Tidak banyak orang yang membicarakan Curacao atau Cape Verde sebelum Piala Dunia 2026 dimulai. Nama kedua negara itu jarang muncul dalam prediksi, ulasan, maupun perbincangan tentang calon juara.
Perhatian publik lebih banyak tertuju kepada negara-negara yang sudah lama menjadi langganan putaran final seperti Brasil, Argentina, Jerman, Prancis, atau Spanyol. Namun pada pekan pertama turnamen, Curacao bermain melawan Jerman dan Cape Verde berhadapan dengan Spanyol. Dari sinilah rasa ingin tahu mulai muncul.
Curacao berada di Karibia, tidak jauh dari pantai Venezuela. Cape Verde atau Tanjung Verde terletak di Samudra Atlantik, di lepas pantai Afrika Barat. Jauh sebelum dunia mengenal tim nasional kedua negara tersebut, kapal-kapal yang melintasi Atlantik sudah lebih dahulu singgah di sana. Laut membentuk kehidupan masyarakatnya. Orang datang dan pergi melalui jalur-jalur pelayaran yang melintasi Atlantik. Sepak bola baru kemudian menemukan tempatnya.
Penduduk Curacao sekitar 150 ribu orang. Tanjung Verde dihuni sekitar setengah juta jiwa. Jika digabung, jumlah penduduk keduanya masih kalah banyak dibandingkan penduduk Kabupaten Magelang. Angka itu memang tidak menjelaskan kualitas sepak bola sebuah negara, tetapi cukup memberi gambaran mengapa kehadiran Curacao dan Tanjung Verde di Piala Dunia menarik perhatian banyak orang.
Jerman menang telak 7-1 atas Curacao. Hasil tersebut tidak mengejutkan. Perbedaan pengalaman dan kualitas pemain terlihat jelas sepanjang pertandingan. Namun para pendukung Curacao tetap bangga ketika tim kesayangannya mencetak gol ke gawang Jerman. Gol itu tidak mengubah hasil pertandingan, tetapi akan tetap dikenang para pendukungnya.
Tanjung Verde memiliki cerita yang lain. Mereka tidak mencetak gol, tetapi berhasil menahan imbang Spanyol tanpa gol. Hasil itu membuat banyak orang mulai mencari tahu tentang negara yang sebelumnya jarang mendapat tempat dalam pemberitaan sepak bola internasional.
Sebuah negara bisa dikenal dalam berbagai hal. Ada yang dikenal karena kekuatan ekonominya, keindahan pariwisatanya, hingga pengaruh politiknya. Piala Dunia menawarkan jalan yang berbeda. Turnamen ini sering menjadi perkenalan pertama antara sebuah negara dan jutaan orang yang sebelumnya tak pernah tahu.
Dalam beberapa hari terakhir, nama Curacao dan Tanjung Verde muncul jauh lebih sering dibandingkan biasanya dalam pemberitaan sepak bola internasional. Banyak orang mencari letaknya di peta setelah melihat hasil pertandingan pertama mereka. Banyak pula yang baru mengetahui bahwa Curacao berada di Karibia atau bahwa Tanjung Verde merupakan negara kepulauan di Atlantik. Tidak ada statistik yang mencatat berapa orang melakukan hal tersebut. Namun setiap Piala Dunia selalu melahirkan rasa penasaran semacam itu.
Turnamen ini pernah menghadirkan pengalaman serupa bagi negara-negara lain. Pada 1990, Roger Milla membuat Kamerun dikenal jauh lebih luas. Kemenangan Senegal atas Prancis menjadi salah satu kejutan terbesar Piala Dunia 2002.
Pada 2014, Kosta Rika mengejutkan banyak pihak dengan lolos dari grup yang dihuni Inggris, Italia, dan Uruguay. Negara-negara tersebut memang tidak mengangkat trofi, tetapi nama mereka bertahan lebih lama dalam ingatan banyak orang.
Turnamen masih panjang dan masih terbuka berbagai kemungkinan. Namun pertandingan pertama sudah cukup membuat Curacao dan Tanjung Verde dikenal lebih luas dibandingkan sebelumnya.
Perhatian publik tentu akan kembali tertuju kepada Brasil, Argentina, Jerman, Prancis, Inggris, atau Spanyol ketika turnamen memasuki fase-fase yang lebih menentukan.
Namun ketika orang membuka kembali arsip Piala Dunia 2026 beberapa tahun dari sekarang, mereka akan menemukan bahwa Curacao pernah mencetak gol ke gawang Jerman dan Tanjung Verde pernah menahan imbang Spanyol.
Wibowo Prasetyo
Penulis adalah Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, penikmat sepak bola




Comments are closed.