Umat Muslim di seluruh dunia biasa merayakan Idul Adha setiap 10 Dzulhijjah Tahun Hijriyah.
Di luar Ibadah Haji di Mekkah, ritus yang biasa dikenal sebagai Hari Raya Korban ini berfokus pada tiga narasi.
Narasi pertama adalah pengorbanan Nabi Ibrahim, sedangkan dua narasi lainnya adalah penyembelihan massal hewan (sapi, kambing, unta, atau mamalia ternak lainnya), dan pembagian daging hewan hasil penyembelihan untuk dikonsumsi bersama.
Di balik kekhusyukan ritus Idul Korban, terdapat struktur naratif dan visual yang sangat maskulin serta berwatak patriarkal. Analisis kritis dari perspektif sosiologi agama dan keadilan gender mengungkap bahwa Idul Korban, sarat dengan dominasi laki-laki yang meminggirkan agensi perempuan dan melanggengkan kultus kekerasan maskulin. Ini bisa dilihat dari aspek asal muasal, teologi, maupun praktiknya.
Penekanan itu disampaikan Sosiolog Nancy Jay (1992). Dalam studi otoritatifnya yang berjudul “Throughout Your Generations Forever: Sacrifice, Religion, and Paternity” ia menjelaskan, ritus berdarah merupakan penetapan garis keturunan bapak (15-30). Patrilineal pun menegaskan kontrol maskulin atas hidup dan mati.
Baca Juga: Benarkah Konten Hiburan Makin Diminati Saat Momen Ramadhan?
Secara simbolis, dalam tata cara peribadatannya telah mengeksklusi perempuan dari otoritas keagamaan tertinggi. Tubuh perempuan diasosiasikan dengan darah kelahiran yang suci-alami. Sedangkan tubuh lelaki lebih sebagai pengorbanan darah dan kematian yang dikendalikan melalui penaklukan (1-5).
Ritus penyembelihan hewan korban itu sendiri merupakan simbolisasi nyata dari tindakan penaklukan yang bersifat maskulin. Penyembelihan hewan mamalia besar, penumpahan darah di tanah, hingga proses pemotongan daging secara fisik mendominasi ruang publik perayaan. Dalam banyak kebudayaan agrarian dan pastoral, ritus pengorbanan berdarah secara historis berfungsi sebagai alat legitimasi kekuasaan patriarki (xxiii).
Nilai patriarkisme semakin jelas ketika akar sejarah teologis yang melandasi Idul Korban dianalisis. Ritus ini sepenuhnya berpusat pada figur Nabi Ibrahim.
Ceritanya, ada seorang patriark agung yang dalam teks-teks kanonik digambarkan memiliki ambisi kuat untuk memperoleh anak laki-laki demi meneruskan garis keturunan keagamaan dan sosial. Keinginan ini mengarah pada kelahiran anak lelaki bernama Ismail. Nabi Ismail bukan berasal dari istri pertama Nabi Ibrahim, Siti Sarah. Anak lelaki pertama yang diimpikan Nabi Ibrahim justru lahir dari perempuan lain bernama Siti Hajar yang berstatus sebagai budak pasangan Nabi Ibrahim-Siti Sarah.
Struktur domestik Nabi Ibrahim mencerminkan hierarki gender tradisional yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Perempuan amat rentan terhadap ketimpangan relasi kuasa. Kehadiran perempuan seringkali dinilai secara fungsional untuk melahirkan pewaris laki-laki bagi sang patriark. Objek seksual dan tempat penanaman benih untuk mereproduksi anak (lelaki) yang akan meneruskan garis keturunan bapak.
Pengorbanan Siti Hajar
Puncak dari ketimpangan patriarkal ini termanifestasi dalam peristiwa pengusiran Siti Hajar dan bayinya yang masih menyusu, Ismail.
Atas dinamika domestik yang penuh tekanan, Siti Hajar didepak ke lembah tandus tak berpenghuni di kawasan Bakkah (Mekkah). Di tempat terpencil dan gersang tersebut, Siti Hajar harus berjuang sendirian mempertahankan hidup bayinya tanpa kehadiran figur pelindung laki-laki.
Kendati tradisi keagamaan mengabadikan perjuangan Hajar melalui ritus Sa’i (berlari kecil antara bukit Shafa dan Marwah), narasi dominan yang diajarkan di mimbar-mimbar keagamaan sering kali mereduksi penderitaan sosiologis Hajar sebagai sekadar “ujian keimanan” yang pasif, seraya mengaburkan fakta objektif adanya penelantaran struktural yang dialami oleh perempuan dalam lingkaran patriarki.
Ironi patriarkisme mencapai klimaksnya ketika Nabi Ibrahim, setelah amat lama meninggalkan anak dan istrinya, kembali dengan klaim teologis “Atas Nama Tuhan”. Nabi Ibrahim mengaku telah bermimpi, Tuhan memerintahkannya menyembelih anak lelakinya sendiri, Ismail. Narasi ini secara gamblang memperlihatkan agensi mutlak dari seorang bapak yang memegang kuasa absolut atas hidup dan mati anaknya.
Baca Juga: #911Femisida: Femisida Istri oleh Suami di Dompu Berawal dari Kasus KDRT
Suara Siti Hajar tidak didengar. Padahal, sebagai perempuan, ia sudah berperan fungsi sebagai ibu yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan Ismail di tengah kerasnya padang pasir. Siti Hajar sama sekali absen dan diabaikan dalam proses pengambilan keputusan krusial tersebut. Teologi pengorbanan konvensional yang bias patriarki cenderung menempatkan kepatuhan mutlak teks maskulin di atas etika kepedulian maternal yang inklusif dan dialogis.
Kesadaran kritis atas dimensi patriarkal dalam ritus pengorbanan menjadi penting agar kita tidak terjebak dalam pembenaran atas praktik opresi gender di dunia nyata. Membongkar dimensi patriarkal dalam perayaan Idul Korban bukan bertujuan untuk mendegradasi nilai spiritualitas ibadah tersebut. Gugatan ini merupakan upaya rekonstruksi makna demi mewujudkan keagamaan yang emansipatif.
Apabila perayaan ini terus-menerus direproduksi hanya sebagai ritus maskulin yang identik dengan penaklukan hewan dan dominasi kepatuhan bapak, maka tanpa sadar kita ikut melanggengkan mentalitas patriarkisme dalam kata, tindakan, serta institusi sosial sehari-hari. Agama seharusnya menjadi instrumen pembebasan, bukan legitimasi bagi relasi kuasa yang timpang, sebagaimana Nabi Muhammad yang menggugat tirani para bani dan Thaghut.
Baca Juga: Tak Ada yang Lebih Sedih Ketika Melihatnya Menangis
Dari semua penjelasan itu, reorientasi makna Idul Adha mutlak diperlukan. Kita perlu menggeser fokus dari sekadar selebrasi ritus berdarah yang maskulin menuju internalisasi nilai-nilai keadilan yang imbang gender. Masih banyak bentuk peran, fungsi, dan tanggung jawab sosial-keagamaan yang jauh lebih setara, emansipatif, dan bersih dari simbol-simbol kekerasan maskulin.
Pengorbanan dalam konteks modern semestinya diterjemahkan ke dalam aksi-aksi nyata. Wujudnya bisa advokasi hak-hak perempuan, penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, dan pemenuhan gizi anak-anak terlantar. Bisa juga berupa penguatan posisi tawar ekonomi perempuan kepala keluarga yang selama ini meniru ketangguhan Siti Hajar di ruang-ruang tandus modernitas.
Melalui pikir tindak ini, Idul Adha dapat dirayakan secara utuh sebagai manifestasi taqwa yang membebaskan semua manusia, tanpa sekat identitas kelompok yang sempit serta menghapus bias gender yang diskriminatif.
(Editor: Luviana Ariyanti)




Comments are closed.