Rosi tengah sibuk mencuci pakaian di Batang (Sungai) Kuranji. Satu baskom penuh pakaian kotor dia angkut dengan sepeda motor dari rumahnya di Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Padang, Sumatera Barat (Sumbar) sejauh sekitar satu kilometer. Sejak sumur di rumahnya mengering, sungai itu menjadi tempat mencuci sekaligus mandi keluarganya. Setiap pagi, sebelum matahari terlalu terik, perempuan 45 tahun itu membawa pakaian ke tepi sungai, sementara air bersih yang dahulu mengalir dari keran rumah kini tinggal kenangan. Kekeringan mulai mereka rasakan setelah banjir bandang menerjang kawasan itu, akhir November 2025. Meski sudah delapan bulan berlalu, tetapi sumur mereka belum juga pulih. “Sumur kering sejak banjir akhir tahun lalu itu. Kami sudah coba gali lebih dalam, tetap tidak keluar air,” kata Rosi, Sabtu (25/7/26). Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, suaminya harus mencari air ke sumber mata air di perbukitan dan membawa pulang menggunakan jeriken. Air itu untuk memasak, mandi, dan kebutuhan anak-anak mereka sebelum berangkat sekolah. “Kalau anak sekolah, kami usahakan tetap ada air bersih. Jangan sampai gara-gara air, sekolahnya terganggu,” katanya. Sisa-sisa potongan kayu terbawa banjir di Sumbar tersangkut di jembatan di jembatan. Foto: Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia. Krisis air bersih, bergantung bantuan pemerintah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padang memang mendistribusikan air kepada warga. Namun mobil tangki tidak datang setiap harihingga tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Evi, warga lainnya ceritakan hal serupa. Sebelum banjir bandang, tak pernah membayangkan harus mengatur penggunaan air sedemikian ketat karena air bersih selalu tersedia di rumahnya. Kini, dia harus menghemat untuk setiap tetesnya. Untuk mencuci, dia kerap…This article was originally published on Mongabay
Warga Alami Krisis Air Bersih Ketika Hutan Penyangga Padang Rusak
Warga Alami Krisis Air Bersih Ketika Hutan Penyangga Padang Rusak





Comments are closed.