Sat,30 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Bukan Sekadar Film, Vaterland or A Bule Named Yanto adalah Surat Cinta untuk Mereka yang Kehilangan Identitas

Bukan Sekadar Film, Vaterland or A Bule Named Yanto adalah Surat Cinta untuk Mereka yang Kehilangan Identitas

bukan-sekadar-film,-vaterland-or-a-bule-named-yanto-adalah-surat-cinta-untuk-mereka-yang-kehilangan-identitas
Bukan Sekadar Film, Vaterland or A Bule Named Yanto adalah Surat Cinta untuk Mereka yang Kehilangan Identitas
service

29 Mei 2026 23.24 WIB • 2 menit

Bukan Sekadar Film, Vaterland or A Bule Named Yanto adalah Surat Cinta untuk Mereka yang Kehilangan Identitas


Lagi-lagi Indonesia punya film pendek keren, yakni Vaterland or A Bule Named Yanto. Bahkan, film tersebut sampai mendapat penghargaan bergengsi di kancah internasional.

Vaterland or A Bule Named Yanto adalah film pendek karya sutradara Berthold Wahjudi yang menyajikan perpaduan drama keluarga, komedi satire, serta kritik sosial dengan kemasan sinematografi memukau. Film berdurasi 118 menit ini diproduksi oleh kolaborasi Aftersun Creative dari Indonesia dan madfilms asal Jerman.

Dari judulnya saja, film ini sudah nyentrik. Vaterland or A Bule Named Yanto bercerita tentang Yanto, seorang pemuda keturunan Jerman-Indonesia yang diperankan oleh Aggai Saibuma, saat mengunjungi adik perempuannya di Indonesia. Pertemuan tersebut berkembang menjadi refleksi mendalam mengenai identitas campuran, rasa memiliki, hingga perasaan terasing yang sering dialami oleh para diaspora di tanah leluhur mereka sendiri.

Mengambil latar lokasi di Yogyakarta, ide cerita film ini berangkat dari pengalaman pribadi sang sutradara dalam mengeksplorasi dinamika sosial dan budaya. Vaterland sendiri merupakan kata dari bahasa Jerman yang berarti tanah air, sementara subjudulnya merujuk pada identitas unik sang karakter utama.

Penghargaan bergengsi yang didapat Vaterland or A Bule Named Yanto adalah penghargaan CANAL+ Award pada ajang La Semaine de la Critique di Festival Film Cannes 2026 yang berlangsung pada 13–21 Mei 2026 di Cannes, Prancis. Film ini menjadi salah satu dari 10 film pendek internasional yang unjuk gigi di sana. Tentu saja, ini jadi pencapaian apik mengingat film yang terdaftar untuk memperebutkan penghargaan mencapai lebih dari 2.400 judul.

Vaterland or A Bule Named Yanto

Cerita Sang Sutradara di Balik Film Vaterland or A Bule Named Yanto

Film Vaterland or A Bule Named Yanto bukan sekadar cerita perjalanan biasa, melainkan sebuah refleksi mendalam dari sutradaranya, Berthold Wahjudi. Melalui film ini, Berthold seakan ingin bercerita tentang identitasnya sebagai orang keturunan Jerman dan Indonesia. Diakui Berthold, identitas gandanya itu bahkan sampai membuatnya bingung tatkala sedang membaur dengan masyarakat Indonesia maupun Jerman.

“Saya ingin film ini mengeksplorasi kebingungan saya terhadap identitas rasial saya. Di Jerman, saya selalu dianggap imigran yang kadang membahayakan. Namun saat saya ke Indonesia, saya jadi orang kulit putih dengan sejumlah keistimewaannya,” kata Berthold dalam wawancaranya dengan La Semaine de la Critique.

Meski demikian, Berthold mengungkapkan bahwa apa yang dialaminya memberikan perspektif yang unik. Pengalaman pribadi inilah yang ia tuangkan ke dalam naskah filmnya agar terasa lebih jujur dan dekat dengan kenyataan.

Dalam menggarap film ini, Berthold sangat berhati-hati agar tidak terjebak dalam penggambaran Indonesia yang terlalu diromantisasi. Ia memilih menggunakan humor dan rasa haru untuk menceritakan kisahnya. Baginya, komedi dapat membantu penonton berempati dengan pengalaman orang lain yang berbeda, dan isu-isu serius tentang identitas juga bisa lebih mudah diterima oleh audiens.

“Lelucon menjadi strategi bertahan hidup,” katanya.

Melalui Vaterland or A Bule Named Yanto, Berthold ingin menciptakan sebuah ruang bagi mereka yang memiliki identitas ganda agar merasa memiliki komunitas dan diakui keberadaannya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.