Sepak bola Inggris memiliki satu nyanyian yang tidak pernah benar-benar pensiun: football is coming home. Menjelang semifinal Piala Dunia 2026, nyanyian itu kembali diputar. Inggris sudah berada di empat besar. Lawannya Argentina. Masa lalu dipanggil kembali. Tahun 1966 dibuka. Tangan Maradona pada 1986 diperiksa lagi. David Beckham, Diego Simeone, Malvinas, Messi, Harry Kane, semuanya dimasukkan ke dalam satu pertandingan.
Inggris bahkan sempat unggul. Anthony Gordon mencetak gol pada menit ke-55. Pendukung Inggris mulai menghitung waktu menuju final. Sebagian mungkin sudah memikirkan susunan pemain untuk menghadapi Spanyol. Komentator mulai menyusun kalimat bersejarah.
Lalu Inggris melakukan kebiasaan yang sudah berkali-kali mereka lakukan. Mereka berhenti bermain sebelum pertandingan berakhir.
Enzo Fernández menyamakan kedudukan pada menit ke-85. Lautaro Martínez mencetak gol kemenangan pada menit kedua masa tambahan. Lionel Messi memberi umpan untuk kedua gol tersebut. Argentina menang 2-1 dan melaju ke final kedua secara beruntun.
Football is coming home. Sepakbola hampir pulang ke Inggris, sayangnya, alamatnya kembali tidak ditemukan.
Tidak Ada Tangan Tuhan, Inggris Menarik Rem Sendiri
Pertandingan itu semula berlangsung keras dan berhati-hati. Babak pertama menghasilkan 19 pelanggaran, dua kartu kuning, dan tidak satu pun tembakan tepat sasaran. Kedua tim seperti lebih sibuk mengingat sejarah permusuhan daripada mencari ruang di depan gawang.
Inggris kemudian mencetak gol yang rapi. Declan Rice memulai serangan. Morgan Rogers mengirim umpan silang. Gordon menyelesaikannya di tiang jauh. Dalam posisi unggul, Inggris sebenarnya memiliki dua pilihan. Mereka dapat terus bermain untuk mencari gol kedua. Mereka juga dapat mundur dan berharap Argentina gagal mencetak gol selama lebih dari setengah jam.
Thomas Tuchel memilih pilihan kedua. Anthony Gordon ditarik keluar. Bek tambahan dimasukkan. Reece James dan Declan Rice diganti. Inggris beralih menggunakan lima pemain belakang. Tuchel kemudian mengakui bahwa timnya menjadi terlalu pasif dan tidak lagi aktif dalam struktur permainan apa pun. Harry Kane juga mengakui bahwa Inggris hanya berusaha mempertahankan keunggulan setelah mencetak gol.
Argentina kali ini tidak membutuhkan “Tangan Tuhan”. Inggris sudah menarik rem sendiri. Sejak unggul hingga tertinggal 1-2, Inggris hanya menguasai sekitar 12 persen penguasaan bola. Mereka menyelesaikan pertandingan dengan satu tembakan tepat sasaran. Argentina mencatatkan 15 percobaan dengan nilai expected goals sekitar 1,84. Inggris hanya mencatat lima percobaan dengan expected goals sekitar 0,53.
Angka itu tidak menjelaskan seluruh pertandingan. Namun, angka tersebut cukup untuk menolak satu alasan yang paling mudah: Inggris tidak kalah karena dicurangi. Inggris kalah karena berhenti menyerang.
Mereka membiarkan Argentina menguasai bola. Mereka menarik pemain yang dapat membawa bola keluar dari tekanan. Mereka memasukkan pemain bertahan, kemudian berharap para pemain Argentina lupa cara mencetak gol. Harapan itu bertahan sampai menit ke-85.
Ketakutan yang Menyamar sebagai Taktik
Pelatih sering memakai istilah teknis agar keputusan sederhana terdengar rumit. Menutup ruang. Mengendalikan transisi. Memperkuat struktur pertahanan. Menjaga keseimbangan. Semua istilah itu dapat benar. Namun, ketika sebuah tim hanya menguasai bola 12 persen dan hampir tidak dapat melewati garis tengah, istilah yang lebih tepat adalah takut.
Media Inggris menyerang keputusan Tuchel dengan keras. The Guardian menyimpulkan pertandingan itu melalui dua kata yang bertolak belakang: Argentina menunjukkan keberanian mengambil inisiatif, sementara Tuchel menunjukkan ketakutan. Inggris dinilai terlalu cepat bertahan dan menghilangkan ancaman serangannya sendiri.
Tuchel didatangkan karena dianggap lebih berani dan lebih tajam dibandingkan pelatih Inggris sebelumnya. Ia disebut sebagai ahli pertandingan sistem gugur. Ia pernah membawa Chelsea mengalahkan Manchester City pada final Liga Champions.
Namun, ketika Inggris berada sekitar setengah jam dari final Piala Dunia, ahli taktik itu melakukan sesuatu yang dapat dilakukan oleh pelatih mana pun: menambah bek, menurunkan garis pertahanan, dan berdoa. Doanya hampir terkabul. Namun masalahnya, Argentina masih memiliki Messi.
Messi Tidak Berlari, Inggris yang Mundur
Lionel Messi berusia 39 tahun. Ia tidak lagi mengejar semua bola. Ia tidak berlari sepanjang pertandingan. Ia tidak perlu melakukannya. Messi hanya perlu menunggu Inggris mundur cukup jauh.
Pada gol pertama, ia menerima bola dari sepak pojok pendek. Tidak ada tekanan yang memadai. Messi mengirim bola kepada Enzo Fernández. Fernández melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti.
Pada gol kedua, Messi menerima bola di sisi kanan. Ia melihat Lautaro Martínez bergerak di antara para pemain belakang Inggris. Umpannya tepat. Lautaro menyundul bola. Jordan Pickford tidak dapat berbuat banyak.
Dua umpan. Dua gol. Satu tiket final. Messi tidak mencetak gol. Ia juga tidak membutuhkan penalti kontroversial. Tidak ada gol dengan tangan. Tidak ada kartu merah lawan yang menentukan pertandingan. Tidak ada keputusan VAR besar yang dapat dijadikan alasan utama.
Argentina menang karena mereka terus menyerang. Inggris kalah karena menganggap satu gol sudah cukup. Dalam pertandingan itu, usia 39 tahun tidak terlihat pada Messi. Usia itu justru terlihat pada cara Inggris mempertahankan keunggulan. Lambat, cemas, dan terlalu berhati-hati.
Dari “VARgentina” Menuju “Messiahgentina”
Sebelum semifinal, Argentina memasuki pertandingan dengan tuduhan panjang. Aljazair memprotes keputusan wasit. Mesir mempertanyakan VAR. Swiss merasa dirugikan. Istilah “VARgentina” menyebar. Setiap kemenangan Argentina dibaca sebagai hasil hubungan rahasia antara FIFA, wasit, kepentingan komersial, dan keinginan melihat Messi mengangkat trofi sekali lagi.
Setelah mengalahkan Inggris tanpa kontroversi penentu, pendukung Argentina memperoleh amunisi baru. Mereka mulai berkata bahwa semua kritik sebelumnya terbukti salah. Argentina menang bersih melawan Inggris. Berarti keluhan Aljazair, Mesir, dan Swiss otomatis tidak berlaku.
Cara berpikir ini juga keliru. Satu pertandingan yang relatif bersih tidak menghapus pertanyaan dari pertandingan sebelumnya. Sebaliknya, keputusan kontroversial pada pertandingan sebelumnya juga tidak membatalkan kualitas permainan Argentina saat mengalahkan Inggris.
Fakta harus diperiksa per pertandingan. Namun, fanatisme tidak menyukai pemeriksaan per kasus. Fanatisme membutuhkan keputusan yang sederhana. Argentina selalu benar. Atau Argentina selalu dibantu. Messi selalu suci. Atau Messi selalu dilindungi.
Pilihan yang tersedia hanya dua. Akal sehat tidak memperoleh tempat duduk. Sebuah kemenangan dipakai untuk menghapus semua kritik. Pendukung tidak lagi berkata, “Argentina bermain lebih baik malam ini.” Mereka berkata, “Lihat, semua orang yang pernah mengkritik Argentina adalah pembenci.”
Messi akhirnya diperlakukan bukan sebagai pemain sepak bola, melainkan sebagai ukuran moral. Siapa yang memujinya dianggap memahami sepak bola. Siapa yang mengkritiknya dianggap tidak mengenal keindahan.
Argentina berubah menjadi semacam pengadilan. Messi menjadi hakimnya. Warganet Indonesia secara sukarela mendaftarkan diri sebagai penasihat hukumnya.
Inggris dan Tradisi Menyalahkan Nasib
Pendukung Inggris juga memiliki bentuk kesesatannya sendiri. Setiap turnamen dimulai dengan keyakinan bahwa generasi sekarang berbeda. Pemainnya lebih matang. Pelatihnya lebih cerdas. Bangku cadangannya lebih dalam. Statistiknya lebih baik.
Ketika gagal, penyebabnya selalu dicari di luar keberanian bermain. Dahulu mereka menyalahkan adu penalti. Kemudian menyalahkan kartu merah Beckham. Lalu menyalahkan pelatih yang terlalu defensif. Sekarang mereka kembali menyalahkan pelatih yang terlalu defensif. Mungkin masalahnya memang tidak rumit.
Inggris memiliki pemain berkualitas. Mereka dapat bermain cepat. Mereka dapat menekan. Mereka memiliki Saka, Rashford, Eze, dan pemain menyerang lain di bangku cadangan. Namun, ketika unggul, pelatih memilih memasukkan bek dan mengurangi ancaman ke depan. Argentina kemudian bebas menyerang tanpa takut dihukum melalui serangan balik.
Saat Argentina menyamakan kedudukan, Inggris tidak memiliki struktur untuk kembali menyerang. Mereka sudah terlanjur menyusun tim untuk bertahan. Mereka harus mencari gol dengan pemain yang dipilih untuk menjaga gol.
Itulah ironi taktik defensif. Ketika berhasil, pelatih disebut jenius. Ketika kebobolan, tim tidak lagi memiliki alat untuk membalas.
Politik, Lagu Kebangsaan, dan Dendam yang Dijual Kembali
Pertandingan Argentina melawan Inggris tidak pernah benar-benar diperlakukan sebagai pertandingan biasa. Sebelum laga, pendukung kedua tim saling mencemooh lagu kebangsaan. Perselisihan Malvinas kembali muncul. Politikus Argentina menghidupkan istilah penjajah. Setelah pertandingan, Lisandro Martínez membawa spanduk politik mengenai Malvinas.
Sepak bola kembali diminta menanggung beban sejarah. Pemain yang sebagian besar lahir bertahun-tahun setelah Perang Malvinas diminta mempertandingkan sengketa wilayah. Penonton yang tidak pernah membaca sejarah perang tersebut ikut marah karena melihat potongan video berdurasi 30 detik.
Industri sepak bola menyukai keadaan seperti ini. Pertandingan yang seharusnya mempertemukan dua kesebelasan dijual sebagai pertempuran harga diri bangsa. Sejarah dipadatkan menjadi materi promosi. Dendam diwariskan sebagai hiburan. Lagu kebangsaan menjadi kesempatan untuk saling menghina.
Semakin tinggi ketegangan, semakin besar jumlah penonton. Semakin besar jumlah penonton, semakin mahal nilai iklan dan taruhan. Orang tidak lagi sekadar menonton Messi melawan Kane. Mereka diminta memilih pihak dalam perselisihan yang sudah berlangsung puluhan tahun. Lalu ketika pertandingan selesai, penyelenggara menyampaikan pesan tentang sportivitas.
Argentina Pantas Menang, Tidak Perlu Disucikan
Argentina pantas memenangkan pertandingan itu. Mereka lebih berani setelah tertinggal. Lionel Scaloni mengganti pemain bertahan dengan pemain menyerang. Ia memasukkan Nicolás González dan Lautaro Martínez. Argentina meningkatkan tempo. Mereka menciptakan peluang. Mereka memaksa Pickford melakukan penyelamatan. Mereka mengenai tiang. Mereka terus menyerang sampai gol datang.
Scaloni mengambil risiko. Tuchel menghindarinya. Itulah perbedaan yang menentukan pertandingan. Namun, kemenangan yang pantas tidak menjadikan Argentina selalu benar. Gelar juara dunia juga tidak memberi kekebalan dari kritik. Messi dapat menghasilkan dua assist luar biasa dan tetap dinilai dengan aturan yang sama seperti pemain lain.
Pendukung Argentina tidak perlu membersihkan seluruh sejarah turnamen hanya karena timnya bermain baik melawan Inggris. Pendukung Inggris juga tidak perlu mencari rekaman lambat untuk membuktikan bahwa mereka kembali dirampok. Wasit bukan pihak yang memerintahkan Inggris menguasai bola hanya 12 persen setelah unggul.
Kali ini tidak ada misteri besar. Argentina menyerang. Inggris bertahan terlalu dalam. Argentina mencetak dua gol. Inggris pulang. Sesederhana itu.
***
Pertandingan Argentina melawan Inggris mengajarkan bahwa sesat sepak bola tidak selalu lahir dari keputusan wasit. Ia juga lahir dari ketakutan yang disebut strategi. Ia lahir dari kekalahan yang disebut kutukan. Ia lahir dari kemenangan yang dipakai untuk membuktikan bahwa idola tidak pernah salah. Argentina menunjukkan mental juara. Mereka menolak menerima kekalahan sebelum peluit akhir. Inggris menunjukkan kebiasaan lama. Mereka menganggap keunggulan harus dijaga dengan berhenti bermain.
Kita boleh mengagumi Messi. Dua umpannya memang menentukan. Kita boleh memuji keberanian Scaloni. Pergantiannya mengubah pertandingan. Kita juga boleh mengkritik Tuchel. Keputusannya membuat Inggris pasif dan kehilangan kendali.
Namun, kemenangan Argentina atas Inggris tidak menghapus seluruh kontroversi sebelumnya. Kekalahan Inggris juga tidak membuktikan adanya konspirasi baru. Tidak semua kemenangan merupakan bukti kesucian. Tidak semua kekalahan merupakan hasil kejahatan.
Kadang-kadang sebuah tim kalah karena pelatihnya memasukkan terlalu banyak pemain bertahan, membiarkan lawan menguasai bola, lalu berharap waktu bergerak lebih cepat.
Pada malam di Atlanta itu, Argentina tidak menyesatkan sepak bola. Inggris tersesat dalam ketakutannya sendiri. Para pendukung kemudian melanjutkan kesesatan itu melalui media sosial. Termasuk Anda.
Puji Raharjo, Penikmat Sepak Bola
Puji Raharjo Soekarno
Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung




Comments are closed.