Tue,25 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Single Gara-Gara Kapitalisme?

Single Gara-Gara Kapitalisme?

single-gara-gara-kapitalisme?
Single Gara-Gara Kapitalisme?
service

Semakin banyak orang Indonesia berstatus single, tapi itu bukan tanda mereka menolak menikah. Byung-Chul Han, lewat Agony of Eros, menjelaskan kenapa kapitalisme membuat kata “belum siap” nyaris tidak pernah berakhir.


PinterPolitik.com

Status single di Indonesia sedang naik, dan itu bukan cuma perasaan. Data BPS mencatat 71 persen penduduk usia 16 sampai 30 tahun belum menikah pada 2025, naik dari 59,82 persen pada 2020.

Tapi angka ini gampang disalahartikan sebagai penolakan terhadap pernikahan itu sendiri. Survei Databoks pada Agustus 2025 justru menemukan kebanyakan anak muda Indonesia masih ingin menikah, hanya saja dalam format yang sederhana.

Dengan kata lain, yang meningkat bukan jumlah orang yang bilang “tidak”, melainkan jumlah orang yang terus bilang “belum”. Filsuf Korea-Jerman Byung-Chul Han punya penjelasan kenapa kata “belum” itu bisa berlangsung nyaris tanpa akhir.

Dalam The Agony of Eros (2012), Han menulis bahwa dalam kondisi masyarakat prestasi (achievement society), ciri kapitalisme lanjut yang menuntut setiap orang terus mengoptimalkan diri sebagai proyek produktivitas, sedang mengikis kapasitas manusia untuk Eros, yaitu keterbukaan pada orang lain yang menuntut penyerahan diri tanpa kalkulasi. Begitu seluruh energi psikis habis untuk optimasi diri, penyerahan semacam itu ikut ditunda tanpa henti.

Kalau Han benar, semestinya jejaknya bisa dilacak lewat cara anak muda Indonesia benar-benar memutuskan, atau menunda, hubungan serius.

Tapi apakah “belum siap” ini benar-benar soal kapasitas mencintai yang terkikis, atau cuma cara sopan untuk bilang belum mampu secara ekonomi? Dan kalau sebagian orang mulai bilang lebih baik sendiri, apakah itu tanda mereka sudah berhasil memilih dengan bebas, atau justru tanda paling jelas bahwa achievement society sudah bekerja?

Bukan Menolak, Tapi Terus Menunda

Penundaan ini punya pola yang bisa dilacak. Jumlah pernikahan nasional turun dari sekitar 2,1 juta peristiwa pada 2014 menjadi 1,4 juta pada 2024, anjlok hampir 30 persen dalam satu dekade.

Usia kawin pertama perempuan juga bergeser dari rata-rata 23,1 tahun pada 2015 ke 25,1 tahun pada 2025. Pergeseran ini konsisten dengan argumen Han: subjek prestasi menunda penyerahan diri sampai merasa sudah cukup “lolos” secara finansial dan karier.

Survei JakPat pada Juni 2025 menunjukkan seberapa konkret standar itu, dengan 41 persen anak muda menganggap anggaran pernikahan ideal ada di kisaran Rp50 juta sampai Rp100 juta. Di sejumlah daerah seperti Bugis-Makassar dan Minang, tradisi uang panai dan uang japuik bahkan mematok angka itu secara eksplisit sebelum restu diberikan.

Instrumen negara pun ikut menambah lapisan penundaan ini. Revisi UU Perkawinan pada 2019 menaikkan usia minimal menikah perempuan dari 16 menjadi 19 tahun, dan sejumlah pejabat Kementerian Agama sendiri menyebutnya sebagai salah satu faktor turunnya angka pernikahan tercatat.

Menariknya, standar ini tidak berhenti begitu saja ketika orang benar-benar mencoba mencari pasangan. Databoks mencatat hanya sedikit pengguna aplikasi kencan yang akhirnya sampai ke pelaminan, tanda bahwa mencoba pun tidak otomatis mempercepat kesiapan yang dituntut oleh diri sendiri.

Di titik ini, sebagian orang mulai membingkai ulang penundaan itu sebagai keputusan yang sengaja, bukan keterpaksaan. Tetap sendiri, secara logika pasar, memang terasa lebih efisien: seluruh penghasilan bisa diinvestasikan ke diri sendiri, mobilitas kerja tidak terhambat tanggungan, dan waktu bisa sepenuhnya dipakai mengejar target karier.

Argumen ini semakin kuat kalau dikaitkan dengan pasar kerja yang makin fleksibel dan tidak menentu. Kontrak pendek, kerja lepas, dan tuntutan untuk selalu siap pindah kota demi peluang karier membuat pasangan atau keluarga terasa seperti beban tambahan yang sulit dikelola, bukan sumber dukungan.

Han akan membaca narasi “lebih baik sendiri” ini bukan sebagai pembebasan, tapi sebagai bukti paling telak bahwa logika prestasi sudah menembus ruang paling privat sekalipun. 

Bahkan keputusan untuk tidak menikah pun akhirnya dijustifikasi lewat bahasa efisiensi dan produktivitas, bukan lewat penolakan sadar terhadap pernikahan itu sendiri.

Sandwich generation adalah contoh nyata dari kapasitas yang sudah terpakai duluan. Survei Katadata pada September 2025 menemukan 62 persen generasi sandwich Indonesia sampai mengambil pinjaman demi menutup kewajiban finansial ke orang tua atau adik, energi yang menurut logika Han seharusnya bisa dialokasikan untuk membangun keterbukaan pada rumah tangga baru.

Tapi generalisasi ini perlu dijaga agar tidak berlebihan. Sebagian orang memang benar-benar memilih hidup sendiri karena preferensi otentik, bukan cuma rasionalisasi dari ketidakmampuan ekonomi.

Tekanan biaya hidup yang nyata seperti upah stagnan serta uang panai tetap jadi penjelasan yang berjalan paralel, bukan tergantikan, oleh argumen psikologis Han.

Tapi kalau menunda menikah dan memilih sendiri sama-sama bisa dibaca sebagai produk achievement society, adakah ruang tersisa yang benar-benar bebas dari logika itu? Dan kalau tidak ada, apa yang sebenarnya terjadi pada status “single” itu sendiri dalam jangka panjang?

Ketika “Memilih Sendiri” Pun Sudah Diprogram

Status single hari ini bukan keputusan yang selesai ke arah mana pun.

“Single” bukan penolakan permanen terhadap pernikahan, tapi juga bukan pilihan bebas yang murni dirayakan sebagai identitas.

Ia lebih tepat dibaca sebagai titik cek yang terus diperbarui setiap kali standar prestasi berikutnya muncul. Begitu satu target tercapai, seperti karier atau tabungan, akan selalu ada target baru yang membuat kata “belum siap” punya alasan baru untuk bertahan.

Ironinya, narasi “lebih baik sendiri” yang terdengar seperti kemenangan personal justru mengunci orang lebih dalam ke logika yang sama.

Semakin seseorang membenarkan status single lewat bahasa efisiensi dan optimalisasi diri, semakin jauh pula ia dari definisi cinta yang sebenarnya, yaitu penyerahan yang tidak bisa dan tidak perlu dijustifikasi secara rasional.

Ini juga menjelaskan kenapa dua narasi yang tampak bertentangan, yaitu “aku belum siap” dan “aku lebih baik sendiri”, sebenarnya berasal dari akar yang sama. Keduanya sama-sama cara untuk menghindar dari kerentanan yang dituntut cinta, hanya dibungkus dengan bahasa yang berbeda.

Kapitalisme tidak melarang orang untuk mencintai, tapi kapitalisme memastikan bahwa “belum siap” selalu punya alasan baru untuk diperpanjang.

Selama itu terjadi, status single akan terus bertambah bukan karena cinta sudah mati, tapi karena cinta dipaksa menunggu giliran yang tidak pernah benar-benar datang. (R100)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.