Titimangsa 9 Juli 2006, Zinedine Zidane berjalan melewati trofi Piala Dunia di Berlin, Jerman. Ia tidak menyentuhnya. Ia tidak mengangkatnya. Ia tidak menutup kariernya dengan pidato kemenangan. Ia meninggalkan lapangan setelah menanduk dada Marco Materazzi. Kamera menangkap gerak itu, lalu dunia mengulangnya sampai peristiwa itu berubah menjadi arsip moral.
Sebelum tandukan itu, Zidane nyaris menulis akhir nan rapi. Ia sudah membawa Prancis ke final Piala Dunia 2006. Ia mencetak gol dalam turnamen itu. Ia mencetak penalti di final. Ia meraih Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen. Ia berdiri di ambang akhir karier yang hampir paripurna. Lalu ia menundukkan kepala, berjalan ke arah Materazzi, dan menghantam dada bek Italia itu. Daniel Haxall mencatat bahwa 715 juta penonton menyaksikan pertandingan itu secara langsung, tetapi banyak orang, termasuk Jean-Philippe Toussaint yang berada di stadion, justru tidak melihat tandukan itu saat terjadi. Mereka mengenalnya lewat tayangan ulang (Haxall, 2017, hlm. 33-34).
Di situlah ironi modern bekerja. Sebuah tindakan yang luput dari pandangan langsung menjadi gambar paling kuat dari pertandingan itu. Media lalu mengambil alih ingatan. Zidane tidak lagi hadir sebagai gelandang yang mengatur tempo. Ia hadir sebagai kepala yang menghantam dada lawan. Republik Prancis ikut terseret ke dalam gambar itu, sebab tubuh Zidane sejak lama tidak pernah dianggap hanya tubuh atlet. Ia membawa sejarah imigrasi, luka kolonial, kebanggaan nasional, dan kegelisahan rasial yang belum selesai.
Anak La Castellane
Zidane lahir di Marseille tahun 1972 dari keluarga imigran Kabyle, Aljazair. Ia tumbuh di La Castellane, sebuah banlieue yang sering disebut dalam berita karena kepapaan dan kriminalitas. Ia masuk akademi Cannes, debut profesional pada usia 17 tahun, lalu bermain untuk Bordeaux. Dari sana ia bergeser ke Juventus, memenangi Serie A dua kali, dan menjadi salah satu pemain asing terbaik di Italia (Haxall, 2017, hlm. 32).
Biografi semacam ini mudah disemenjanakan. Media suka kisah anak pinggiran yang menaklukkan pusat. Negara juga suka kisah itu karena ia memberi bukti bahwa sistem bekerja. Zidane tampak menyediakan jawaban yang manis untuk Prancis. Anak imigran bisa menjadi simbol republik. Anak banlieue bisa menjadi wajah nasional. Anak keluarga Aljazair bisa membawa Les Bleus ke puncak dunia.
Akan tetapi Prancis tidak pernah membaca Zidane secara polos. Ia lahir dari hubungan kolonial nan panjang. Aljazair pernah menjadi bagian dari sejarah kekuasaan Prancis. Migrasi keluarga Zidane masuk ke dalam arus besar pascakolonial, ketika warga dari bekas koloni datang ke kota-kota Prancis dan menempati posisi rumit dalam republik. Mereka bekerja, membayar pajak, berwicara bahasa Prancis, dan memegang paspor Prancis. Walakin sebagian publik tetap menatap mereka sebagai orang luar.
Zidane menjadi besar di celah itu. Ia tidak banyak berbicara politik. Ia memainkan bola dengan kepala dingin. Ia membawa Prancis menang. Justru karena itu, banyak orang merasa nyaman memujanya. Mereka dapat melihatnya sebagai bukti integrasi tanpa perlu membahas diskriminasi. Mereka dapat merayakan namanya tanpa perlu menyentuh riwayat kolonial Prancis di Aljazair.
Prancis Hitam, Putih, Arab
Piala Dunia 1998 mengubah Zidane menjadi simbol nasional. Prancis menjadi tuan rumah. Tim nasionalnya berisi pemain dari berbagai latar keturunan. Media lalu mengubah julukan Les Bleus menjadi black, blanc, beur. Hitam, putih, Arab. Ungkapan itu memperbarui warna bendera dalam bahasa sosial. Prancis tampil sebagai republik multikultural yang menang di lapangan dan ingin menang dalam imajinasi publik (Haxall, 2017, hlm. 32).
Zidane mencetak dua gol dalam final melawan Brasil. Prancis menang. Paris merayakan. Wajah Zidane muncul sebagai wajah republik baru. Ia menjadi tokoh paling terkenal di Prancis. Geoff Hare menyebutnya simbol Prancis multikultural yang tampak nyaman dengan dirinya sendiri. Laurent Dubois menulis bahwa sejak 1998, pertanyaan tentang siapa Zidane menjadi cara untuk bertanya tentang apa itu Prancis (Haxall, 2017, hlm. 32-33).
Kalimat itu penting. Zidane bukan hanya pemain. Ia menjadi tolok ukur nasional. Jika Zidane diterima, Prancis dapat menyebut dirinya terbuka. Jika Zidane dicurigai, retorika republik kehilangan daya. Lapangan hijau berubah menjadi ruang ujian kewargaan.
Jean-Marie Le Pen, pemimpin Front Nasional, tidak menerima komposisi tim itu. Ia menyebut tim Prancis “artificial” karena berisi anak-anak imigran (Haxall, 2017, hlm. 32). Kritik itu membuka luka yang terus kembali. Siapa yang boleh mewakili bangsa? Apakah darah lebih penting daripada paspor? Apakah gol untuk negara cukup untuk menghapus asal keluarga?
Jawaban 1998 terlihat jelas di papan skor. Akan tetapi politik jarang tunduk kepada papan skor. Kemenangan menunda konflik. Ia tidak menghapusnya.
Pahlawan yang Harus Selalu Tenang
Zidane membawa beban yang sering menimpa minoritas sukses. Ia harus menang, bersikap sopan, dan menenangkan mayoritas. Ia boleh menjadi simbol selama ia tidak mengganggu cerita yang telah disiapkan untuknya. Ia boleh menjadi anak imigran teladan selama ia tidak merampang.
Haxall mencatat bahwa Zidane pernah dirayakan sebagai diplomat, Muslim yang baik, dan inspirasi bagi banyak orang. Warisan Aljazairnya membuat ia tampil sebagai simbol Prancis yang terintegrasi secara rasial. Namun final 2006 mengubah pembacaan itu. Pemain yang selama ini memukau dunia lewat tekniknya kemudian dikenang melalui tindak kekerasan (Haxall, 2017, hlm. 31).
Masalahnya bukan hanya kartu merah. Banyak pemain besar pernah kehilangan kendali. Zidane sendiri memiliki riwayat 14 kartu merah sepanjang karier dan pernah menerima larangan lima pertandingan karena menanduk pemain lain (Haxall, 2017, hlm. 32). Namun tandukan 2006 mendapat beban tambahan karena Zidane bukan pemain biasa. Ia telah ditempatkan sebagai lambang keberhasilan Prancis mengelola keberagaman.
Tatkala simbol seperti itu retak, publik tidak hanya membahas pelanggaran. Publik membahas asal-usul. Publik bertanya tentang banlieue. Publik menyebut Arab, Muslim, Aljazair, kehormatan keluarga, maskulinitas, dan kemarahan. Banyak tafsir muncul seakan-akan satu kepala di Berlin dapat menjelaskan semua kecemasan Prancis tentang imigrasi.
Inilah standar ganda yang jarang diakui. Ketika Zidane mencetak gol, ia menjadi Prancis. Ketika ia menanduk, sebagian orang menariknya kembali ke Aljazair, banlieue, Islam, dan stereotip lama tentang laki-laki Arab.
Tandukan dan Mesin Tafsir
Sesudah final 2006, media berlomba mencari penyebab. Materazzi dianggap mengucapkan sesuatu yang menghina. Pelbagai versi beredar. Ada yang menyebut hinaan terhadap ibu. Ada yang menyebut terorisme. Ada yang menyebut keluarga. Sebagian surat kabar bahkan memakai pembaca gerak bibir untuk menebak kalimat yang tidak terdengar jelas.
Haxall meneroka bahwa banyak sarjana dan penulis membaca tandukan itu lewat filsafat, sastra, dan sejarah identitas. Roger Cohen membandingkan momen itu dengan kompleksitas sebuah novel. Ahmer Nadeem Anwer membaca Zidane melalui alur kejatuhan pahlawan, penilaian moral, kegilaan romantik, dan figur “Other”. Nacira Guénif-Souilamas melihat Zidane sebagai tubuh yang menampung banyak simbol sekaligus, mulai dari republik Prancis, warisan kolonial, stereotip ekstremisme Islam, tubuh Arab, hingga figur Kabyle yang jinak (Haxall, 2017, hlm. 34-35).
Tafsir seperti itu menggoda karena memberi kedalaman pada peristiwa pendek. Walakin tafsir juga bisa berbahaya. Ia dapat mengubah satu tindakan kasar menjadi bukti palsu tentang kelompok sosial. Ia dapat membuat publik lupa bahwa dua pemain profesional sedang bertikai dalam pertandingan panas. Ia juga dapat mengubah kemarahan personal menjadi dakwaan kolektif.
Haig Aivazian menangkap masalah ini lewat film How Great You Are, O Son of the Desert! Film itu menghubungkan spekulasi ucapan Materazzi dengan isu imigrasi, profil rasial, kerusuhan banlieue, dan stereotip Arab Muslim. Haxall menulis bahwa Aivazian justru menunjukkan logika media yang cacat. Kerusuhan Paris tidak berkaitan dengan tandukan Zidane. Tindakan itu tidak otomatis menjadi teroristik atau antikolonial. Media membesar-besarkan satu kartu merah melalui kecemasan tentang imigrasi (Haxall, 2017, hlm. 42-43).
Pembacaan ini memberi pelajaran penting. Publik perlu membedakan konteks dan prasangka. Konteks membantu kita memahami mengapa tubuh Zidane memikul makna besar. Prasangka membuat kita menganggap asal-usul seseorang sebagai sebab langsung dari tindakannya.
Republik yang Ingin Bukti
Prancis sering berwicara tentang kewargaan universal. Republik ini mengklaim bahwa warga negara berdiri setara di hadapan hukum. Identitas agama dan etnis masuk ke ruang privat. Ruang publik meminta warga tampil sebagai warga Prancis.
Dalam teori, gagasan itu terdengar bersih. Dalam kehidupan sehari-hari, gagasan itu sering timpang. Nama, warna kulit, alamat banlieue, dan asal keluarga tetap bekerja sebagai penanda sosial. Zidane mengalami hal itu dalam bentuk paling terkenal. Ia diterima ketika memberi kebanggaan. Ia dibaca ulang ketika memberi rasa malu.
Piala Dunia 1998 memberi republik bukti yang diinginkan. Tim nasional yang beragam menang. Orang-orang turun ke jalan. Slogan black, blanc, beur memberi Prancis bahasa anyar untuk merayakan dirinya. Namun slogan tidak cukup untuk memperbaiki sekolah, pekerjaan, perumahan, dan relasi polisi dengan anak muda banlieue. Ia menyenangkan sebagai poster. Ia rapuh sebagai kebijakan.
Maka tandukan 2006 membelah cerita itu.
Sebagian publik melihatnya sebagai kegagalan pribadi Zidane. Sebagian lain melihatnya sebagai retakan dalam mitos integrasi. Masalah muncul tatkala orang memakai retakan itu untuk menghakimi komunitas yang lebih luas. Di situlah republik gagal membaca warganya sendiri. Ia menuntut minoritas menjadi bukti keberhasilan nasional, lalu cepat menjadikan mereka tanda bahaya ketika mereka salah.
Pelajaran praktisnya jelas. Negara tidak boleh menggantungkan keberhasilan integrasi pada pahlawan olahraga. Satu atlet dapat menginspirasi. Satu gol dapat menyatukan emosi. Namun kebijakan publik tetap membutuhkan pekerjaan yang konkret. Sekolah yang adil. Lapangan kerja yang terbuka. Media yang tidak menanam stereotip. Polisi yang tidak menjadikan alamat dan wajah sebagai alasan menaruh syak.
Tubuh yang Dijual, Kepala yang Diadili
Zidane juga hidup dalam industri sepak bola yang mengubah tubuh menjadi nilai pasar. Setelah sukses di Juventus, ia pindah ke Real Madrid dengan biaya 64 juta dolar, transfer termahal pada masanya. Ia langsung memberi dampak dengan mencetak voli penentu kemenangan Real Madrid di Liga Champions (Haxall, 2017, hlm. 33).
Angka itu penting karena menunjukkan cara sepak bola modern memperlakukan pemain. Tubuh Zidane menjadi aset. Kaki, visi, keseimbangan, dan reputasinya masuk ke neraca klub. Seni kontemporer menangkap hal ihwal ini. Rodolfo de Florencia, misalnya, melukis kaki Zidane dan mencantumkan nilai transfer 64 juta dolar. Menurut Haxall, karya itu memperlihatkan bagaimana atlet berubah menjadi ciri fisik dan nilai uang (Haxall, 2017, hlm. 35-36).
Industri memuja Zidane saat ia menghasilkan kemenangan, sponsor, penjualan kostum, dan siaran televisi. Industri yang sama mengadili Zidane ketika ia merusak narasi. Di satu sisi, publik menikmati tekniknya. Di sisi liyan, publik meminta keteladanan sempurna. Keduanya lahir dari logika yang sama, yaitu logika konsumsi.
Kita membeli pemain sebagai hiburan. Lalu kita meminta mereka menjadi guru moral. Kita lupa bahwa tekanan, provokasi, kelelahan, dan ego bekerja dalam tubuh manusia. Zidane tidak bebas dari tanggung jawab. Ia salah. Ia layak mendapat kartu merah. Namun cara publik mengubah kesalahan itu menjadi pengadilan identitas menunjukkan masalah yang lebih besar daripada pelanggaran di lapangan.
Gambar yang Menang atas Ingatan
Sepak bola modern hidup melalui kamera. Elsey menulis bahwa sepak bola merupakan praktik budaya global yang membuka jalan untuk memahami kondisi manusia. Kajian sepak bola bergerak melintasi sejarah, seni, politik, filsafat, gender, etnisitas, dan media (Elsey, 2017, hlm. 1). Zidane memberi contoh paling jelas. Ia tidak hanya bermain. Ia diproduksi sebagai gambar.
Final 2006 memperlihatkan kuasa gambar itu. Banyak orang tidak melihat tandukan secara langsung. Mereka melihatnya lewat tayangan ulang. Tindakan itu hadir sebagai potongan video. Gerak tubuh Zidane keluar dari alur pertandingan, lalu berdiri sendiri sebagai simbol. Gambar itu mengalahkan umpan, kontrol bola, penalti Panenka, dan seluruh kariernya.
Haxall mencatat bahwa seniman kontemporer terus mengolah Zidane sebagai subjek. Mereka membaca ketenaran, publisitas, gender, tubuh atlet, komodifikasi, politik olahraga, imigrasi, dan kolonisasi melalui figurnya (Haxall, 2017, hlm. 31). Patung, video, lukisan, dan instalasi menjadikan Zidane ruang debat. Kepala yang menanduk Materazzi masuk museum. Peristiwa olahraga menjadi benda budaya.
Ini bukan hal kecil. Tatkala gambar menguasai ingatan, masyarakat mudah melupakan urutan lengkap peristiwa. Zidane menjadi tandukan. Materazzi menjadi dada yang jatuh. Italia menjadi pemenang. Prancis menjadi negara yang kehilangan trofi dan kehilangan cerita. Padahal sejarah manusia tidak pernah sependek cuplikan video.
Apa yang Dapat Dipelajari Indonesia
Kisah Zidane relevan bagi Indonesia karena kita juga sering memperlakukan atlet sebagai simbol nasional yang harus menanggung beban berlebihan. Ketika atlet menang, kita menyebutnya bukti bangsa kuat. Ketika atlet kalah atau berbuat salah, kita menyerangnya dengan cepat. Media sosial memperkeras kebiasaan itu.
Pelajaran pertama, jangan ubah atlet menjadi alat propaganda identitas. Atlet punya latar keluarga, agama, daerah, kelas sosial, dan pengalaman hidup. Semua itu membentuk dirinya. Namun satu kesalahan personal tidak boleh menjadi vonis terhadap kelompoknya.
Pelajaran kedua, baca olahraga sebagai ruang sosial. Sepak bola tidak berdiri di luar politik. Klub, tim nasional, sponsor, federasi, dan media membentuk maknanya. Prancis membaca Zidane melalui sejarah imigrasi dan kolonialisme. Indonesia juga membaca atlet melalui daerah asal, agama, etnis, sekolah, dan status sosial. Kita perlu sadar bahwa pembacaan itu sering membawa prasangka.
Pelajaran ketiga, pisahkan kritik tindakan dari serangan identitas. Zidane salah menanduk Materazzi. Kritik terhadap tindakannya sah. Namun kritik berubah menjadi malas dan berbahaya ketika orang menjelaskan tindakannya hanya melalui asal Aljazair, Islam, banlieue, atau stereotip maskulinitas Arab.
Pelajaran keempat, jangan jadikan kemenangan olahraga sebagai pengganti kebijakan sosial. Prancis 1998 memberi gambar indah tentang keberagaman. Akan tetapi gambar itu tidak cukup untuk menyelesaikan ketimpangan banlieue. Indonesia juga tidak boleh menganggap medali dan trofi sebagai bukti bahwa sistem pembinaan, pendidikan, dan kesempatan sosial sudah adil.
Zidane Setelah Tanduk
Zidane tidak berhenti sebagai gambar kegagalan. Ia menjadi pelatih Real Madrid. Ia memenangi gelar besar. Ia membuktikan bahwa satu tindakan cendala tidak menutup seluruh riwayat seseorang. Namun publik tetap mengingat tandukan itu karena sejarah menyukai adegan yang mudah diulang.
Di sinilah Zidane menjadi tokoh yang lebih menarik tinimbang pahlawan sempurna. Ia membawa kemahiran dan cacat. Ia memenangkan Piala Dunia dan meninggalkan final dengan kartu merah. Ia menjadi simbol integrasi Prancis dan sekaligus membuka retakan integrasi itu. Ia diam di banyak isu politik, namun tubuhnya terus dipakai orang lain untuk berbicara tentang politik.
Republik Prancis mungkin ingin melihat Zidane sebagai bukti. Bukti bahwa anak imigran bisa menjadi pahlawan nasional. Bukti bahwa lapangan hijau bisa menyatukan warga. Bukti bahwa kolonialisme telah menjadi masa silam. Tandukan di Berlin merusak kenyamanan itu. Ia memaksa Prancis melihat kembali apa yang selama ini disembunyikan di balik kemenangan 1998.
Zidane tidak membelah Prancis sendirian. Ia hanya memperlihatkan belahan yang sudah ada. Kepala itu menghantam dada Materazzi, tetapi gema terbesarnya mengenai mitos republik. Di situlah sepak bola bekerja sebagai sejarah yang dipadatkan. Sembilan puluh menit dapat membuka arsip puluhan tahun. Satu tindakan dapat memanggil kembali kolonialisme, migrasi, rasisme, media, pasar, dan obsesi bangsa terhadap citra dirinya sendiri.
Tanduk Zidane tetap salah. Walakin cara dunia membacanya mengajarkan hal yang lebih tajam. Masyarakat sering lebih cepat mengadili simbol daripada memperbaiki struktur yang membuat simbol itu begitu berat. Prancis memuja Zidane ketika ia memberi jawaban. Prancis gelisah ketika ia mengajukan pertanyaan. Pertanyaan itu masih hidup sampai kiwari. Siapa yang boleh menjadi wajah bangsa ketika bangsa itu belum selesai berdamai dengan sejarahnya sendiri?
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.




Comments are closed.