Mubadalah.id – Hari ini menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan akademik Prof. Dr. Faqihuddin Abdul Kodir, terutama dengan dikukuhkannya beliau sebagai guru besar dalam bidang Hukum Islam dan Gender di Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC).
Bagi saya, pengukuhan tersebut bukan sekadar pencapaian akademik seorang guru besar. Lebih dari itu, perjalanan akademik beliau menjadi bagian dari perjalanan belajar saya.
Beliau adalah salah satu guru sekaligus orang tua dalam proses belajar saya, terutama sejak saya mulai kuliah di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) dan mengikuti Pelatihan Menulis Mubadalah angkatan pertama tahun 2017.
Dari proses tersebut, saya mulai memahami bahwa menulis bukan sekadar aktivitas untuk menghasilkan sebuah tulisan. Menulis adalah cara untuk belajar, membaca realitas, menyampaikan pengalaman, sekaligus menghadirkan gagasan yang dapat memberi manfaat bagi orang lain.
Pelatihan Menulis Mubadalah menjadi salah satu ruang yang memperkenalkan saya pada cara pandang tersebut. Saya belajar mengenai bagaimana pengalaman dan persoalan yang terjadi di sekitar dapat diolah menjadi pengetahuan.
Dari sana pula perjalanan menulis saya terus berkembang. Hingga kemudian, saya mendapat kesempatan untuk bekerja di Mubadalah.id pada tahun 2022, media yang didirikan oleh Prof. Faqih.
Bekerja di Mubadalah menjadi pengalaman belajar yang sangat berarti. Setiap hari saya berhadapan dengan tulisan, gagasan, isu sosial, keislaman, perempuan, relasi gender, dan berbagai pengalaman yang perlu dituliskan dengan perspektif yang adil.
Di sana saya belajar bahwa menulis dengan perspektif mubadalah bukan hanya soal menggunakan istilah tertentu dalam sebuah tulisan. Lebih jauh, perspektif tersebut mengajak penulis untuk melihat manusia sebagai subjek yang memiliki pengalaman, hak, dan martabat yang sama.
Saya juga belajar bahwa tulisan dapat menjadi ruang untuk menghadirkan pengalaman kelompok yang selama ini kurang terdengar. Pengalaman perempuan, kelompok marginal, penyandang disabilitas, maupun kelompok lainnya tidak semestinya hanya menjadi objek. Sebab mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman yang penting untuk didengarkan.
Konsep Baru Ala Prof. Faqih: Epistemic Partnership
Dalam perjalanan akademiknya, Prof. Faqih juga terus memperkenalkan gagasan-gagasan baru. Salah satu yang terbaru adalah konsep epistemic partnership.
Melalui konsep tersebut, beliau menjelaskan pentingnya membangun relasi kemitraan dalam proses produksi pengetahuan. Sebab, pengetahuan tidak seharusnya hanya lahir dari satu pihak yang dianggap paling tahu, sementara pihak lain hanya ditempatkan sebagai objek yang menerima pengetahuan.
Sebaliknya, setiap orang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang dapat menjadi sumber pembelajaran. Relasi pengetahuan perlu dibangun melalui dialog, saling mendengarkan, dan kemitraan.
Dengan cara ini, proses belajar tidak berjalan satu arah, tetapi menjadi ruang untuk saling memperkaya pengetahuan.
Gagasan tersebut bagi saya memiliki hubungan yang kuat dengan perjalanan saya dalam menulis. Sebab, semakin lama belajar menulis, saya semakin memahami bahwa tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang memiliki bahasa bagus.
Tulisan juga membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan pengalaman orang lain dan memahami persoalan dari berbagai sudut pandang.
Hari yang Sangat Membahagiakan
Karena itu, pengukuhan Prof. Faqih sebagai guru besar hari ini menjadi sesuatu yang sangat membahagiakan sekaligus mengharukan bagi saya.
Saya melihat perjalanan akademik beliau sebagai perjalanan panjang dalam membangun pengetahuan, mengembangkan gagasan, dan membuka ruang belajar bagi banyak orang.
Bagi saya, beliau adalah salah satu sosok yang menunjukkan bahwa proses belajar tidak pernah berhenti. Gelar akademik bukan titik akhir, melainkan bagian dari perjalanan untuk terus membaca, menulis, berpikir, dan memberikan manfaat.
Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari ruang-ruang belajar yang beliau bangun. Mulai dari mengikuti Pelatihan Menulis Mubadalah, belajar di lingkungan ISIF, hingga kemudian bekerja di Mubadalah.id.
Perjalanan tersebut membuat saya semakin percaya bahwa menulis dapat menjadi jalan pengabdian. Melalui tulisan, seseorang dapat menyampaikan pengetahuan, merekam pengalaman, sekaligus menawarkan cara pandang yang lebih adil dan setara.
Pengukuhan ini sekaligus menjadi pengingat bagi saya untuk terus belajar dan menulis. Perjalanan Prof. Faqih menjadi teladan bahwa pengetahuan perlu terus kita kembangkan dan bagikan untuk kehidupan yang lebih adil dan setara.
Selamat atas pengukuhan sebagai Guru Besar Prof. Faqih. Semoga capaian akademik ini menjadi pintu bagi lahirnya lebih banyak pengetahuan, gagasan, dan ruang belajar yang membawa kemaslahatan bagi banyak orang. []





Comments are closed.