Thu,27 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Tren “Things My Exes did and I Still Stayed”, Kekerasan dalam Hubungan Melampaui Narasi ‘Cinta’

Tren “Things My Exes did and I Still Stayed”, Kekerasan dalam Hubungan Melampaui Narasi ‘Cinta’

tren-“things-my-exes-did-and-i-still-stayed”,-kekerasan-dalam-hubungan-melampaui-narasi-‘cinta’
Tren “Things My Exes did and I Still Stayed”, Kekerasan dalam Hubungan Melampaui Narasi ‘Cinta’
service

Pernahkah tren media sosial dengan judul “things my exes did and I still stayed (hal yang mantanku lakukan dan aku masih bertahan)” muncul di linimasa-mu? Isinya bukan tingkah romantis atau lucu yang dilakukan mantan pacar saat masih berhubungan. Kita justru disuguhkan dengan berbagai cerita kekerasan dalam pacaran di masa lalu. Kemudian diakhiri dengan pernyataan, “And I still stayed (dan aku masih bertahan).” 

Tren ini belakangan tengah ramai di media sosial. Banyak perempuan muda membuat video berisi hal-hal yang pernah dilakukan mantan pasangan selama berpacaran. Mulai dari sikap posesif, suka mengatur, berbohong, berselingkuh, hingga tindakan-tindakan lainnya yang merujuk pada kekerasan terhadap perempuan. Mereka membuka atau menutup cerita itu dengan kata, “And I still stayed (dan aku masih bertahan).” Bukan hanya pembuat konten, warganet pun meninggalkan komentar dengan kisah serupa.

Tren “Things my exes did and I still stayed” memperlihatkan cerita perempuan yang pernah bertahan dalam hubungan penuh kontrol, manipulasi, hingga kekerasan. Dan di balik pengakuan bahwa mereka tetap bertahan, ada persoalan yang lebih besar. Ini tentang relasi kuasa dan perempuan yang terus dibebani untuk memahami perilaku laki-laki dalam hubungan.

Baca Juga: Tren TikTok “There’s a Man” Membuka Mata Kita tentang Misogini yang Dianggap Biasa
Tren Tiktok
Tren Tiktok
Tren Tiktok
Tren Tiktok
Tren Tiktok “things my exes did and I still stayed” (sumber foto: tangkapan layar Konde.co)

Ratusan konten ini kini memenuhi algoritma media sosial. Sekilas, tren ini nampak seperti cara seseorang untuk menertawakan tindakan-tindakan yang pernah mereka alami di masa lalu. Tidak jarang perilaku toksik semacam ini justru dinormalisasi. Biasanya atas dasar kata “cinta” atau “kompromi” antar dua sejoli. Humor dan ironi kemudian menjadi cara untuk menceritakan kembali pengalaman tersebut. 

Namun semakin lama, penonton semakin terdorong untuk lebih sadar bahwa ini bukan hanya sebuah mekanisme koping (coping mechanism). 

Lantas, kenapa seseorang masih bertahan ketika sudah menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak ‘beres’ dalam hubungannya? Pertanyaan semacam ini rasanya sudah terlalu sering kita dengar dalam diskursus tentang perempuan yang mengalami kekerasan dalam hubungan romansa. 

“Kenapa nggak pergi aja, sih?” 

Atau, “Kalau udah tahu kelakuannya kayak gitu, kenapa masih mau dan bertahan, coba?” 

Ini seolah menjadi respons otomatis ketika seseorang, terutama perempuan, menceritakan pengalaman buruk bersama pasangan.

Baca Juga: Tren Chat Mokondo di Tiktok: Produk Baru Mutasi Patriarki

Padahal, konsep bertahan dalam sebuah hubungan tidak selalu sesederhana membuat keputusan untuk tinggal atau pergi. Di satu sisi, ada perasaan sayang, harapan bahwa pasangan akan berubah di kemudian hari, dan kemelekatan emosional. Di sisi lain, hubungan sarat kekerasan menimbulkan rasa takut yang membuat seseorang sulit melihat situasi dengan jernih. 

Selain itu, dalam hubungan abusive, pelaku juga tidak selalu bersikap kasar setiap saat. Kadang ada permintaan maaf yang terucapkan, ada janji untuk merubah sikap. Bahkan ada perlakuan manis untuk memenangkan hati. Tetapi nyatanya, kekerasan terus berulang. Siklus semacam ini membuat seseorang bisa berkali-kali berpikir, “Mungkin kali ini pasanganku akan benar-benar berubah, deh?”

Respon terhadap tren
Respon terhadap tren “things my exes did and I still stayed” (sumber foto: tangkapan layar Konde.co)

Maka dari itu, kalimat “I still stayed” menyimpan arti yang jauh lebih kompleks. Ini lebih dari sekadar ungkapan “aku dulu terlalu cinta”. Di balik dalih cinta, ada hubungan toksik yang “dipelihara” secara sadar atau tidak sadar untuk terus mengontrol perempuan.

Namun, dalam banyak percakapan tentang hubungan, keputusan perempuan untuk tetap bertahan dengan pasangannya justru menjadi bagian yang paling sering dipersoalkan. Masyarakat terlalu fokus bertanya alasan perempuan tidak pergi. Tetapi lupa bertanya mengapa lelaki merasa berhak untuk memperlakukannya seperti itu. Lalu perempuan yang memilih untuk bertahan langsung dianggap “bodoh” bahkan oleh dirinya sendiri.

Respon terhadap tren
Respon terhadap tren “things my exes did and I still stayed” (sumber foto: tangkapan layar Konde.co)
Baca Juga: Benarkah Laki-laki Kurang Ekspresif Dalam Relasi Pertemanan? Membaca Stigma Maskulin Lewat Tren TikTok

Hal tersebut sesungguhnya memperlihatkan pola yang membuat hubungan ‘beracun’ terus berulang. Hubungan romantis idealnya dibangun atas dasar kepercayaan, dukungan, dan rasa hormat terhadap kebebasan masing-masing individu. Namun kenyataannya, tidak semua hubungan memiliki dinamika seperti itu. 

Fenomena hubungan beracun atau toxic relationship telah memantik banyak diskusi akademik dan sosial. Sebab, dampaknya serius terhadap kesehatan mental dan emosional individu dalam hubungan tersebut. Dan dalam dinamika seperti ini, perempuan sering kali menjadi subjek yang mengalami dampak psikologis.

Toxic relationship umumnya ditandai dengan perilaku yang tidak sehat. Seperti manipulasi, kontrol, kekerasan emosional, dan sikap posesif yang merugikan salah satu atau kedua belah pihak. Tetapi, ketika semuanya berhenti pada label “toxic”, kita bisa kehilangan kemampuan untuk melihat suatu pola. Yakni bahwa sebagian perilaku tersebut sebenarnya merupakan bentuk kekerasan.

Misalnya, mengatur pakaian yang digunakan pasangan sebagai bentuk kecemburuan. Atau meminta akses ke ponsel bisa dianggap sebagai masalah kepercayaan. Hingga membatasi lingkup pertemanan karena dianggap posesif. Ketika perilaku tersebut dilakukan secara terus-menerus hingga membatasi kebebasan dan otonomi pasangan, persoalannya bukan lagi sekadar hubungan yang “nggak sehat”. Melainkan ada kontrol atas tubuh dan identitas yang sedang dibangun dalam relasi tersebut.

Dalam hubungan heteroseksual, perilaku semacam ini juga sering kali bertemu dengan norma gender yang sudah lama kita kenal. Laki-laki yang posesif bisa dianggap sedang menunjukkan “rasa sayang” terhadap pasangan. Sedangkan perempuan dituntut untuk menjadi subordinat.

Baca Juga: Objektifikasi Perempuan Lewat Tren TikTok “PoV Unboxing Mahar” Tidak Lucu, Stop Humor Seksis!

Di sinilah istilah toxic masculinity menjadi penting untuk dibicarakan. Bukan karena laki-laki secara otomatis adalah pelaku kekerasan. Melainkan karena ada nilai-nilai maskulinitas yang mengajarkan bahwa laki-laki harus dominan, memegang kendali, dan memiliki posisi yang lebih kuat dalam hubungan. Ketika nilai-nilai ini terus-menerus direproduksi, maka kontrol terhadap tubuh perempuan bisa dengan mudah diperhalus narasinya menjadi bentuk ‘kasih sayang’.

Mungkin karena itu kalimat I still stayed perlu dibaca lebih kritis lagi. Ia bisa saja menjadi humor atau mekanisme seseorang merespon memori pengalaman buruk. Namun, penggunaan kalimat ini dalam konteks tren media sosial justru memperlihatkan betapa perempuan sering kali menjadi pihak yang menanggung beban lebih besar ketika berhadapan dengan keputusan mereka dalam menjalin hubungan romantis. Keputusan korban untuk tetap bertahan menjadi hal yang paling membingungkan bagi penonton. Sementara tindakan pelaku kekerasan justru tidak banyak tersorot.

Padahal, keputusan seseorang untuk bertahan dalam sebuah hubungan tidak serta merta menghapus tanggung jawab pelaku. Perempuan yang belum meninggalkan hubungan toksik itu bukan berarti mengizinkan dirinya untuk diperlakukan dengan seenaknya. Mungkin pertanyaannya perlu dibalik. Bukan lagi, “Kenapa perempuan masih bertahan di hubungan seperti ini?” Melainkan, “Atas dasar apa seseorang merasa berhak untuk mengontrol, merendahkan,  atau menyakiti pasangannya sejak awal?”

Tren “Things my exes did and I still stayed” mungkin bermulai sebagai lelucon tentang pengalaman tidak mengenakkan dalam percintaan. Namun, di balik tawa dan pengakuan tersebut, terselimut cerita tentang hubungan toksik, relasi kuasa, dan kekerasan berbasis gender yang dialami oleh banyak perempuan. 

Mungkin sudah saatnya kita tidak berhenti pada pertanyaan, “Kenapa kamu masih mau ada di hubungan itu?” Mulailah bertanya, “Kenapa dia bisa-bisanya sampai melakukan (kekerasan) itu dari awal?”

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.