Mubadalah.id – Dalam kehidupan sehari-hari, penghasilan sering kali menjadi salah satu ukuran yang masyarakat gunakan untuk menilai seorang laki-laki. Ketika membicarakan calon pasangan, misalnya, pertanyaan tentang pekerjaan dan pendapatan sering menganggapnya lebih penting daripada mengenal karakter, tanggung jawab, atau cara seseorang memperlakukan orang lain. Seolah-olah kemampuan ekonomi menjadi cermin utama dari keberhasilan seorang laki-laki.
Tidak mengherankan jika laki-laki yang memiliki pekerjaan mapan dan penghasilan tinggi lebih mudah memperoleh penghargaan sosial. Sebaliknya, mereka yang masih merintis karier, berpenghasilan rendah, atau sedang mengalami kesulitan ekonomi kerap menghadapi penilaian negatif.
Cara pandang semacam ini telah berlangsung lama hingga kita anggap sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, jika kita lihat lebih jauh, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga dengan cara masyarakat membentuk pemahaman tentang laki-laki dan perempuan.
Hasil dari Konstruksi Gender
Pandangan bahwa menentukan harga diri laki-laki oleh besarnya gaji tidak muncul secara alamiah. Ia merupakan hasil dari konstruksi gender, yaitu proses sosial dan budaya yang membentuk anggapan tentang bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya bersikap, menjalankan peran, serta memenuhi harapan masyarakat.
Konstruksi gender membuat peran tertentu melekat pada laki-laki maupun perempuan. Sejak kecil, banyak laki-laki tumbuh besar dengan nilai bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk bekerja, mencari nafkah, dan ikut memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi. Tanggung jawab tersebut pada dasarnya merupakan bentuk kepedulian, komitmen, dan kasih sayang terhadap keluarga.
Namun, persoalan muncul ketika tanggung jawab tersebut berubah menjadi ukuran tunggal untuk menentukan nilai seorang laki-laki. Kemampuan menghasilkan uang dalam jumlah besar kemudian sering terpahami sebagai tanda keberhasilan, kedewasaan, bahkan kehormatan. Akibatnya, laki-laki yang mengalami kegagalan ekonomi tidak hanya menghadapi persoalan finansial, tetapi juga tekanan sosial karena menganggapnya tidak memenuhi gambaran tentang laki-laki ideal.
Konstruksi gender yang sama juga memengaruhi cara masyarakat melihat perempuan. Perempuan sering kita kaitkan dengan peran sebagai pengasuh, pengelola rumah tangga, dan pendamping keluarga. Peran tersebut memiliki nilai yang besar, tetapi menjadi persoalan ketika kemampuan domestik menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan perempuan. Cara pandang seperti ini dapat membatasi perempuan untuk berkembang dan berkontribusi dalam berbagai ruang kehidupan.
Padahal, perubahan sosial dan ekonomi menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kontribusi yang jauh lebih beragam. Banyak perempuan berperan aktif di ruang publik, memiliki pekerjaan profesional, dan ikut menopang ekonomi keluarga. Di sisi lain, banyak laki-laki juga terlibat dalam pengasuhan, pekerjaan domestik, serta memberikan dukungan emosional dalam keluarga.
Selain itu, seorang laki-laki yang berpenghasilan besar belum tentu memiliki kualitas moral yang baik. Sebaliknya, laki-laki dengan penghasilan sederhana tidak otomatis kehilangan kehormatannya. Begitu pula perempuan. Kemuliaan seorang perempuan tidak ditentukan oleh apakah ia pandai memasak atau mengurus rumah, tetapi oleh keseluruhan kualitas diri dia sebagai manusia.
Mengukur laki-laki hanya dari besarnya gaji sebenarnya memiliki persoalan yang sama dengan ketika laki-laki mengukur perempuan hanya dari kemampuan domestiknya. Keduanya sama-sama menempatkan manusia dalam kotak peran yang sempit.
Memahami Qiwamah sebagai Tanggung Jawab
Pandangan bahwa laki-laki harus menjadi pencari nafkah utama sering kali berkaitan dengan konsep qiwamah dalam QS. An-Nisa’ ayat 34. Sayangnya, ayat ini tidak jarang terpahami secara sempit sebagai dasar bahwa laki-laki lebih mulia daripada perempuan karena memiliki kewajiban memberi nafkah. Dari pemahaman tersebut kemudian lahir anggapan bahwa semakin besar penghasilan seorang laki-laki, semakin tinggi pula nilai dan kehormatannya.
Islam memang membebankan tanggung jawab nafkah kepada laki-laki. Namun, tanggung jawab tersebut tidak dimaksudkan sebagai ukuran kemuliaan atau harga diri laki-laki. Pembagian ini mempertimbangkan realitas biologis yang perempuan alami, seperti menstruasi, kehamilan, nifas, dan menyusui.
Selama menjalani proses tersebut, perempuan memikul beban fisik dan reproduksi yang tidak dapat teralihkan kepada laki-laki. Karena itu, laki-laki diberi tanggung jawab untuk memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi sebagai bentuk dukungan, perlindungan, dan kasih sayang.
Meski begitu, laki-laki tidak harus menjadi orang yang paling kaya atau berpenghasilan tinggi agar dianggap berhasil. Yang kita tuntut adalah kesungguhan untuk berikhtiar sesuai kemampuan, bukan besarnya angka yang didapatkan.
Seorang laki-laki yang bekerja dengan jujur, berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya semampunya, dan tidak berhenti berikhtiar tetap sedang menjalankan amanah qiwamah. Sebaliknya, laki-laki yang memiliki penghasilan besar tetapi mengabaikan keluarganya, enggan berbagi, atau menjadikan nafkah sebagai alat untuk mengendalikan pasangan justru telah kehilangan ruh qiwamah itu sendiri.
Tidak Diukur dari Jumlah Uang yang Dihasilkan
Harga diri seorang laki-laki terlihat dari bagaimana ia menjalani kehidupan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang melekat dalam dirinya. Laki-laki yang bekerja dengan cara halal, berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya sesuai kemampuan, dan tetap berikhtiar dalam kondisi sulit menunjukkan bentuk tanggung jawab yang sesungguhnya.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki penghasilan tinggi tetapi mengabaikan keluarga, tidak jujur dalam memperoleh harta, atau menjadikan nafkah sebagai alat untuk menguasai pasangan tidak dapat kita katakan telah menjalankan tanggung jawab secara utuh.
Sebab, keberhasilan seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang ia miliki, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain. Integritas, kepedulian, kemampuan menghargai pasangan, serta kesediaan untuk hadir dalam kehidupan keluarga merupakan bagian penting dari kualitas seorang laki-laki.
Hal yang sama berlaku dalam membangun relasi keluarga. Ketika perempuan memiliki penghasilan lebih besar, kondisi tersebut tidak seharusnya kita pandang sebagai ancaman terhadap harga diri laki-laki. Keluarga bukan ruang persaingan untuk menentukan siapa yang paling dominan atau siapa yang paling banyak menghasilkan uang, melainkan ruang kerja sama untuk saling mendukung sesuai kemampuan masing-masing.
Karena itu, relasi yang sehat lahir ketika laki-laki dan perempuan mampu melihat satu sama lain sebagai manusia yang utuh. Sama-sama memiliki martabat, hak untuk dihargai, dan ruang untuk terus bertumbuh. Dengan cara pandang inilah, tanggung jawab tidak lagi menjadi beban yang menekan, melainkan menjadi bentuk kasih sayang yang berjalan secara bersama. []




Comments are closed.