Sejak 2013, Rahmayani rutin datang ke Wisata Kolam Pemandian Mata Ie untuk mencuci pakaian. Air di kolam ini bersumber dari Karst Mata Ie, yang selama ini jadi andalan air bersih bagi 14.234 pelanggan PDAM Tirta Mountala di Darul Imarah, Darul Kamal, Peukan Bada, hingga desa-desa di Lhoknga.
“Lumayan, hemat air dan biaya di rumah,” kata Rahma, warga Desa Geundring, Aceh Besar.
Tapi kini, cerita itu perlahan berubah. Pada 2017, Mata Ie kering total untuk pertama kalinya, dan sejak itu kekeringan datang hampir tiap tahun. “Kalau kemarau seminggu saja, air langsung surut drastis,” katanya.
Ancaman ini bukan tanpa peringatan. Abdillah Imron Nasution, Ketua Karst Aceh sekaligus ahli speleologi Universitas Syiah Kuala, sudah memprediksi sejak 2008 bahwa Mata Ie akan kering dalam sepuluh tahun.
“Pasca-2017, baru kering, itu sudah kita ingatkan juga pada 2008,” katanya.
Warga lain, Ani dari Lambheu, bahkan terpaksa membeli air dari mobil tangki saat kekeringan 2024 berulang, ketika air dari keran tak kunjung keluar selama dua hari. “Untuk pertama kalinya, saya membeli air dari mobil tangki. Saat itu, saya ingat beli 1 mobil tangki dengan harga Rp300.000 untuk mengisi tiga bak di rumah,” katanya.
Krisis serupa lebih dulu dirasakan warga sekitar Karst Lhoknga, sekitar 17-18 kilometer dari Mata Ie. Yeni Hartini, Ketua SP Aceh sekaligus warga Naga Umbang, mengatakan sumur warga kini kering hanya dalam sebulan tanpa hujan, padahal dulu tak pernah surut. Warga bahkan harus menggali lebih dalam, dari semula delapan cincin sumur, kini butuh 10 sampai 16 cincin.
Yeni menduga penambangan batu gamping oleh PT Solusi Bangun Andalas turut memicu kerusakan. “Saat mereka melakukan aktivitas blasting, itu getarannya terasa sampai desa bahkan menyebabkan sumur-sumur ambles termasuk di rumah saya. Tahun 2019, bahkan ada sekitar 36 rumah mengalami keretakan,” katanya. Perusahaan sendiri membantah ada kaitan antara aktivitas tambang dan kekeringan yang terjadi.
Di Deah Mamplam, kondisinya tak kalah berat. Nurmiana, warga setempat, bercerita mesin penyuplai air dari bendungan terdekat rusak, sehingga air hanya mengalir dua hari sekali, itu pun cuma dua jam. Krisis air ini bahkan memicu konflik sosial. “Adu mulut karena saling rebutan air kerap terjadi,” katanya.
Menurut Abdillah, penurunan fungsi karst ini akibat kombinasi eksploitasi berlebihan dan kerusakan ekosistem gua. Penelitiannya menemukan volume air yang masuk ke sistem karst saat hujan kini sama persis dengan volume air yang langsung keluar. “Artinya, tidak ada lagi air yang tersimpan di dalam batuan,” katanya.
Di tengah krisis yang meluas, harapan kini tertumpu pada Karst Pucok Krueng di Desa Mon Ikeun, satu-satunya kawasan yang volume airnya masih relatif stabil. Dinas ESDM Aceh tengah mengupayakan kawasan ini ditetapkan sebagai Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) agar mendapat perlindungan hukum lebih kuat.
“Untuk penetapan KBAK perlu proses yang panjang, sejauh ini di Aceh baru Karst Tamiang yang masuk KBAK dan itu prosesnya memakan waktu hingga lima tahun,” kata Teuku Mukhlis, Penyelidik Bumi Dinas ESDM Aceh.
Foto utama: WTP PDAM Tirta Mountala yang berada di Wisata Kolam Mata Ie kering pada 2023. Nurul Hasanah/ Mongabay Indonesia





Comments are closed.