujan ini saya cuma menanam padi gogo sama singkong aja, hasilnya serba pas-pasan. Itu sekitar 1980-1990-an,” kata Sabaryanti, petani perempuan di Nawungan. Lahan di sana memang berada di wilayah perbukitan kering. Walhasil, air hujan menjadi menjadi satu-satunya sumber pengairan area persawahan yang berbatasan langsung dengan Gunungkidul di sisi timurnya ini. Sejatinya,  ada dua mata air di Nawungan  tetapi debitnya tak tak memungkinkan untuk mengairi seluruh area sawah. Kondisi ini menyebabkan petani di sana tak mungkin menanam saat kemarau, sebelum muncul inisiatif embung hujan di awal milenium. Berbekal semangat gotong royong, embung hujan mulai banyak untuk petani di sana. Sabariyanti pun masih ingat saat dia bikin kolam-kolam itu  bersama petani lain pada era 2000-an itu. “Waktu itu bikinnya kerja bakti, jadi sistemnya gantian. Seperti saya bantu dulu ke petani lain, setelah rampung baru dibantu yang lainnya menggarap di lahan saya,” katanya. Setelah embung jadi, Sabaryanti pertama kali memanfaatkan untuk menanam tembakau. Komoditas itu dia pilih karena harga tinggi dan tak butuh banyak air. Seiring waktu, petani menambah kapasitas dengan memperlebar ukuran embung. Termasuk milik Sabaryanti  kini memiliki kapasitas 80 meter kubik hingga mampu menopang pertanian bawang merah dan cabai yang dia budidayakan selama musim kemarau. Salah satu embung hujan yang digunakan petani…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.