Wed,22 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Telur Asin Enak, Tapi Nilai Gizinya Turun

Telur Asin Enak, Tapi Nilai Gizinya Turun

telur-asin-enak,-tapi-nilai-gizinya-turun
Telur Asin Enak, Tapi Nilai Gizinya Turun
service

Telur asin sudah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Indonesia, terutama di Jawa Tengah. Rasanya gurih dan asin yang khas, sehingga membuatnya praktis dan serbaguna. Mudah dibawa, tahan lama, dan dapat langsung dikonsumsi tanpa perlu tambahan lauk.

Namun, di balik kelezatannya, proses pengasinan ternyata memengaruhi kandungan gizi telur. Karena itu, masyarakat perlu bijak mengonsumsinya, terutama bagi penderita hipertensi dan penyakit jantung.

Menurut Ronny, Pakar Genetika Ekologi IPB University, proses pengasinan memang berhasil memperpanjang masa simpan telur hingga sekitar satu hingga dua bulan. Namun, garam yang masuk melalui pori-pori cangkang juga menyebabkan perubahan pada struktur protein dan meningkatkan kadar natrium.

“Pengasinan telur memang bisa membantu telur menjadi lebih tahan lama, tetapi ada baiknya juga untuk mengetahui bahwa proses ini bisa menyebabkan penurunan kandungan proteinnya akibat denaturasi, dan juga bisa meningkatkan kadar natrium dengan signifikan,” kata Ronny.

Menurut Ronny, telur asin diminati karena kepraktisan, rasa gurih khas, dan perannya dalam budaya serta ekonomi. Telur asin bukan sekadar lauk, melainkan identitas kuliner daerah.

“Telur asin memang sangat dihargai di Indonesia karena harganya biasanya lebih tinggi daripada telur segar. Di berbagai daerah seperti Brebes, telur asin bahkan menjadi bagian penting dari budaya kuliner dan sumber penghasilan yang bernilai bagi banyak orang,” katanya.

Selain direbus, kini telur asin juga hadir dalam berbagai inovasi, seperti dipanggang, diasapi, hingga dijadikan saus atau topping berbagai hidangan modern. Kepraktisan, cita rasa khas, serta daya simpannya yang panjang membuat telur asin tetap diminati masyarakat.

Menurut Ronny, pengasinan dilakukan agar telur memiliki cita rasa lebih khas sekaligus lebih awet. Proses ini dapat dilakukan melalui metode basah, kering, maupun oven selama sekitar 7–14 hari, bergantung pada konsentrasi garam yang digunakan.

“Telur asin memiliki masa simpan lebih lama, biasanya 1–2 bulan, karena garam sebagai pengawet alami. Rasanya yang khas menambah kelezatan hidangan. Proses pengasinan membuat kuning lebih padat, berminyak, dan gurih. Rasa asin ini cocok untuk nasi atau bubur, menambah cita rasa,” ujarnya.

Namun, garam yang meresap ke dalam telur juga memicu denaturasi protein sehingga sebagian fungsi biologisnya berkurang. Kadar natrium meningkat, sementara sebagian vitamin larut air, terutama vitamin B kompleks, dapat ikut menurun selama proses pengasinan.

“Pengasinan bisa menyebabkan denaturasi protein karena garam yang menembusnya, sehingga struktur protein rusak dan kandungan proteinnya berkurang. Berdasarkan beberapa penelitian, penurunan ini bahkan bisa mencapai sekitar 30 persen setelah tujuh hari pengasinan dengan konsentrasi garam yang tinggi,” ujar Ronny.

Ia menambahkan perubahan tekstur telur juga dipengaruhi oleh garam yang menarik air dari putih telur sehingga kuning telur menjadi lebih padat dan berminyak. Sementara itu, kandungan lemak relatif tetap stabil.

Menurut Ronny, penurunan nilai gizi dapat diminimalkan dengan menggunakan kadar garam sedang, sekitar 100–150 gram per liter, membatasi waktu pengasinan tidak lebih dari 10 hari, serta menerapkan teknik pematangan yang tepat seperti kombinasi metode kukus dan oven.

“Penurunan nilai gizi saat pengasinan dapat dikurangi dengan mengontrol kadar garam; disarankan menggunakan garam sedang (100–150 g/l) agar kerusakan protein minimal. Batasi waktu pengasinan dan hindari proses lebih dari 10 hari karena dapat mempercepat degradasi protein,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan penggunaan oven bersuhu sekitar 90 derajat Celsius membantu menjaga kadar air dan cita rasa. Penambahan rempah seperti daun teh atau jahe dapat memperkaya aroma sekaligus membantu memperpanjang umur simpan telur asin.

Meski demikian, Ronny mengingatkan agar telur asin dikonsumsi secara wajar dan tidak dijadikan menu utama setiap hari, terutama bagi penderita hipertensi maupun penyakit jantung karena kandungan natriumnya yang tinggi.

“Pengasinan meningkatkan natrium dan menurunkan protein, jadi konsumsi yang moderat penting. Jadikan telur asin sebagai variasi makanan, bukan makanan utama setiap hari, demi kesehatan. Padukan dengan makanan sehat lainnya dan hindari makan berlebihan agar dapat menikmati rasanya dengan aman,” tutur Ronny.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.