Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Hijau Muda Baik Bikin Pelatihan Merekam Kekayaan Pangan Lokal

Hijau Muda Baik Bikin Pelatihan Merekam Kekayaan Pangan Lokal

hijau-muda-baik-bikin-pelatihan-merekam-kekayaan-pangan-lokal
Hijau Muda Baik Bikin Pelatihan Merekam Kekayaan Pangan Lokal
service

Organisasi Hijau Muda Baik (HMB) menyelenggarakan pelatihan peningkatan kapasitas anak muda bertema “Merekam Kekayaan Pangan Lokal untuk Keberlanjutan Masa Depan” pada Selasa, 14 Juli 2026. Kegiatan yang didukung Yayasan KEHATI ini bertempat di Budi Daya Honest Farm & More, Pisangan, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan.

Acara ini menghadirkan tiga narasumber ahli untuk membekali anak muda dari wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi dengan pengetahuan mendalam tentang isu pangan nusantara dan keanekaragaman hayati.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terkini dari Susenas Modul Konsumsi, pola konsumsi pangan nasional masih didominasi beras. Pada Maret 2025 tercatat pengeluaran konsumsi penduduk masih terus bergantung pada beras sebagai pangan pokok utama. Sementara konsumsi pangan lokal seperti umbi-umbian, jagung, dan sagu, cenderung menurun di banyak wilayah Indonesia.

Hal ini menjadi urgensi dibutuhkannya pelatihan-pelatihan yang mampu mengkampanyekan serta mendorong diversifikasi pangan sesuai potensi dan budaya di wilayah masing-masing. Sehingga tidak hanya bergantung pada beras atau gandum sebagai pokok utama.

Puji Sumedi, Manajer Program Ekosistem Pertanian Yayasan KEHATI menjelaskan Indonesia merupakan mega-biodiversity country yang memiliki ribuan spesies tanaman pangan, buah, sayur, dan rempah. Ini bisa menjadi modal penting untuk berdaulat pangan menuju Indonesia Emas 2045.

Sayangnya, kata dia, pangan lokal yang sebenarnya kaya nutrisi dan gizi seperti umbi-umbian, sagu tidak mampu dijaga masyarakatnya karena sering dianggap kuno dan norak jika mengkonsumsinya. “Hal ini dipengaruhi faktor budaya dari luar yang mendoktrin produk-produk makanan ‘junkfood’ dan ‘fastfood’ lebih baik dengan harga yang justru lebih mahal daripada makanan dari pangan lokal,” katanya.

Ahmad Arif, Co-founder Nusantara Food Biodiversity, menyatakan Data Pangan Nusantara menyoroti pergeseran pola konsumsi masyarakat Indonesia yang makin homogen ke beras dan terigu. Ini menyebabkan ketergantungan terhadap impor gandum.

Ia menekankan pentingnya kembali ke pangan lokal yang sebenarnya lebih murah, segar, dan bernutrisi. “Selain itu, dapat menciptakan kemandirian pangan Indonesia sampai ke daerah-daerah, ucap dia.

Rama Tantra, Ketua Hijau Muda Baik menyatakan dari materi-materi yang dipaparkan narasumber ini membuka mata kita bahwa pangan lokal bukan hanya soal makanan. Tapi juga identitas budaya, kesehatan, dan kemandirian bangsa.

“Maka penting sekali informasi ini disebarluaskan ke publik agar bangga dengan pangan lokal kita di daerah masing-masing dan tidak mudah terpengaruh terhadap budaya atau makanan dari luar Indonesia,” kata dia.

Selain sesi pemaparan materi dan diskusi, pelatihan ini juga belajar langsung di kebun sederhana milik Max Gelinek perihal praktik baik “Budidaya Pangan dan Ekosistem Lingkungan” yang dia lakukan. Max menjelaskan langsung bagaimana sistem perkebunan hingga proses menghasilkan produk bernilai tinggi dari hasil kebunnya.

“Selain itu juga menjelaskan praktik budi daya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujarnya.

Thoriq, peserta dari Depok, menyampaikan, dari pelatihan ini ia jadi belajar bahwa Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat beragam dan perlu dijaga, serta didokumentasikan sebagai bagian dari keanekaragaman hayati.

Ia berharap agar pelatihan seperti ini dapat dilakukan di daerah lain, sekaligus praktiknya. “Sehingga banyak generasi muda yang peduli terhadap pangan lokal serta bisa berkontribusi dalam pelestarian, promosi, dan pemanfaatannya sebagai bagian dari ketahanan pangan Indonesia,” kata dia.

Seri akhir pelatihan ini adalah mempelajari cara menggunakan platform Nusantara Food Biodiversity untuk mendokumentasikan, berbagi informasi, dan mendukung pelestarian pangan lokal melalui pemanfaatan teknologi.

Sedikitnya, ada 16 peserta dalam pelatihan ini. Mereka antusias mengikuti setiap paparan dan diskusi interaktif sejak awal hingga akhir. Pelatihan ini diharapkan bisa membangun kesadaran dan kemampuan generasi muda dalam mendokumentasikan serta mempromosikan kekayaan pangan lokal Indonesia sebagai bagian dari upaya ketahanan dan kedaulatan pangan berkelanjutan, dan pelestarian biodiversitas.

Rama mengajak peserta pelatihan mulai berkomitmen terhadap diri masing-masing untuk bisa menjadi pahlawan pangan nusantara atau Heroes Nusantara Food. “Ini untuk kedaulatan pangan di masa depan.” tutur dia.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.