Fri,7 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Survei: Banyak pensiunan ingin terus bekerja bukan karena alasan ekonomi

Survei: Banyak pensiunan ingin terus bekerja bukan karena alasan ekonomi

survei:-banyak-pensiunan-ingin-terus-bekerja-bukan-karena-alasan-ekonomi
Survei: Banyak pensiunan ingin terus bekerja bukan karena alasan ekonomi
service

● Pemerintah memiliki aturan ajeg tentang usia pensiun pekerja, yakni 59 tahun per tahun 2026 ini.

● Survei di Sleman menyatakan mayoritas pensiunan ingin terus bekerja.

● Alasannya tidak melulu ekonomi, tapi lebih bersifat abstrak seperti sosial, spiritual, dan pengabdian sebagai senior.


Tahun lalu, Korps Pegawai Republik Indonesia atau Korpri mengusulkan perpanjangan batas usia pensiun aparatur sipil negara melebihi aturan saat ini yang dipatok 59 tahun hingga 70 tahun dengan alasan meningkatnya usia harapan hidup.

Di saat yang berdekatan, seorang guru mengajukan gugatan agar usia purnabakti guru disamakan dengan usia pensiun dosen, yang bisa diperpanjang hingga 70 tahun.

Perdebatan ini seakan menandai bahwa pertanyaan tentang usia pensiun tidak lagi sekadar menyangkut berapa lama seseorang hidup, tetapi juga bagaimana seseorang ingin menjalani fase akhir kehidupan kerjanya.

Topik ini sudah berlangsung terlebih dahulu di Eropa yang populasinya sudah didominasi oleh kawula tua atau aged population. Tak ayal, peningkatan batas usia pensiun menjadi salah satu strategi menjaga keberlanjutan sistem pensiun dan ketersediaan tenaga kerja.

Namun, di balik perdebatan tersebut, ada satu suara yang sering luput didengar: apa sebenarnya yang diinginkan oleh para pensiunan Indonesia yang berjumlah lebih dari 34 juta jiwa ini?

Untuk memahami bagaimana para pensiunan memandang usia pensiun, kami mewawancarai dan menyurvei 230 pensiunan di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.


Read more: Masyarakat sulit gapai hidup nyaman di masa pensiun


Tak selalu alasan ekonomi

Dalam buku The Human Condition, sang pemikir Hannah Arendt, (1959) mengingatkan bahwa manusia rawan terjebak menjadi animal laborans (hewan pekerja). Kondisi ini adalah ketika manusia bekerja semata-mata untuk mempertahankan kehidupan biologis, bukan lagi sebagai aktivitas bermakna.

Peringatan ini menjadi relevan ketika berbagai negara mulai menaikkan batas usia pensiun sebagai respons terhadap meningkatnya harapan hidup dan penuaan penduduk.

Pertanyaannya, apakah bekerja lebih lama benar-benar memperpanjang kehidupan yang bermakna, atau justru memperpanjang rutinitas kerja yang tidak lagi diinginkan?

Tak salah juga apabila banyak yang menduga bahwa faktor ekonomi menjadi alasan para senior untuk tetap bekerja. Tapi, riset kami menemukan fakta yang berbeda.


Read more: Edaran menteri takkan jamin pekerja 30 tahun+ dapat kerja


Studi kami menguji lima variabel utama: finansial (financial), personal, sosial, kepedulian (generativity), dan spiritual (spiritual).

Para pensiunan yang disurvei tak hanya ditanyai motivasi pribadi berdasarkan lima variabel utama. Tapi kami juga membedahnya dengan beragam varibel penunjang lainnya seperti latar belakang keluarga, pendidikan, pendapatan ketika aktif, hingga faktor budaya Jawa sesuai tempat survei dilakukan.

Hasilnya, signifikansi variabel finansial untuk jadi faktor pendorong seseorang untuk bekerja melewati batas usia pensiun (BUP) kalah dibandingkan dorongan variabel sosial, kepedulian, spiritual.

Apa kata mereka?

Lukas, seorang pensiunan guru mengatakan pensiun di usia 60 terasa begitu cepat. Kini, ia merasa matang menghadapi murid dan tidak lagi sibuk berkompetisi dengan rekan kerja yang bahkan justru termotivasi untuk membagikan pengalaman kepada guru-guru muda.

Senada dengan Lukas, Rahmat yang merupakan pensiunan kepala dinas pemda setempat mengutarakan bahwa dirinya sampai saat ini masih terus bekerja melampau batas usia pensiun seorang eselon II yaitu 60 tahun.

“Saya yakin masih bisa bermanfaat bagi sesama seperti berbagi pengalaman dan ilmu kepada yang lebih muda,” kata Rahmat, mantan kepala suatu dinas pemda setempat.

Tentunya kami juga menemukan lansia purnatugas yang justru ingin pensiun dini. Lilis, misalnya. Ia adalah pensiunan staf administrasi rumah sakit yang mengajukan pensiun dini karena faktor kesehatan yang memburuk dan merasa tak berkemampuan lagi dalam menjawab tantangan pekerjaan.

Berbeda dengan Lilis, alasan Rohim (guru) memilih pensiun lebih awal justru terkesan abstrak. Baginya, usia 60 tahunan adalah saatnya berfokus beribadah dan menggeser aktivitas ekonomi ke aktivitas sosial yang sifatnya informal tanpa aturan yang mengekang.

Berkaca dari penuturan Lukas, Rahmat, Lilis, dan Rohim (bukan nama sebenarnya), masing-masing individu memiliki preferensi pensiun tersendiri.

Kami menemukan pola bahwa alasan yang bersifat generatif (mewariskan pengalaman dan pengetahuan pada generasi muda), dan sosial cenderung membentuk preferensi pensiun lebih lama dari BUP.


Read more: Mau tinggal di mana saat tua nanti? Saatnya mempersiapkan diri jadi lansia mandiri


Riset kuantitatif kami pada awal 2025 menguatkan hal ini, bahwa tingkat keberlanjutan kerja pada mereka yang memaknai kerja secara sosial cenderung lebih tinggi.

Sementara alasan yang mendorong lansia menginginkan pensiun lebih awal cenderung bersifat teknis pekerjaan. Secara teoritis, usia lanjut sering diikuti dengan perubahan orientasi hidup.

Dan ketika sudah memasuki usia lanjut, lansia menaruh porsi yang kecil pada pencapaian materi dan mulai berfokus pada aspek spiritual, keluarga, dan sosial.

Mereka butuh fleksibilitas batas usia pensiun

Jika pengalaman menua seseorang berbeda satu sama lain, mengapa kebijakan batas usia pensiun dibuat sama?

Beragamnya preferensi para pensiunan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memerlukan kebijakan pensiun yang fleksibel alih-laih berpatok pada batas usia yang kaku.

Salah satu bentuknya adalah phased retirement (pensiun bertahap), yakni mengurangi tugas pegawai yang berusia lanjut agar berfokus pada pekerjaan yang sesuai dengan pengalamannya, misalnya tugas-tugas pendampingan.

Guru senior, misalnya, dapat berperan lebih banyak menjadi mentor bagi guru muda daripada mengajar secara penuh yang memungkinkan lansia mengurangi beban kerjanya.

Sementara bagi lansia yang masih ingin bekerja karena alasan keuangan maupun sosial, bridge employment dapat menjadi alternatif. Pekerja tidak langsung berhenti bekerja setelah pensiun, melainkan melanjutkan karier melalui pekerjaan paruh waktu, peran yang lebih ringan, atau pekerjaan baru di sektor yang berbeda.

Pendekatan ini dapat mengurangi praktik diskriminasi usia kerja dengan membuka peluang kerja yang lebih inklusif bagi lansia.

Di tengah masyarakat yang terus menua, tantangannya bukan sekadar memperpanjang masa kerja, melainkan memastikan bahwa mereka yang memilih tetap bekerja tidak terjebak menjadi animal laborans. Ini berarti memastikan bahwa mereka yang memilih pensiun tetap memiliki kesempatan menjalani hidup yang bermakna.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.