Jakarta, Arina.id—Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Asep Saepudin Jahar menegaskan perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai institusi penyelenggara pendidikan semata, melainkan harus menjadi ruang yang melahirkan pembaruan pemikiran Islam melalui penguatan tradisi akademik, riset, dan budaya berpikir kritis.
“Kampus harus terus melahirkan dosen, peneliti, dan cendekiawan yang mampu membimbing mahasiswa, mengembangkan tradisi berpikir kritis, serta mendiseminasikan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” ujarnya dalam peluncuran tiga buku terbaru karya Menteri Agama RI Prof Nasaruddin Umar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Ia menilai UIN Jakarta memiliki sejarah panjang sebagai pusat pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Kampus tersebut melahirkan sejumlah tokoh besar, seperti Harun Nasution dan Nurcholish Madjid (Cak Nur), yang hingga kini menjadi rujukan dalam pengembangan studi Islam.
“Tentu pemikiran-pemikiran harus dan terus kita tingkatkan di UIN, bukan saja UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tetapi di UIN-UIN seluruh Indonesia sebagai corak integrasi keilmuan, sains, dan teknologi,” ujarnya.
Prof Asep juga mengatakan bahwa forum akademik dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi keilmuan di lingkungan kampus.
“Pembahasan buku ini bukan semata-mata seremonial, tetapi ingin menggugah kembali tradisi keilmuan dan budaya akademik di lingkungan kampus,” katanya.
Ia menjabarkan berbagai isu kontemporer, seperti hermeneutika gender, ekosufisme, hermeneutika sosial, psikososialisme, hingga ekoteologi, perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan kajian akademik di perguruan tinggi.
Prof Asep berharap ketiga buku tersebut dapat menjadi referensi bagi mahasiswa dalam menyusun skripsi, tesis, maupun disertasi, sekaligus memacu lahirnya gagasan-gagasan baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Kehadiran buku ini bukan saja semata-mata sebagai kunci, tetapi juga bagaimana kita terus peka dalam merespons perubahan-perubahan zaman,” tuturnya.
Sementara itu, Menteri Agama (Menag) Prof Nasaruddin Umar menilai UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki posisi strategis sebagai ruang perjumpaan tradisi pemikiran Timur dan Barat.
“Bagi saya, sudah saatnya Indonesia mengambil peran yang lebih besar dalam membangun peradaban Islam dunia. Timur Tengah telah menunaikan peran historisnya sebagai tempat lahirnya Islam. Kini estafet pengembangan peradaban Islam yang maju, damai, dan berkemajuan memiliki peluang besar untuk tumbuh dari Indonesia,” pungkasnya.




Comments are closed.