● Ada 26 juta orang dengan disabilitas di Indonesia.
● Sayangnya, mereka tidak bisa menikmati kekayaan panorama alam dan situs budaya-bersejarah Indonesia.
● Padahal, ada 26 juta orang dengan disabilitas yang bisa memberikan sumbangsih kepada industri pariwisata nasional.
Indonesia diberkahi dengan kakayaan pesona alam kelas dunia. Ada banyak potensi pariwisata bahari, pegunungan, hingga budaya yang bisa memanjakan mata dan telinga pelancong.
Sayangnya, banyak teman netra dan/atau low vision serta teman tuli yang tidak bisa menikmati keindahan tersebut. Mereka adalah kelompok yang selama ini paling sering dilupakan dalam perancangan destinasi budaya.
Di Indonesia ada sekitar 22,5 hingga 26 juta orang dengan disabilitas. Namun, banyak dari mereka masih menghadapi pengalaman wisata yang penuh hambatan, mulai dari kebutuhan yang tidak terakomodasi, ketergantungan pada pendamping, hingga minimnya ruang bagi suara mereka dalam pengembangan destinasi wisata.
Padahal, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO dan berbagai kerangka internasional menempatkan aksesibilitas dan partisipasi sebagai bagian penting dari prinsip destinasi yang berkelanjutan dan inklusif.
Jika situs warisan budaya diklaim sebagai ruang publik, maka pertanyaannya sederhana: Apakah teman-teman dengan disabilitas bisa menikmati kekayaan pariwisata nasional?
Pariwisata inklusif di Tamansari
Kami membuat dan melaksanakan panduan wisata multisensoris di obyek wisata Tamansari, Yogyakarta Mei lalu. Tujuannya sekaligus untuk mengukur sejauh mana panduan tersebut bisa membuat pelancong disabilitas lebih memahami lanskap cagar budaya tersebut.
Adapun panduan multisensoris adalah metode yang menggabungkan penggunaan dua atau lebih indra—seperti penglihatan (visual), pendengaran (auditori), sentuhan (taktil), dan gerakan (kinestetik)—secara bersamaan untuk meningkatkan pemahaman, daya ingat, dan keterlibatan aktif dalam proses belajar atau pengalaman
Bagi teman netra, misalnya, sangat penting untuk menggunakan suara, rabaan, dan atmosfer sekitar. Mereka mengenali ruang melalui gema, suhu, aroma, suara langkah kaki, dan bahkan tulisan menggunakan teknologi aplikasi pembaca gambar (image reader) dalam gawai mereka.
Sebaliknya, teman tuli memerlukan dukungan bahasa isyarat, suhu, sentuhan, dan atmosfer sekitar. Bukan hanya narasi verbal apalagi suara pemandu yang justru menciptakan jarak dan eksklusi bagi teman tuli.
Di sinilah kita seharusnya sadar bahwa tidak ada satu cara yang universal untuk memahami budaya. Cara teman netra dan tuli memaknai budaya itu menggunakan logika yang berbeda.
Kadang informasi tersedia, tapi maknanya tidak pernah sampai. Misalnya, ada pemandu wisata tetapi teman tuli tidak bisa mendengar mereka maupun paham apa yang mereka sampaikan.
Terlebih, teman netra harus berhadapan dengan destinasi yang memiliki banyak undakan, anak tangga, tembok yang rendah, dan ruang-ruang yang harus dimasuki dengan tidak mudah.
Pendekatan terbalik
Solusi untuk mencapai inklusivitas pariwisata ternyata bukan membuat orang mengalami hal yang sama—justru sebaliknya. Pengalaman budaya yang ramah disabilitas dapat lahir ketika setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mencapai makna yang setara.

Proyek kami melibatkan teman netra dan tuli untuk berkreasi bersama (co-creation) pada alat multisensoris saat melancong di Tamansari yang berguna bagi mereka sendiri.
Bagi teman tuli, alatnya adalah video dari guide dengan bahasa isyarat yang direkam di setiap titik penting sesuai alur dan jalur destinasi.
Lain cerita bagi teman netra dan low vision. Untuk mereka, alatnya ada dua: bisa berupa teks yang mereka baca melalui aplikasi image reader atau panduan suara berbentuk video yang menjelaskan titik-titik strategis bagi teman netra.
Yang membedakan adalah, isi dari teks maupun audio harus memuat informasi navigasi misalnya mengenai jarak, langkah, maupun berapa meter dari satu titik ke titik lain.
Selain itu, aspek-aspek visual yang penting di suatu titik juga perlu digambarkan. Ini mencakup bentuk, warna, hingga tekstur.
Read more: Rupiah anjlok, turis asing melonjak: Catatan kritis daya saing pariwisata nasional
Kendala jadi pelajaran berharga
Dalam prosesnya, kami juga mengalami kendala. Mulanya kami sempat mengira bahwa pengalaman budaya harus disampaikan secara puitis dan mendalam.
Ternyata, sebagian peserta netra lebih membutuhkan informasi yang ringkas, lugas, dan membantu mereka menjelajahi Tamansari secara mandiri.
Penuntun audio yang kami buat juga terlalu panjang dan terlalu estetik sehingga malah mengganggu teman netra untuk memahami inti pesan. Kami kemudian merevisi penuntun audie menjadi lebih pendek, lebih jelas, dan langsung memberikan informasi yang diperlukan.
Hal serupa terjadi pada teman tuli. Pada awalnya tim ingin menampilkan gambar-gambar destinasi yang lebih menarik secara visual. Namun ternyata elemen visual tersebut justru mengganggu fokus terhadap penerjemah bahasa isyarat.
Berdasarkan masukan dari komunitas tuli, video kemudian diperbaiki agar lebih mengutamakan keterbacaan bahasa isyarat dibandingkan aspek estetika semata.
Orang dengan disabilitas mesti terlibat
Pengalaman kami menunjukkan bahwa pariwisata inklusif tidak bisa dirancang berdasarkan asumsi pembuatnya. Inklusi harus dibangun melalui dialog, mendengarkan, dan proses pembuatan bersama (kokreasi) mereka yang akan menggunakannya.
Selama ini, banyak diskusi pelestarian cagar budaya berfokus pada aspek fisik: bagaimana melindungi bangunan, bagaimana mempertahankan struktur asli, atau bagaimana memastikan renovasi tidak merusak nilai sejarah.
Isu disabilitas pun masih sering ditempatkan sekadar pelengkap, bukan bagian inti dari perencanaan dan evaluasi situs warisan budaya.

Padahal, berbagai instrumen internasional, termasuk pendekatan heritage impact assessment (HIA) yang dibuat UNESCO, semakin menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak sosial dari pengelolaan warisan budaya. Aksesibilitas dan pengalaman pengunjung yang beragam termasuk di dalamnya.
Kabar baiknya, solusi dari hasil penelitian kami menunjukkan bahwa membuat pariwisata ramah disabilitas tidak selalu mahal. Yang terpenting justru adalah pelibatan orang dengan disabilitas di dalamnya.
Sebuah situs budaya ataupun pariwisata takkan benar-benar menjadi warisan bersama jika hanya dapat dipahami oleh sebagian warga saja. Pelestarian budaya bukan hanya menjaga tembok, relief, atau bangunan tua tetap berdiri.
Pelestarian budaya juga berarti memastikan setiap warga memiliki hak yang sama untuk mengalami, memahami, dan memaknainya tanpa terkecuali.
Read more: Ingin pariwisata lebih berkelanjutan? Ini 5 cara yang bisa dilakukan desa wisata





Comments are closed.