Ciputat, Arina.id—Platform pembelajaran Massive Open Online Course (MOOC) PINTAR yang dikembangkan Kementerian Agama mencatat capaian signifikan pada semester pertama 2026. Sebanyak 511.746 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti pelatihan melalui platform tersebut.
Capaian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital mampu memperluas akses pembelajaran sekaligus memangkas birokrasi, menerapkan sistem tanpa kertas (paperless), dan menghemat anggaran hingga Rp2,9 triliun.
Selama enam bulan pertama 2026, peserta pelatihan mengikuti tiga metode pembelajaran, yakni Belajar Mandiri sebanyak 456.132 peserta, Belajar Bersama 34.611 peserta, dan Belajar Terbimbing 21.003 peserta.
Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) SDM Pendidikan dan Keagamaan Kementerian Agama, Mastuki, mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan platform PINTAR.
“Platform PINTAR makin diminati masyarakat. Partisipasi masyarakat semakin besar. Ini menggembirakan karena setiap tahun partisipasi ASN untuk mengembangkan diri semakin tinggi,” ujar Mastuki dalam keterangannya di Ciputat, Jumat (10/7).
Menurut Mastuki, PINTAR kini menjadi bagian penting dari upaya Kementerian Agama memperluas akses pembelajaran dan pengembangan kompetensi aparatur sipil negara (ASN) melalui pemanfaatan teknologi digital.
Ia menjelaskan, jumlah peserta pada semester pertama 2026 setara dengan penyelenggaraan 17.059 kelas pelatihan tatap muka. Karena seluruh proses dilakukan secara digital, Kementerian Agama juga berhasil menekan penggunaan kertas sehingga lebih ramah lingkungan.
“Ini adalah kontribusi nyata Kementerian Agama terhadap kelestarian lingkungan sekaligus implementasi Ekoteologi,” katanya.
Dari sisi kualitas pembelajaran, hasil evaluasi menunjukkan tingkat kepuasan peserta yang sangat tinggi. Sebanyak 99,57 persen peserta mengaku merasakan manfaat langsung dari pelatihan yang diikuti. Sementara itu, 99,54 persen peserta meyakini kompetensi yang diperoleh akan memberikan dampak positif bagi rekan kerja maupun kemajuan organisasi.
Mastuki menegaskan bahwa budaya belajar menjadi kunci peningkatan kualitas organisasi. Menurutnya, semakin banyak ASN yang mengembangkan kompetensinya, semakin baik pula kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat.
“Saya berharap PINTAR terus berkembang, menghadirkan inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman, serta terus menginspirasi seluruh ASN untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya.




Comments are closed.