Fri,22 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Bahasa dan Wajah Digital Kita

Bahasa dan Wajah Digital Kita

bahasa-dan-wajah-digital-kita
Bahasa dan Wajah Digital Kita
service

Dalam kehidupan kita, bahasa bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah kekuatan halus yang lahir dari cara manusia memandang dunia. Ia memuat cara kita memahami realitas, menilai kebenaran, dan menempatkan diri di tengah kehidupan bersama. Sebutir peluru mungkin hanya menembus satu tubuh, tetapi sepatah kata yang meluncur dari lisan atau ujung jemari dapat melintasi benua, menembus waktu, mengguncang iman, bahkan meruntuhkan kesadaran dan kekuasaan.

Setiap kali kita berbicara atau menuliskan sesuatu, kita tidak sedang menciptakan bunyi-bunyian kosong. Kita sedang melepaskan energi batin ke ruang publik, yang membawa niat, emosi, dan cara pandang kita terhadap orang lain. Di titik inilah takdir kemanusiaan dipertaruhkan: apakah kata-kata akan menjadi mata air yang menumbuhkan peradaban, atau justru berfungsi sebagai kutukan yang membakar habis kemanusiaan melalui fitnah, hoaks, dan kekerasan verbal.

Para pemikir Yunani kuno telah menempatkan bahasa di jantung peradaban. Mereka melihat bahasa sebagai jembatan menuju kebenaran, bukan alat penindasan. Dalam dialog-dialognya, Plato mengkritik kaum Sofis yang memanfaatkan keindahan kata untuk memenangkan argumen tanpa peduli pada kebenaran faktual. Bahasa, baginya, harus mengabdi pada logos—kebenaran universal dan rasionalitas. Kata-kata yang menghasut, menyebarkan kebohongan, atau merendahkan martabat orang lain adalah bentuk penistaan terhadap jiwa dan tatanan sosial (polis).

Aristoteles, melalui Rhetoric, merumuskan tiga pilar komunikasi yang baik: ethos, pathos, dan logos. Ethos menekankan kredibilitas dan karakter moral pembicara; pathos menyangkut kemampuan membangun kedekatan emosional yang sehat dengan pendengar; logos menuntut argumen yang masuk akal dan bertumpu pada fakta. Ketiganya saling mengikat. Tanpa ethos (moralitas), bahasa mudah berubah menjadi alat pemuas nafsu rendah yang merusak nalar publik.

Di abad ke-20, Ludwig Wittgenstein dan Martin Heidegger menegaskan kembali kaitan erat antara bahasa dan eksistensi manusia. Wittgenstein menyatakan, “Batas bahasaku adalah batas duniaku.” Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa cakrawala dunia dibentuk oleh keluasan dan kualitas bahasa kita. Bila bahasa kolektif sebuah bangsa dipenuhi narasi kebencian, kecabulan, dan kedangkalan, maka peradaban yang dibangun akan rapuh oleh kekacauan intelektual dan moral.

Heidegger menyebut bahasa sebagai “rumah keberadaan” (the house of being). Manusia hidup, berpikir, dan beraktivitas di dalam bahasa. Karena itu, ketika kita berkomunikasi secara autentik, penuh rasa hormat, dan berlandaskan kebenaran, pada hakikatnya kita sedang membangun rumah peradaban yang aman dan bermartabat bagi semua. Kearifan ini menemukan gaungnya dalam pandangan Konfusius. Ketika ditanya apa hal pertama yang akan ia lakukan jika memimpin pemerintahan, ia menjawab: “Memperbaiki bahasa.” Jika bahasa tidak benar, tidak akurat, dan tidak bermartabat, maka apa yang dikatakan tidak sejalan dengan nilai kemanusiaan; dan jika itu dibiarkan, tugas-tugas peradaban tidak akan pernah selesai.

Tradisi sufisme mengajak kita menilai kata-kata dari hulunya: hati. Kata yang lahir dari kesucian batin memancarkan energi positif, menjadi cahaya bagi sesama. Sebaliknya, kata-kata yang berasal dari ketidaktahuan, nafsu amarah, dan syahwat akan membawa kegelapan. Jalaluddin Rumi mengingatkan, “Tingkatkan kata-katamu, bukan suaramu. Hujanlah yang menumbuhkan bunga, bukan guntur.” Di situ tersirat pesan: sebelum kata meluncur dari mulut, biarkan ia disaring melalui tiga gerbang spiritual: apakah benar, apakah perlu, apakah baik. Kebijaksanaan Jawa merumuskannya dalam kluster yang padat: ngerti, paham, dan waskita—tidak hanya tahu, tetapi mengerti, dan akhirnya mampu melihat dengan kejernihan batin.

Masalahnya, kata-kata dan bahasa yang kita produksi sering kali tidak melalui penyaringan sebelum dibagikan. Fenomena “tidak saring sebelum sharing” menjadi salah satu penyebab utama kegagalan komunikasi. Imam Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin, secara khusus menyebutnya sebagai āfāt al-lisān (bahaya lidah). Lidah, organ paling lentur dalam tubuh, merepresentasikan kedalaman batin. Energi kata yang buruk—fitnah, cemoohan, ucapan keji yang melecehkan, hingga pelecehan seksual verbal—tidak hanya merusak kehormatan sosial korban, tetapi juga menghanguskan energi spiritual pelakunya.

Karena itu, Islam sejak awal menempatkan komunikasi pada posisi yang sakral. Al-Qur’an menggunakan berbagai istilah qaulan (perkataan) untuk menunjukkan bagaimana seharusnya manusia memproduksi kata demi menggerakkan kebaikan dan menjaga martabat sesama. Dalam QS. Al-Ahzab: 70, digunakan istilah qaulan sadīdan sebagai pesan pentingnya metodologi komunikasi yang jujur dan lurus: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” Menariknya, perintah berkata benar disebut setelah perintah bertakwa, seolah menegaskan bahwa salah satu wujud takwa adalah komitmen berkata-kata dengan benar. Perkataan yang benar menjaga kewarasan dan kemanusiaan.

Para mufasir, seperti Ibnu Katsir, menjelaskan qaulan sadīdan sebagai perkataan yang tepat, jujur, sesuai fakta, objektif, dan tidak manipulatif. Di sinilah komunikasi yang lurus menjadi prasyarat utama kesalehan personal dan perbaikan tatanan sosial.

Dalam QS. Al-Hujurat: 11, kita juga diingatkan agar bahasa yang kita produksi tidak merendahkan dan tidak menghina: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain… dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” Ayat ini menjadi dasar teologis yang melarang segala bentuk ekspresi verbal yang merendahkan, melecehkan, atau merusak kehormatan fisik maupun psikologis sesama manusia.

Bila kita tidak mampu berkata-kata yang baik, diam adalah pilihan. Nabi Muhammad mengingatkan kita, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” Atas hadis ini Ibnu Hajar Al-Asqalani, dalam Fathul Bari, menjelaskan bahwa jika seseorang ragu apakah ucapannya membawa manfaat atau justru kerusakan, maka diam adalah pilihan terbaik. Menahan kata yang merusak adalah bentuk pengendalian energi destruktif agar tidak menjelma menjadi dosa sosial.

Tantangan menjaga kata-kata kian berat di era keterbukaan digital. Transformasi teknologi menjadikan kebebasan berbicara nyaris tanpa batas, tetapi tidak selalu diiringi kedewasaan berbahasa. Realitas kontemporer memperlihatkan bahwa kata dan bahasa telah menjadi arena pertarungan dan krisis kemanusiaan baru. Ketika panggung tutur berpindah dari lisan dan kertas ke layar digital, media sosial seperti X, TikTok, Instagram, serta aplikasi percakapan personal seperti WhatsApp dan Telegram melipatgandakan kecepatan dan jangkauan energi kata secara eksponensial. Di ruang inilah lahir residu budaya yang pekat: hiperrealitas, ledakan opini, dan eksploitasi emosi.

Di media sosial, batas antara fakta dan opini kian kabur. Algoritma yang mengejar engagement mendorong konten yang paling memancing respons emosi. Hoaks dan fitnah menyebar cepat karena menyasar emosi primitif: marah, takut, benci, atau rasa ingin tahu yang dangkal. Kata-kata tidak lagi disaring melalui tiga gerbang Rumi atau pilar logos Aristoteles, melainkan dilempar secara instan demi viralitas, amarah, keakuan, dan kepuasan ego sesaat.

Fenomena paling mengkhawatirkan dari pergeseran budaya ini adalah maraknya kekerasan seksual berbasis verbal, baik di kolom komentar publik maupun dalam ruang percakapan personal (direct message atau grup percakapan). Kekerasan ini hadir dalam bentuk komentar bernada seksual yang merendahkan tubuh seseorang, lelucon seksis yang dianggap lumrah, hingga pengiriman teks atau visual bernuansa seksual tanpa persetujuan (cyberflashing). Semua ini sering dibungkus candaan, tetapi bagi korban, ia hadir sebagai serangan yang nyata.

Anonymitas sering menjadi tameng. Berlindung di balik akun palsu atau merasa aman di ruang privat, orang dengan mudah melepaskan energi batin yang kotor dalam bentuk pelecehan lisan. Korban kerap mengalami dampak psikologis yang nyata: kecemasan, rasa tidak aman, gangguan harga diri, hingga pembunuhan karakter secara digital.

Di sini, bahasa mengalami dekadensi. Āfāt al-lisān (bahaya lidah) bertransformasi menjadi āfāt al-banān (bahaya jemari). Kata-kata yang dilecehkan secara seksual, ketika dianggap hiburan atau hal biasa, merupakan tanda bahwa peradaban digital tengah mengalami pembusukan moral yang serius.

Menghadapi anarki verbal di era digital, kita memerlukan rekonstruksi etika komunikasi. Gagasan para pemikir dan nilai-nilai teologis yang dipaparkan di atas perlu dihidupkan kembali dalam bentuk panduan praktis. Pertama, melakukan validasi faktual (tabayun) sebelum berkomentar dan menguji setiap informasi sebelum dibagikan, untuk memutus rantai hoaks dan fitnah. Kedua, menumbuhkan kesadaran bahwa ruang obrolan privat dan kolom komentar adalah ruang sosial yang menuntut penghormatan terhadap batas tubuh, gender, dan kehormatan orang lain; karena itu, normalisasi lelucon bernada pelecehan seksual mesti dihentikan. Ketiga, memahami kembali filosofi kedaulatan diam: jika kata yang akan diketik atau diucapkan tidak benar, tidak membawa manfaat, dan berpotensi menyakiti orang lain, maka menahan jemari untuk tidak mengirimkannya adalah bentuk “diam” tertinggi yang menyelamatkan kemanusiaan hari ini.

Pada akhirnya, setiap huruf yang meluncur dari bibir atau terketik dari ujung jemari adalah rekam jejak yang tak mudah dihapus. Komentar keji, fitnah yang dibungkus lelucon, atau pelecehan seksual verbal di balik layar gawai bukanlah perkara remeh. Jika kita terus membiarkan kata-kata kehilangan kehormatan, kebenaran, dan rasa kemanusiaan, kita sebenarnya sedang bersiap menyaksikan kebudayaan meluncur ke jurang gelap.

Jiwa yang agung cenderung melahirkan kata-kata yang agung, bersih dari kekerasan, dan sarat kebenaran. Kendali yang matang atas energi bahasa berarti hanya berbicara untuk menyembuhkan yang terluka, menegakkan keadilan, dan menyalakan lentera pengetahuan. Bila belum mampu melakukan itu, barangkali yang paling bijak bagi kita hari ini adalah menahan jemari dan melipat lidah.[]

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.