Jakarta, Arina.id — Akademisi dan pengkaji filsafat, Fahrudin Faiz, mengajak masyarakat untuk melihat kembali makna semangat, kerja, dan pencapaian hidup. Menurutnya, kebahagiaan sejati tidak selalu terletak pada hasil akhir yang berhasil diraih, melainkan pada proses perjuangan dan kerja itu sendiri.
Dalam sebuah kajian, Fahrudin Faiz mengutip pandangan Alexander Agung yang menyebut bahwa orang yang penuh semangat sejatinya tidak memiliki tujuan lain dari pekerjaannya selain pekerjaan itu sendiri.
“Menurut saya, orang yang penuh semangat itu tidak memiliki tujuan yang lain selain kerja itu sendiri,” ujar Fahrudin Faiz saat menjelaskan pandangan tersebut dalam tayangan Channel Ngaji Filsafat diakses Sabtu (19/6/2026).
Ia menilai, seseorang yang memiliki semangat tinggi dalam mewujudkan sesuatu justru menemukan kebahagiaan dalam proses berjuang dan bekerja. Bahkan, kebahagiaan itu sering kali tidak terletak pada hasil yang dicapai.
Menurutnya, tidak sedikit orang yang justru mengalami kegelisahan setelah target yang selama ini diperjuangkan berhasil diraih. Ketika tujuan sudah tercapai, mereka mulai bertanya-tanya tentang langkah berikutnya dan merasa kehilangan arah.
“Kadang-kadang orang itu kalau hasilnya sudah terpenuhi, dia malah terus gelisah, terus bingung, ini terus ngapain lagi? Wong targetnya sudah tercapai. Justru saat berjuang, saat berusaha, itu dia merasa bergairah, bersemangat, bahagia,” katanya.
Fahrudin Faiz menjelaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan bahwa hakikat semangat sesungguhnya berada pada aktivitas bekerja dan berjuang itu sendiri. Proses itulah yang memberikan energi, gairah, sekaligus makna bagi kehidupan seseorang.
Ia kemudian mengaitkan gagasan tersebut dengan pemikiran filsafat eksistensial. Menurutnya, kerja bukan sekadar sarana untuk mencapai tujuan tertentu, melainkan cara manusia menegaskan keberadaannya.
“Kalau bahasanya filsafat, kerja itu eksistensial. Dengan kerja menunjukkan bahwa kita itu ada,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai pola pikir yang hanya berfokus pada hasil akhir atau jalan pintas untuk mencapai kesuksesan sering kali kurang memberikan kebahagiaan yang mendalam. Sebaliknya, kenikmatan hidup justru ditemukan dalam perjuangan yang dijalani setiap hari.
“Justru nikmatnya itu dalam perjuangan, dalam kerja,” katanya.
Untuk memperjelas pandangannya, Faiz memberikan ilustrasi yang dekat dengan pengalaman banyak anak muda. Ia mencontohkan seseorang yang sedang berusaha mendapatkan hati orang yang disukai.
Menurutnya, pada masa perjuangan itu seseorang biasanya dipenuhi semangat, gairah, dan harapan. Namun ketika perasaan tersebut sudah diungkapkan dan diterima, tantangan yang sebelumnya menjadi sumber energi perlahan berakhir.
“Kalau sedang naksir seseorang kemudian berjuang untuk mendapatkannya, itu kan hidup penuh gairah, penuh semangat. Tapi kalau sudah menyatakan ‘I love you’ dan dijawab ‘oke, aku juga’, tantangannya selesai. Kalau masih dalam fase perjuangan itu semangatnya masih meledak-ledak,” jelasnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa hakikat semangat dan kerja terletak pada aktivitas itu sendiri, bukan semata-mata pada pencapaian yang diperoleh setelahnya.
“Justru hakikat dari semangat dan kerja itu terletak pada kerja itu sendiri. Nikmatnya di situ,” ujar Fahrudin Faiz.
Ia juga mengajak para mahasiswa untuk melihat tugas dan berbagai tantangan akademik dari sudut pandang yang berbeda. Meski sering kali tugas kuliah terasa berat dan melelahkan, masa-masa tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari proses yang memberi makna dalam perjalanan hidup.
“Yang hari ini masih kuliah, jungkir balik menyelesaikan kuliah, mengerjakan tugas-tugas, dan kadang-kadang kita sampai sebel, ini kuliah kok isinya tugas terus. Tapi percayalah, itu lebih membahagiakan daripada nanti mungkin teman-teman lulus kemudian bingung mau ngapain lagi. Itu lebih menggelisahkan,” katanya.
Menurut Fahrudin Faiz, selama seseorang masih memiliki target yang ingin dicapai dan tujuan yang ingin diperjuangkan, ia akan tetap memiliki semangat untuk bergerak maju. Dalam kondisi seperti itulah kerja menjadi sesuatu yang membahagiakan.
“Sekarang masih ada target yang dituju, masih ada semangat mencapai sesuatu, dan kerja itu jadi membahagiakan karena kerja itu sendiri, bukan karena pencapaiannya,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa perspektif tersebut juga dapat digunakan untuk memahami sosok Alexander Agung yang terus melakukan ekspedisi dan penaklukan ke berbagai wilayah sepanjang hidupnya.
Menurutnya, kemungkinan besar yang membuat Alexander terus bergerak bukan semata-mata hasil penaklukan yang diperoleh, melainkan kenikmatan yang muncul dari proses perjuangan dan penaklukan itu sendiri.
“Makanya dia menaklukkan terus-menerus ke mana-mana. Yang menghentikannya kan sakit dan umur. Jadi penaklukan itu sendiri mungkin membahagiakan dia sehingga tidak ada habisnya ingin menaklukkan lagi, menaklukkan lagi,” katanya.
Ditambahkan bahwa dalam kehidupan duniawi, kerja dan usaha memang tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada tantangan baru, tujuan baru, dan ruang baru untuk berkarya.
Ia kemudian mengutip pesan Al-Qur’an yang mendorong manusia untuk terus bergerak setelah menyelesaikan suatu pekerjaan.
“Kalau bahasanya Al-Qur’an, fa idza faraghta fanshab. Karena kerja itu nikmat. Maka kalau sudah selesai satu kerja, rancanglah untuk kerja selanjutnya. Jangan berhenti,” tuturnya.




Comments are closed.