Bincangperempuan.com– “Orang ngiranya liar. Padahal aslinya, aku cuma singgah dari satu kota ke kota lain untuk urusan pekerjaan. Dan sekarang, malahan lagi sibuk-sibuknya di peran domestik,” ujar Ester Pandiangan, seorang penulis perempuan yang sering menyoroti isu seksualitas dan relasi.
Di tengah masyarakat yang masih menabukan perbincangan seputar seks apalagi jika yang bersuara adalah perempuan. Ester justru memilih untuk lantang meruntuhkan stigma tersebut melalui karya-karyanya.
Sejauh ini Ester sudah menerbitkan sederet buku yang provokatif sekaligus edukatif di antaranya: Akibat Menabukan Seks (2019), Sebab Kita Semua Gila Seks (2021), Maaf, Orgasme Bukan Hanya Urusan Kelamin (2022), Seks Kita Memang Perlu Dibantu (2024), Cinta dan Seks di Era Digital (2026). Di luar tema seksualitas, Ester juga membuktikan fleksibilitasnya dengan merekam realitas sosial kelas pekerja lewat Waktu Aku Dilayoff (2024) dan menyelami narasi fiksi lewat kumpulan cerpen terbarunya, Bau Tubuh Perempuan (2026).
Namun, dari mana sebenarnya keberanian dan kedalaman narasi ini berasal?
Tabungan di Lapangan
Ester lulus sebagai sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara, dan memulai karier kewartawanannya pada tahun 2008. Layaknya jurnalis pada umumnya, ritme kerja Ester dipenuhi dengan rotasi desk liputan yang dinamis.
“Dulu kerjanya pindah-pindah desk. Kadang isi desk ekonomi, kadang pendidikan. Pas di Harian Global, aku pegang publikasi straight news juga,” kenangnya. Namun, titik baliknya terjadi ketika ia ditugaskan memegang desk Keluarga dan Kesehatan. Di sinil ia bersinggungan langsung dengan isu kesehatan reproduksi, kesehatan mental, hingga problematika asmara dan relasi.
Ketika berpindah media, Ester kembali dipercaya memegang rubrik edukasi kesehatan reproduksi seksualitas. Pengalaman selama bertahun-tahun yang berkutat dengan data, narasumber, dan ragam kasus di lapangan ini akhirnya mengendap menjadi tabungan cerita dan perspektif. Bahkan Saat ia bertransisi menjadi content writer, kecintaannya pada isu seksualitas dan relasi terus berlanjut.
Baca juga: Orgasme Perempuan Itu Bukan Sekadar Urusan Kelamin
Relevansi di Tengah Realitas Kelas Pekerja
Lantas, mengapa mengeksplorasi tema seksualitas dan relasi ini menjadi begitu urgen bagi Ester? Baginya, menulis adalah proses untuk menakar kembali apa yang berkecamuk di dalam dada secara lebih objektif.
“Ketika menuliskan pengalaman, kita jadi lebih balance menilai perasaan kita sendiri waktu mengalami hal tersebut. Karena selama proses menulis, aku juga menggali sudut pandang orang lain. Kita kaitkan dengan lagu dan jurnal penelitian untuk cari tahu kenapa perasaan kita itu bisa ada,” jelas Ester.
Ester juga sangat peka terhadap realitas ekonomi yang menghimpit kelas pekerja saat ini. Ia sadar betul bahwa masyarakat sudah terlalu lelah dengan tuntutan hidup sehari-hari, sehingga edukasi seksual tidak boleh disampaikan dengan cara yang menggurui atau elitis.
“Isu-isu tentang itu kalau dibahas pakai bahasa penelitian tuh seringnya kurang lentur. Sementara kita sendiri sudah dipusingkan sama harga cabai yang naik, BBM naik, dan sebagainya. Makanya, isu seks dan relasi ini bagusnya dikemas dengan ringan dan relate, karena orang nggak suka baca yang berat-berat,” cetusnya.
Melalui pendekatan yang ini, Ester ingin tulisannya menjadi ruang aman yang fungsional bagi pembaca untuk mengurai kerumitan relasi mereka sendiri.
“Aku senang bisa berbagi melalui tulisan karena rasanya bisa membedah lapisan-lapisan pengalaman yang mungkin masih tabu dibicarakan sebagian orang. Kan ada tuh orang yang sebenarnya masih bingung membedakan mana yang keterikatan, perasaan, atau sekadar seks,”tegasnya.
Walau menulis hal-hal yang sangat intim dan personal, Ester memiliki batasan tegas agar tidak terjebak dalam jebakan oversharing. “Supaya tidak oversharing, aku menggali jurnal penelitian yang membahas hal yang aku tuliskan sebagai validasi. Kadang juga bahas film atau apa yang lagi ngetren. Jadi, walaupun berangkat dari pengalamanku, ini tetap relate dengan pengalaman orang lain,” jelasnya.

Tantangan Ketika Menulis Isu Seksualitas
Menjadi perempuan yang menulis tentang seks secara terbuka tentu mengundang banyak reaksi. Mulai dari pesan spam yang tidak relevan di media sosial hingga DM yang out of context, semuanya menjadi makanan sehari-hari yang kerap ia abaikan. Dinamika menarik justru datang dari lingkaran pertemanannya. Ada yang awalnya mewanti-wanti, “Eh, aku cerita aja ya, jangan kau masukkan ke tulisanmu,” tapi di akhir obrolan justru berubah pikiran, “Kalau ada yang mau kau masukkan, gapapa ya.”
Respons paling problematik justru datang dari pembaca laki-laki. Karena Ester sering menulis tentang pengalaman berelasi yang tidak menyenangkan—termasuk menguliti perilaku manipulatif dalam hubungan—tidak sedikit laki-laki yang merasa tersinggung karena “bercermin” pada tulisan tersebut.
“Kan aku juga menulis pengalaman berelasi. Ada yang protes dan tersinggung. Padahal, mereka, terutama laki-laki, sudah tahu aku menulis tentang seks dan relasi. Kalau sudah tahu, mengapa mendekatiku dengan niat tidak baik? Pasti aku akan menuangkan itu ke dalam tulisan,” tegas Ester.
Lebih parahnya lagi, masyarakat kerap memproyeksikan asumsi liar terhadap perempuan yang vokal soal seks. Ester kerap dikira memiliki gaya hidup seliar tulisannya. Misapnya diasumsikan sebagai pengguna narkoba atau penggemar dunia malam. Ester menanggapi ini dengan kepala dingin. Ia tidak menghakimi pilihan hidup bebas seseorang asalkan bertanggung jawab.
“Aku sih tidak menghakimi gaya hidup semacam itu, tapi sebenarnya gaya hidupku ya tidak seliar itu. Biasa-biasa saja lah,” katanya.
Ia juga menyayangkan bahwa banyak pembaca (mayoritas laki-laki) yang gagal menangkap esensi bukunya. Mereka menggunakan male gaze (tatapan laki-laki) untuk mengonsumsi karyanya, sehingga yang tertangkap hanyalah muatan seksual semata tanpa melihat kritik relasional di dalamnya.
Bahkan, absurditas respons laki-laki ini mencapai tahap di mana mereka datang untuk melakukan pembelaan diri. Ketika Ester menulis kritik tentang fuckboy, ada laki-laki yang secara khusus mendatanginya hanya untuk berkata, “Ester, aku seorang fuckboy, tapi nggak selalu jahat loh.” Ada pula laki-laki yang secara terang-terangan menunjukkan kekecewaan karena mendapati Ester ternyata tidak seliar yang mereka imajinasikan dari membaca bukunya.
Melihat fenomena ini, Ester malah membandingkannya dengan kelakuan beberapa oknum penulis laki-laki masa kini.
“Entahlah, aku melihat beberapa penulis laki-laki menulis isu progresif atau feminisme supaya bisa mendapatkan teman tidur,” ujar Ester terkekeh. Ia menyoroti fenomena laki-laki manipulatif yang menggunakan literatur progresif sebagai alat untuk memikat pembaca perempuan agar mau menjadi groupies mereka. Sedangkan dirinya tidak memiliki niat atau motif semacam itu.
Baca juga: Dekonstruksi Patriarki atau Stigma? Posisi Perempuan dalam Gowok
Distigma Liar, Padahal Nyatanya..
Stereotip masyarakat yang kerap melekatkan label liar atau bebas pada dirinya langsung patah ketika melihat realitas keseharian Ester. Jauh dari hingar-bingar dunia malam yang sering diasumsikan orang, hidupnya saat ini justru berputar pada pekerjaan nomaden dan tanggung jawab domestik.
“Padahal aslinya, aku cuma singgah dari satu kota ke kota lain untuk urusan pekerjaan. Dan sekarang, aku malah lagi sibuk-sibuknya di peran domestik, mengasuh anak-anak, ya keponakanku,” ungkap Ester.
Menjalani peran pengasuhan memberinya sudut pandang baru yang reflektif bagi dirinya mengenai beban berlapis yang dipikul perempuan. Ester mengakui secara terbuka bahwa urusan care work bukanlah perkara mudah, tetapi ada ruang belajar yang sangat intim di dalamnya.
“Menjalani peran perawatan itu ternyata berat banget, tapi di satu sisi aku juga senang dan belajar banyak setiap harinya, terutama saat melihat anak-anak tumbuh setiap hari,” tambahnya.
Pada akhirnya, Ester Pandiangan membuktikan bahwa bersuara soal seksualitas bukan berarti otomatis menjadi liar atau nakal. Lewat kesehariannya, ia mendobrak stigma patriarkis tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perempuan bisa bersuara sangat tajam soal relasi dan seksualitas.




Comments are closed.