Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Argentina dan Sesat Sepak Bola (3): Sesatnya Pemirsa Saat Nobar Bahas Muktamar

Argentina dan Sesat Sepak Bola (3): Sesatnya Pemirsa Saat Nobar Bahas Muktamar

argentina-dan-sesat-sepak-bola-(3):-sesatnya-pemirsa-saat-nobar-bahas-muktamar
Argentina dan Sesat Sepak Bola (3): Sesatnya Pemirsa Saat Nobar Bahas Muktamar
service

Prancis akan menghadapi Inggris dalam perebutan posisi ketiga Piala Dunia 2026. Argentina tidak ikut bermain. Argentina sudah masuk final. Namun, tulisan ini tetap memakai judul Argentina dan Sesat Sepak Bola. Di sinilah kesesatan pertama dimulai.

Penulis sadar Argentina tidak ada hubungannya dengan pertandingan Prancis melawan Inggris. Akan tetapi, nama Argentina lebih menjual. Ada Messi di sana. Ada pendukung fanatik. Ada pembaca yang mudah terpancing. Argentina dipasang di judul agar orang membuka tulisan.

Penulis akhirnya melakukan hal yang sering ia kritik. Memakai nama besar untuk menarik perhatian, lalu membicarakan hal lain. Bedanya, penulis mengaku sejak awal. Pengakuan tidak menghapus kesalahan. Paling tidak, VAR belum perlu turun tangan.

Pertandingan Posisi Tiga yang Tidak Ditonton

Acara nobar perebutan posisi ketiga biasanya tidak seramai final. Kedua tim baru saja kalah. Para pemain masih kecewa. Pendukungnya juga belum sepenuhnya pulih. Prancis kalah dari Spanyol. Inggris disingkirkan Argentina secara dramatis. Keduanya kemudian dipertemukan untuk menentukan siapa yang paling baik di antara dua tim yang gagal masuk final.

Pertandingan belum dimulai, tetapi kursi sudah ditata. Kopi disediakan. Pisang goreng datang. Layar dibesarkan. Suara komentator dinaikkan. Lima menit pertama, semua masih memperhatikan bola. Menit keenam, seseorang mulai bertanya.

Menurut sampean, siapa yang paling kuat di Muktamar nanti?

Sejak saat itu, Prancis dan Inggris tinggal menjadi gambar bergerak di dinding.

Kylian Mbappé berlari di sisi kiri. Tidak ada yang melihat. Harry Kane melepaskan tembakan. Tidak ada yang bertepuk tangan. Wasit meniup peluit. Orang-orang justru sibuk membuka peta dukungan PWNU dan PCNU. Nobar berubah menjadi forum analisis Muktamar.

Orang datang memakai kaus Argentina, tetapi membicarakan calon Ketua Umum PBNU. Ada yang memegang syal Inggris sambil menghitung kekuatan wilayah. Ada yang mendukung Prancis, tetapi lebih hafal nama anggota AHWA daripada susunan pemain Didier Deschamps. Bola tetap bergerak.

Pembicaraan sudah pindah ke Jombang, Jakarta, Surabaya, Tebuireng, Tambakberas, Lirboyo, dan sejumlah pesantren yang dianggap memiliki pengaruh. Pertandingan belum menghasilkan gol. Pemirsa sudah menghasilkan tiga ketua umum, dua rais ‘aam, empat koalisi, dan tujuh kabar yang sumbernya hanya disebut “orang dalam”.

Semua Menjadi Pengamat

Nobar membuat semua orang merasa menjadi pelatih. Pemain terlambat memberikan umpan, langsung dimarahi. Pelatih mengganti pemain, dianggap keliru. Wasit tidak memberi kartu, dituduh tidak memahami aturan. VAR terlalu lama memeriksa, FIFA dicurigai.

Saat pembicaraan beralih ke Muktamar, keahlian mereka ikut berpindah. Semua tiba-tiba memahami Qanun Asasi. Semua mengetahui maksud para muassis. Semua mengaku memiliki jalur langsung kepada kiai sepuh. Semua dapat menjelaskan siapa yang direstui, siapa yang sekadar meramaikan, dan siapa yang akan mundur pada menit terakhir.

Tidak ada yang membawa dokumen. Tidak ada yang membuka AD/ART. Tidak ada yang memeriksa keputusan organisasi. Namun, analisisnya sangat mantap.

Dalam sepak bola, pemirsa seperti ini disebut komentator dadakan. Dalam Muktamar, mereka sering diperkenalkan sebagai sumber terpercaya. Kalimatnya hampir selalu sama. “Ini informasi terbatas.”

Anehnya, informasi terbatas itu sudah beredar di dua puluh grup WhatsApp.

Di lapangan, posisi pemain dapat diperiksa melalui rekaman. Dalam pembicaraan Muktamar, posisi seseorang ditentukan berdasarkan foto terakhirnya. Jika seorang kiai berfoto bersama kandidat A, ia dianggap mendukung kandidat A. Jika keesokan harinya menerima kandidat B, dukungannya dinilai berpindah.

Jika menerima semua kandidat, para analis kebingungan. Mereka belum memahami bahwa seorang kiai dapat menerima tamu tanpa menyerahkan pilihan politik. Dalam budaya fanatik, silaturahmi tidak boleh sekadar silaturahmi. Ia harus menjadi deklarasi.

Mencari Messi untuk PBNU

Pendukung sepak bola menyukai pemain yang dapat menyelesaikan pertandingan sendirian. Ia menggiring bola, melewati lawan, mencetak gol, lalu dielu-elukan. Cara berpikir itu ikut dibawa ke dalam Muktamar.

Sebagian orang mencari calon Ketua Umum PBNU seperti mencari pemain terbaik dunia. Harus terkenal. Harus memiliki jaringan luas. Harus dekat dengan pemerintah. Harus diterima pesantren. Harus kuat di media. Harus mampu meredakan konflik. Harus memahami organisasi. Harus memiliki nasab. Harus punya gagasan. Harus mudah ditemui. Harus pandai berbicara. Harus memiliki pendanaan.

Semua syarat dimasukkan kepada satu orang. NU seolah sedang mencari Messi.

Masalahnya, PBNU bukan klub sepak bola. Ketua umum juga tidak bekerja sendirian. Ia tidak dapat menggiring seluruh keputusan dari kantor PBNU sampai ke ranting. Ia membutuhkan rais aam, syuriyah, tanfidziyah, lembaga, badan otonom, wilayah, cabang, majelis wakil cabang, ranting, pesantren, dan jutaan warga.

Pemimpin yang terlalu gemar menggiring sendirian justru dapat kehilangan bola. NU tidak membutuhkan manusia yang dipuja sebagai penyelamat tunggal. NU membutuhkan kepemimpinan yang membuat struktur bekerja, musyawarah hidup, keputusan dipatuhi, dan perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

Namun, kalimat seperti itu kurang menarik dalam nobar. Lebih seru membandingkan elektabilitas. Lebih ramai membicarakan siapa didukung siapa. Lebih menegangkan menghitung suara daripada membaca gagasan. Program dianggap terlalu panjang. Rumor dianggap lebih mudah dikunyah.

VAR untuk Lawan, Kebebasan untuk Kawan

Dalam menonton sepak bola, fanatisme memiliki aturan sederhana. Ketika lawan melakukan pelanggaran, rekaman harus diputar dari semua sudut. Gerakan kaki diperbesar. Kontak diperiksa. Niat pemain dianalisis. VAR harus bekerja. Ketika pemain sendiri melakukan pelanggaran, pertandingan diminta segera dilanjutkan.

Sikap serupa muncul menjelang Muktamar. Kesalahan kelompok lain harus diperiksa sampai ke tanda tangan, tanggal surat, dasar kewenangan, sumber anggaran, dan prosedur rapat. Kesalahan kelompok sendiri cukup dijelaskan dengan kalimat, “Itu bagian dari dinamika.”

Pertemuan lawan disebut konsolidasi kekuasaan. Pertemuan kawan disebut silaturahmi. Pernyataan lawan disebut kampanye. Pernyataan kawan disebut aspirasi warga. Dukungan kepada lawan dianggap transaksional. Dukungan kepada kawan disebut panggilan moral.

Semua meminta aturan ditegakkan. Syaratnya, aturan tersebut tidak mengganggu calon yang didukung. Inilah sesat Muktamar yang dibawa ke meja nobar. Ukuran berubah mengikuti warna seragam.

Dalam sepak bola, perilaku itu masih dapat ditertawakan. Dalam organisasi keagamaan, akibatnya lebih panjang. Pertandingan selesai dalam sembilan puluh menit. Luka organisasi dapat dibawa sampai bertahun-tahun.

Transfer Pemain dan Transfer Dukungan

Bursa dukungan menjelang Muktamar kadang lebih cepat daripada bursa transfer pemain. Hari ini sebuah wilayah diklaim mendukung satu nama. Besok muncul foto bersama nama lain. Lusa beredar surat yang belum tentu sah. Malamnya muncul klarifikasi. Paginya klarifikasi tersebut diklarifikasi kembali.

Pendukung kemudian bekerja seperti agen pemain. Mereka menjual keunggulan calonnya. Calon kami paling dekat dengan pesantren. Calon kami paling diterima pemerintah. Calon kami paling memahami Qanun Asasi. Calon kami paling kuat di wilayah. Calon kami paling mampu mendamaikan konflik. Calon kami sebenarnya tidak mencalonkan diri. Hanya didorong umat.

Kalimat terakhir biasanya disampaikan setelah baliho, tulisan dukungan, video testimoni, tim komunikasi, dan agenda kunjungan sudah tersebar. Di sepak bola, pemain yang pindah klub menandatangani kontrak. Dalam politik organisasi, orang yang berpindah dukungan cukup menghapus pesan lama.

Tidak ada yang benar-benar salah dengan dukungan. Muktamar memang memiliki proses pemilihan. Para pengurus berhak menilai dan menentukan sikap. Masalah muncul ketika dukungan menutup penilaian. Nama didahulukan. Gagasan dicari kemudian. Pilihan dibuat lebih dulu. Alasan disusun belakangan.

Setelah seseorang menentukan calon, semua informasi dipakai untuk membenarkan pilihan tersebut. Berita baik dibagikan. Kritik disembunyikan. Kelemahan calon disebut fitnah. Kelemahan lawan disebut fakta yang harus diketahui umat.

Fanatisme bekerja rapi. Ia dapat memakai peci, sarung, jas, atau kaus Argentina.

Perebutan Posisi Tiga

Laga Prancis melawan Inggris disebut pertandingan perebutan posisi ketiga. Sebagian orang menganggapnya tidak penting. Kedua tim telah gagal mencapai final. Para pemain kelelahan. Pendukung masih kecewa. FIFA tetap menggelarnya.

Masih ada medali. Masih ada hadiah. Masih ada hak siar. Masih ada tiket yang dapat dijual. Masih ada satu malam yang dapat dimasukkan ke dalam jadwal komersial.

Di arena Muktamar, posisi tiga tidak tersedia. Hanya ada satu ketua umum terpilih. Nama lain akan kembali ke pesantren, organisasi, kampus, pemerintahan, atau tugas masing-masing.

Namun, cara sebagian orang berkampanye membuat seolah-olah tidak terpilih adalah akhir dari pengabdian. Padahal, khidmah tidak dimulai dari jabatan. Khidmah juga tidak selesai karena kalah dalam pemilihan.

Seseorang dapat gagal menjadi ketua umum dan tetap menjadi kiai yang dihormati. Ia dapat tetap mengajar, mengasuh pesantren, membina kader, menulis, berdakwah, dan melayani umat. Jabatan hanya salah satu tempat bekerja.

Masalahnya, para pendukung sering lebih sulit menerima kekalahan daripada calon yang didukungnya. Calon sudah bersalaman. Pendukungnya masih bertengkar di grup WhatsApp. Calon sudah duduk bersama. Pendukungnya masih menyebarkan potongan video lama. Calon sudah mengucapkan selamat. Pendukungnya masih meminta penghitungan ulang atas percakapan yang tidak pernah menjadi suara resmi.

Dalam sepak bola, pertandingan perebutan posisi tiga memberi kesempatan kepada tim untuk menutup turnamen dengan baik. Muktamar juga seharusnya memberi NU kesempatan menutup kegaduhan dengan baik. Bukan membuka babak tambahan.

Kesesatan Penulis

Penulis perlu kembali kepada kesalahannya sendiri. Artikel ini membahas Prancis, Inggris, nobar, dan Muktamar NU. Namun, Argentina tetap dipasang sebagai judul utama. Mengapa? Karena penulis sudah terlanjur membuat seri. Karena nama Argentina mudah menarik perhatian. Karena Messi lebih laku daripada pertandingan posisi tiga. Karena mengkritik kesesatan orang lain ternyata dapat menjadi cara memperoleh pembaca.

Penulis mengejek orang yang memakai nama besar untuk kepentingan sendiri. Pada saat yang sama, penulis menempelkan Argentina pada tulisan yang sebagian besar membicarakan PBNU. Ini bukan lagi sesat sepak bola. Ini sesat judul.

Mungkin begitulah fanatisme bekerja. Orang dapat melihat kesalahan orang lain dengan jelas, tetapi memberi nama yang lebih sopan untuk kesalahannya sendiri. Pendukung menyebutnya loyalitas. Tim sukses menyebutnya konsolidasi. Pengamat menyebutnya analisis. Penulis menyebutnya strategi judul. Bandar menyebutnya peluang pasar. Semuanya memiliki istilah yang membuat kepentingan terlihat terhormat.

***

Nobar seharusnya menjadi ruang bergembira. Orang berkumpul, minum kopi, menonton pertandingan, lalu pulang tanpa membawa permusuhan. Membicarakan Muktamar dalam nobar juga tidak salah. NU hidup dalam percakapan warganya. Warung kopi, teras pesantren, ruang tamu, dan grup WhatsApp sering menjadi tempat gagasan bergerak. Yang perlu dijaga adalah ukuran.

Calon pemimpin tidak boleh diperlakukan seperti tim kesayangan yang harus dibela dalam semua keadaan. Kritik bukan kartu merah. Perbedaan pilihan bukan pelanggaran. Menerima calon lain bukan pengkhianatan. Muktamar bukan final antara pihak suci melawan pihak sesat.

Semua kandidat memiliki kelebihan. Semua memiliki keterbatasan. Semua perlu dinilai melalui rekam jejak, kapasitas, gagasan, keteguhan moral, kemampuan bekerja sama, serta kesediaan tunduk kepada aturan jam’iyah.

NU tidak membutuhkan pendukung yang paling berisik. NU membutuhkan keputusan yang dapat diterima dengan lapang. Pada laga perebutan posisi tiga, Prancis atau Inggris akan pulang membawa peringkat ketiga. Tim yang kalah akan menjadi peringkat keempat.

Dalam Muktamar, ukuran kemenangan tidak berhenti pada siapa yang memperoleh suara terbanyak. Jika setelah Muktamar NU menjadi lebih tenang, struktur bekerja, kiai dihormati, aturan ditegakkan, dan khidmah kembali menjadi pusat perhatian, semua dapat merasa menang.

Jika kegaduhan berlanjut, siapa pun yang terpilih hanya memenangkan pemungutan suara. NU tetap menanggung kekalahan. Adapun penulis tetap bersalah karena memakai Argentina dalam judul tulisan tentang Prancis, Inggris, dan Muktamar NU.

Penulis menerima keputusan tersebut. Tidak perlu menunggu pemeriksaan VAR.

Puji Raharjo, Penikmat Sepak Bola 


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Puji Raharjo Soekarno
Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.