Mubadalah.id – Ada beberapa pertemuan dalam hidup yang awalnya terasa biasa saja. Tidak ada seremoni, dan tidak ada sambutan khusus. Bahkan mungkin hanya sebuah notifikasi kecil di media sosial. Begitulah awal perjumpaanku dengan Prof. Dr. Faqihuddin Abdul Kodir.
Kalau aku ingat-ingat lagi, semuanya bermula sekitar Juli 2017. Saat itu Facebook masih menjadi salah satu ruang yang cukup ramai bagiku untuk berbagi pikiran, cerita, juga kegelisahan. Entah postingan apa yang kutulis waktu itu, tetapi di antara komentar yang masuk, ada satu komentar dari seorang bernama Faqih Abdul Kodir.
Beliau mengajakku untuk menulis di sebuah website bernama Mubadalah. Sesederhana itu. Tidak ada bayangan bahwa sebuah komentar di Facebook itu kelak akan membawa begitu banyak perubahan dalam perjalanan hidupku.
Awal Agustus 2017, aku akhirnya bertemu langsung dengan beliau di kantor Fahmina Cirebon. Dari pertemuan itulah, aku mulai secara resmi menjadi salah satu kontributor Mubadalah. Saat itu mungkin aku hanya berpikir, baiklah, aku akan mencoba menulis.
Tetapi hidup sering kali bergerak jauh melampaui rencana yang kita bayangkan.
Hari ini, ketika menoleh ke belakang, aku menyadari bahwa sudah hampir sembilan tahun perjalanan itu berlangsung. Sembilan tahun yang tidak hanya berisi tulisan demi tulisan, rapat demi rapat, atau pekerjaan mengelola media. Ada proses belajar yang pelan-pelan membentuk cara berpikirku, cara melihat perempuan, agama, relasi manusia, keadilan, bahkan cara memahami diriku sendiri.
Dan di sepanjang perjalanan itu, Prof. Faqih adalah salah satu orang yang memiliki pengaruh sangat besar. Bagi banyak orang, beliau mungkin dikenal sebagai cendekiawan Muslim, penggagas perspektif Mubadalah, penulis buku, aktivis, pendiri Mubadalah.id, dan kini Guru Besar Ilmu Hukum Islam dan Gender di UIN Siber Syeikh Nurjati Cirebon.
Tetapi bagiku, beliau juga seorang guru. Guru yang mengajarkan bahwa ilmu tidak harus selalu tinggal di ruang-ruang akademik. Bahwa gagasan besar bisa kita sampaikan dengan bahasa yang sederhana. Islam bisa dibaca dengan cara yang lebih adil terhadap perempuan. Bahwa pengalaman hidup perempuan bukan sesuatu yang berada di pinggir teks dan pengetahuan.
Dan mungkin yang paling penting, beliau adalah salah satu orang yang membuatku percaya bahwa menulis bisa menjadi bagian dari perjuangan itu. Mubadalah sendiri, dalam perjalanan hidupku, bukan sekadar sebuah website tempat aku mengirimkan tulisan. Ia menjadi ruang belajar. Ruang bertumbuh. Ruang untuk bertemu dengan banyak orang, banyak gagasan, dan tentu saja banyak kegelisahan.
Prof. Faqih telah meletakkan fondasi awal bagi keberadaan Mubadalah melalui perspektif dan gagasan tentang kesalingan. Sebuah cara pandang yang kemudian tidak hanya berkembang menjadi wacana, tetapi juga menjelma menjadi ruang belajar bersama, gerakan, dan tentu saja rumah bagi banyak tulisan.
Nama Pena dan Mengelola Media
Lalu pada Maret 2020, sebuah kepercayaan besar diberikan kepadaku. Mengelola Mubadalah.id sampai hari ini. Aku sering berpikir, mungkin perjalanan itu tidak akan pernah terjadi jika pada Juli 2017 beliau tidak meninggalkan komentar di salah satu postinganku di Facebook.
Mungkin terdengar berlebihan. Tetapi memang begitulah hidup bekerja. Kadang sebuah pertemuan besar justru kita mulai dari sesuatu yang sangat kecil. Bahkan nama yang selama ini kupakai sebagai nama pena, Zahra Amin, juga memiliki jejak beliau di dalamnya.
Aku masih mengingat bagaimana nama itu pertama kali dicetuskan. Alasannya sederhana, lebih ringkas dan mudah teringat. Zahra Amin, dua kata sederhana, tetapi kemudian nama itu ikut berjalan bersamaku ke mana-mana. Tertulis di bawah artikel-artikel yang kutulis. Muncul dalam berbagai forum, kegiatan, dan perjalanan sebagai penulis maupun aktivis perempuan.
Kadang aku tersenyum sendiri ketika memikirkannya. Bahkan sebuah nama yang kemudian menjadi bagian dari identitasku sebagai penulis, ternyata juga lahir dari percakapan dan perhatian seorang guru.
Mungkin itulah yang dilakukan seorang guru, tanpa selalu ia sadari. Ia tidak hanya mengajarkan sesuatu di dalam kelas. Kadang ia membuka pintu. Memperkenalkan kita pada sebuah jalan. Kadang ia memberi kepercayaan ketika kita sendiri belum sepenuhnya yakin mampu berjalan sejauh itu.
Lalu, bertahun-tahun kemudian, ketika kita menoleh ke belakang, kita baru menyadari bahwa ada seseorang yang pernah berdiri di salah satu titik penting perjalanan kita.
Suka Cita Pengukuhan Guru Besar
Hari ini, Kamis, 13 Agustus 2026, Prof. Dr. Faqihuddin Abdul Kodir dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Hukum Islam dan Gender di UIN Siber Syeikh Nurjati Cirebon. Tentu, pengukuhan ini adalah pencapaian akademik yang sangat penting. Sebuah pengakuan atas perjalanan panjang keilmuan, pemikiran, pengabdian, dan kerja intelektual yang selama ini beliau lakukan.
Tetapi sebagai seseorang yang mengenalnya bukan hanya melalui buku atau panggung seminar, akan tetapi melalui perjalanan belajar yang cukup panjang, aku merasa hari itu juga merupakan kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan kami.
Dari sebuah komentar di Facebook. Sebuah ajakan untuk menulis. Pertemuan pertama pada awal Agustus 2017 menjadi kontributor Mubadalah. Belajar tentang perspektif Mubadalah, lalu mendapat kepercayaan untuk mengelola Mubadalah.id sejak Maret 2020. Dan terus berjalan hingga hari ini.
Sembilan tahun kemudian, aku masih di sini. Masih belajar menulis, dan percaya bahwa kata-kata dapat menjadi jalan untuk menghadirkan perubahan.
Tentu saja, perjalanan ini bukan hanya karena satu orang. Ada banyak orang, pengalaman, peristiwa, kegagalan, dan perjuangan yang membentuk siapa diriku hari ini. Tetapi aku tidak bisa menutup mata bahwa Prof. Faqih adalah salah satu bagian penting dari perjalanan itu.
Karena itu, hari ini aku ingin ikut bersuka cita. Bukan hanya karena seorang cendekiawan dan pejuang keadilan gender dikukuhkan sebagai Guru Besar. Tetapi juga karena seorang guru yang pernah mengajak seorang perempuan untuk menulis melalui sebuah komentar sederhana di Facebook, kini sampai pada salah satu tonggak penting dalam perjalanan akademiknya.
Selamat atas pengukuhan Guru Besar, Prof. Terima kasih telah mengajarkan banyak hal, bahkan mungkin melalui cara-cara yang tidak selalu terasa seperti sebuah pelajaran. Terima kasih telah membuka pintu. Terima kasih atas kepercayaannya selama ini.
Dan terima kasih karena, sembilan tahun lalu, di tengah sekian banyak postingan yang mungkin lalu-lalang di Facebook, Prof. memilih untuk meninggalkan sebuah komentar yang kemudian mengubah arah perjalanan hidup seorang perempuan bernama Zahra Amin.
Selamat, Prof. Dr. Faqihuddin Abdul Kodir. Hari ini, seorang guru besar dikukuhkan. Dan di antara rasa bangga itu, ada seorang murid yang diam-diam tersenyum, mengingat bagaimana semuanya pernah dimulai dari sebuah komentar di Facebook. []





Comments are closed.