Jakarta –
Keguguran bukan hal yang mudah untuk diterima. Kehilangan kehamilan bisa berarti kehilangan harapan, rencana, dan bayangan tentang kehidupan bersama calon bayi.
Ketika istri berduka karena keguguran, kehadiran suami dapat menjadi sumber dukungan yang penting untuk membantunya melewati masa berduka.
Bagi istri, keguguran bisa terasa sangat nyata karena ia mengalami secara langsung berbagai perubahan dan proses kehamilan. Namun, suami juga dapat merasakan duka setelah kehilangan kehamilan, meski cara setiap orang dalam merasakan dan menunjukkannya bisa berbeda-beda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menyebutkan bahwa setelah kehilangan kehamilan, seseorang dapat merasakan kesedihan, kecemasan, marah, bahkan perasaan yang bercampur. Respons setiap orang terhadap kehilangan juga dapat berbeda, termasuk antara pasangan.
Lantas, bagaimana cara suami mendampingi dan menguatkan istri setelah keguguran?
Tidak ada satu cara yang cocok untuk semua pasangan. Namun, beberapa bentuk dukungan sederhana berikut dapat membantu istri melewati masa berduka sekaligus menjaga komunikasi dalam rumah tangga yang dirangkum dari berbagai sumber.
1. Beri ruang untuk istri berduka
Suami tidak perlu buru-buru membuat istri kembali ceria atau meminta dirinya segera melupakan keguguran.
Biarkan Bunda menangis, diam, bercerita, atau sekadar ingin ditemani. Suami tidak harus selalu menemukan kata-kata yang tepat untuk menghilangkan kesedihan tersebut.
Kalimat sederhana seperti, “Aku di sini sama kamu” atau “Kamu nggak harus kuat sekarang” bisa menjadi bentuk kehadiran yang berarti.
ACOG menyebutkan bahwa tidak ada satu cara yang benar dalam berduka setelah kehilangan kehamilan. Setiap orang membutuhkan waktu dan cara yang berbeda untuk memproses kehilangan tersebut.
2. Yakinkan bahwa keguguran bukan salahnya
Sebagian perempuan dapat menyalahkan dirinya sendiri setelah mengalami keguguran. Istri akan bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang dilakukan atau tidak dilakukan sehingga harus keguguran.
Saat kondisi seperti ini, Ayah dapat membantu dengan mengingatkan bahwa keguguran bukan berarti kesalahan Bunda.
ACOG menjelaskan bahwa dalam hampir semua kasus, keguguran bukan disebabkan oleh sesuatu yang dilakukan perempuan. Pada sekitar setengah kasus keguguran awal, penyebabnya berkaitan dengan embrio yang tidak berkembang secara normal, sering kali akibat kelainan jumlah kromosom.
Karena itu, hindari kalimat seperti, “Mungkin waktu itu kamu terlalu capek,” “Harusnya lebih banyak istirahat,” atau “Jangan stres.”
Alih-alih mencari siapa yang salah, suami bisa mengatakan, “Ini bukan salah kamu. Aku tahu kamu sudah berusaha.”
3. Jangan membandingkan cara berduka
Suami mungkin menangis, tetapi bisa juga justru lebih banyak diam. Ada yang ingin membicarakan kehilangan berulang kali, sementara yang lain memilih sibuk dengan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.
Melansir Focus on The Family, perbedaan tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa salah satu pasangan lebih mencintai calon bayi atau lebih sedikit merasakan kehilangan.
Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam jurnal Qualitative Health Research menemukan bahwa cara pria menghadapi kehilangan setelah keguguran sangat beragam.
Banyak pria merasa perlu berfokus mendukung pasangannya, tetapi pada saat yang sama juga mengalami kesedihan dan kehilangan mereka sendiri yang tidak selalu mudah diungkapkan.
Karena itu, suami tidak perlu memaksakan diri untuk berduka dengan cara yang sama seperti istri. Sebaliknya, istri juga tidak perlu menganggap suami tidak sedih hanya karena ia tidak menangis.
4. Tanyakan apa yang dibutuhkan, bukan langsung mencoba “memperbaiki” keadaan
Suami mungkin ingin segera melakukan sesuatu agar istrinya tidak sedih. Misalnya mengajak jalan-jalan, membeli makanan kesukaan, atau mengatakan bahwa mereka bisa mencoba hamil lagi.
Niatnya tentu baik. Namun, pada saat tertentu, istri mungkin belum membutuhkan solusi.
Ayah bisa menanyakan terlebih dahulu, “Kamu mau aku temani, dengarkan, atau bantu melakukan sesuatu?”
Pertanyaan sederhana ini memberi kesempatan pada istri untuk menyampaikan kebutuhan tanpa harus menebak-nebak maksud pasangan.
Penelitian terhadap 298 perempuan yang mengalami keguguran dalam satu tahun sebelumnya menemukan bahwa komunikasi suportif dari pasangan berperan dalam hubungan antara duka setelah keguguran dan post-traumatic growth.
5. Bantu menghadapi pertanyaan dari keluarga atau orang lain
Menceritakan keguguran berkali-kali bisa melelahkan, terutama ketika kondisi emosional belum stabil.
Suami dapat membantu dengan menjadi orang yang menyampaikan kabar kepada keluarga atau teman yang perlu mengetahui. Jika ada pertanyaan yang membuat istri tidak nyaman, suami juga dapat membantu mengalihkan pembicaraan.
Misalnya, “Untuk sekarang kami masih berduka, jadi mungkin belum siap membicarakan detailnya.”
Istri tidak harus menjelaskan kronologi keguguran kepada semua orang.
ACOG juga menekankan bahwa setiap orang memiliki pilihan mengenai seberapa banyak pengalaman kehilangan ingin dibagikan kepada orang lain.
6. Tetap hadir dalam hal-hal kecil
Dukungan tidak selalu harus berupa percakapan panjang.
Suami bisa membantu menyiapkan makanan, mengambilkan minum, menemani kontrol, mengurus pekerjaan rumah, atau sekadar duduk di samping istri ketika sedang menangis.
Hal-hal kecil seperti ini dapat menunjukkan bahwa istri tidak menghadapi masa sulit tersebut sendirian.
Dukungan praktis juga penting karena pemulihan setelah keguguran tidak hanya menyangkut kondisi emosional, tetapi juga kondisi fisik.
7. Jangan memaksa istri segera hamil lagi
Setelah keguguran, mungkin muncul keinginan untuk segera mencoba kembali. Namun, kesiapan setiap pasangan berbeda.
Jangan menganggap kehamilan berikutnya otomatis akan menghilangkan rasa kehilangan sebelumnya.
ACOG menjelaskan bahwa kehamilan berikutnya dapat disertai berbagai perasaan, termasuk kebahagiaan sekaligus kecemasan atau kekhawatiran setelah mengalami kehilangan sebelumnya.
Karena itu, pembicaraan mengenai kehamilan berikutnya sebaiknya dilakukan ketika pasangan sudah siap secara fisik dan emosional serta telah mendapatkan arahan dokter.
8. Beri kesempatan untuk mengenang kehamilan yang hilang
Tidak semua orang ingin melakukan sesuatu untuk mengenang calon bayi. Namun, untuk sebagian pasangan, membuat kenangan dapat membantu memberikan ruang bagi rasa kehilangan.
Misalnya menulis surat untuk calon bayi, menyimpan hasil USG, membuat album kecil, menanam tanaman, atau melakukan ritual perpisahan sesuai keyakinan dan kenyamanan keluarga.
Tidak ada aturan bahwa seseorang harus mengenang atau tidak boleh mengenang keguguran.
ACOG juga menyebutkan bahwa cara seseorang memberikan ruang untuk berduka merupakan pilihan pribadi. Sebagian orang mungkin merasa terbantu dengan ritual atau upacara tertentu, sementara yang lain tidak membutuhkannya.
9. Jangan lupa bahwa suami juga sedang berduka
Mendampingi istri bukan berarti suami harus mengabaikan perasaannya sendiri.
Penelitian menunjukkan bahwa pria juga dapat mengalami kesedihan setelah kehilangan kehamilan. Namun, mereka sering merasa harus menjadi pihak yang kuat dan mendukung pasangan sehingga duka mereka sendiri kurang mendapatkan perhatian.
Karena itu, suami juga boleh mengatakan, “Aku juga sedih. Aku juga kehilangan.”
Justru komunikasi yang terbuka mengenai perasaan masing-masing dapat membantu pasangan memahami bahwa mereka sedang menghadapi kehilangan yang sama, meski cara berdukanya berbeda.
Jangan buru-buru meminta istri untuk move on
Salah satu hal yang mungkin paling sulit setelah keguguran adalah melihat orang lain kembali menjalani kehidupan seperti biasa, sementara diri sendiri masih merasa kehilangan.
Untuk itu, suami sebaiknya tidak mengatakan:
“Sudah, jangan dipikirkan terus.”
“Nanti juga hamil lagi.”
“Kan masih bisa punya anak lagi.”
“Mungkin memang belum rezekinya.”
“Kamu harus kuat.”
Kalimat tersebut mungkin dimaksudkan untuk menghibur, tetapi bisa membuat perasaan istri terasa tidak diakui.
Lebih baik katakan, “Aku tahu ini berat. Kamu nggak harus cepat-cepat baik-baik saja.”
Kapan perlu mencari bantuan profesional setelah keguguran?
Kesedihan setelah keguguran merupakan hal yang wajar. Namun, jika perasaan tersebut terasa semakin berat dan mengganggu kehidupan sehari-hari, pasangan suami istri (pasutri) sebaiknya tidak ragu mencari bantuan.
ACOG menyarankan berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan mental jika setelah kehilangan muncul gejala seperti kecemasan berlebihan, sulit tidur, sulit berkonsentrasi atau merawat diri, kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari, merasa putus asa atau tidak berharga, mengalami kilas balik atau mimpi buruk, maupun memiliki pikiran untuk menyakiti diri.
Suami dapat membantu dengan menemani istri mencari bantuan, membuat janji konsultasi, atau sekadar berada di sampingnya saat menjalani pemeriksaan.
Jika suami sendiri merasa kesulitan menghadapi duka, ia juga berhak mendapatkan dukungan.
ACOG menyebutkan bahwa jika salah satu atau kedua pasangan kesulitan menghadapi perasaan setelah kehilangan kehamilan, mereka dapat membicarakannya dengan dokter kandungan, konselor, atau mempertimbangkan terapi pasangan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)





Comments are closed.