Fri,7 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Tradisi Subak Terdesak Alih Fungsi Lahan, Banjir sampai Serangan Hama

Tradisi Subak Terdesak Alih Fungsi Lahan, Banjir sampai Serangan Hama

tradisi-subak-terdesak-alih-fungsi-lahan,-banjir-sampai-serangan-hama
Tradisi Subak Terdesak Alih Fungsi Lahan, Banjir sampai Serangan Hama
service

Matahari sedang terik-teriknya. Namun, Made Kuter, masih  menyusuri pematang sawahnya. Tangan kanan lelaki 63 tahun ini memegang sendok. Tangan kiri memegang dua bungkus plastik. Satu bungkus plastik berisi racun tikus, plastik lainnya berisi daun pisang. Sudah beberapa tahun terakhir, Kuter, petani sawah di Subak Padang Legi, Desa Medahan, Kabupaten, Gianyar, Bali, merasakan hama yang terus meningkat, kesulitan air di sawah dan kini terancam banjir. Dia memiliki lahan sawah 30 are. Lahan pun terhimpit bangunan vila. Beberapa langkah berjalan, Kuter berhenti. Tangan kanan menyendok racun tikus yang dia buat secara tradisional.  Dia letakkan di atas daun, lalu  diletakkan di bawah semak-semak. “Ini racun tikus, isinya beras, racun tikus, kacang tanah. Supaya berbau, pang nyak enduse ken bikul, pang nyak amahe (biar mau dicium oleh tikus, biar dimakan sama tikus),” kata Kuter, Rabu (29/7/26). Kadang, dia campur racikan racun tikus itu  dengan ikan asin dan makanan lain yang berbau menyengat. Sejak tahun lalu, serbuan tikus kian merajalela dan terjadi dalam tiga periode tanam. Kini, satu petak sawah hampir sebagian terserang hama tikus. Padi menguning, tetapi tak bisa tumbuh lagi. “Sing kena ben ngorang liunne (tidak bisa dihitung banyaknya tikus),” katanya. Made Kuter meletakkan racun tikus di sela-sela rumput. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia “Ten karuan ngorang panen, ten misi yeh, yeh e nyat (tidak pasti panennya, tak ada air sekarang, airnya mengering).” Pekerjaan di sawah beberapa kali tertunda. Debit air kecil. Pembangunan sekitar juga menutup jalan air. “Kan misalne ada membangun, terpaksa nembok kanan-kiri. Ditutup saluran air, pang ngidang yo…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.