Kristiyawanto berfoto bersama kedua orang tuanya usai Wisuda ke-183 Universitas Diponegoro, dengan latar taman FISIP Undip
Foto wisuda di taman kampus sudah biasa. Akan tetapi, kisah mahasiswa ini berbeda. Ia berfoto di taman kampus yang selama ini dirawat oleh orang tuanya sendiri. Ia pun bangga berfoto bersama kedua orang tuanya yang mengenakan seragam kebersihan.
Mahasiswa itu adalah Kristiyawanto, atau biar akrab kita panggil Kris, lulusan Magister Ilmu Komunikasi FISIP Undip. IPK-nya 3,89, cumlaude. Akan tetapi, yang membuat warganet di Instagram ramai-ramai menyukai unggahannya bukan karena angka IPK, melainkan cerita bahwa bapak-ibunya adalah tenaga perawat taman di fakultas tempat dia kuliah S2.
Anaknya Kuliah di Dalam, Bapak-Ibu Kerja di Luar
“Bersenang-senang di Taman Bikinan Bapak Ibu, Anaknya kuliah di dalam, Bapak dan Ibu Memperindah. Salah satu keajaiban @fisipundip.official. Anak tukang taman FISIP Undip, akhirnya wisuda S2!” tulis Kris nulis di unggahan Instagram-nya.
Dalam postingan itu, Kris membagikan momen ketika dirinya berfoto dengan orang tuanya di depan taman. Kris, memakai atribut wisuda lengkap, sedangkan bapak dan ibunya mengenakan seragam kebersihan.

Kristiyawanto berfoto bersama kedua orang tuanya usai Wisuda ke-183 Universitas Diponegoro, dengan latar taman FISIP Undip
“Hari ini aku mengajak mereka untuk bersenang-senang merayakan kelulusanku S2,” imbuhnya.
Sebenarnya, bapak-ibunya ini bukan pegawai tetap FISIP Undip. Mereka adalah tenaga kebersihan panggilan. Jadi, kalau fakultas merasa taman perlu dibenahi, baru dipanggil. Di saat itulah beberapa kali Kris bertemu dengan orang tuanya di dalam kampus.
“Beberapa kali ada momen bisa saling bertemu bersama di kampus, saya beraktivitas kuliah, bapak ibu saya kerja garap taman,” katanya, sebagaimana dikutip dari Tribun Jateng.
Doa Orang Tua yang Nggak Ngerti SKS tapi Ngerti Cara Support Anak
Saat ini, Kris bekerja full time sebagai Koordinator Produksi Video di salah satu media di Jawa Tengah. Melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, Kris harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja.
Menjalani dua hal berat sekaligus, lulusan S1 ISI Yogyakarta ini mendapatkan dukungan penuh dari orang tuanya.
“Mereka enggak pernah ngerti apa itu SKS, apa itu tesis, apa itu cumlaude. Apalagi ngebayangin, gimana rasanya kuliah S2 sambil kerja, bolak-balik kantor-kampus, begadang ngerjain tesis sehabis pulang kerja.”
“…Yang mereka tahu cuma satu, mereka puasa, berdoa dan salat malam untuk mendoakan anaknya menghadapi ujian, sejauh dan seberat apa pun itu,” imbuh Kris.
Kris pun bercerita, bahwa ketika dirinya merasa lelah, orang tuanya selalu menguatkan agar Kris bisa melanjutkan studi sampai tuntas
“Terusno, ojo mandheg, lanjutkan, jangan berhenti,” katanya.
Dukungan itulah yang menguatkan Kris hingga berhasil meraih gelar magisternya.
Habis prosesi wisuda kelar, Kris foto bareng bapak-ibunya, latarnya taman yang mereka rawat sendiri. Buat orang lain mungkin ini keliatan estetik doang buat feed Instagram. Buat Kris, ini beda kelas.
“Bukan gelar S2 ini yang paling aku banggakan. Tapi punya orang tua yang percaya dengan anaknya, walau mereka sendiri enggak pernah dikasih kesempatan itu, dan tetap support meski anaknya kuliah sambil kerja,” tandasnya.
Sebagai informasi, Kris merupakan salah satu wisudawan pada Wisuda ke-183 Universitas Diponegoro yang digelar dalam lima tahap, pada 27–31 Juli 2026. Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan Undip, Heru Susanto, menyebutkan wisuda kali ini meluluskan 5.925 lulusan, terdiri atas 109 doktor, 553 magister, 103 spesialis, 378 profesi, 4.106 sarjana, dan 677 sarjana terapan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News





Comments are closed.