Tangan Ida, cekatan mengupas kerang hijau pagi itu. Perempuan pesisir Dadap, Tangerang, Banten ini memisahkan daging kerang dari cangkangnya lalu memasukkan ke kantong. Sehari Ida bisa “ngopek kerang” 12–15 kilogram dengan upah Rp4.000 untuk sekilogram kerang. Dalam sehari, perempuan dua anak itu hasilkan uang Rp50.000–Rp60.000. “Dari dulu orang Dadap ngopek kerang. Kalo banyak kerangnya hasilnya lebih besar lagi,” katanya saat ditemui Mongabay Indonesia medio Juli 2026. Sepanjang perjalanan mengitari Kampung Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten, aktivitas “ngopek kerang” jadi rutinitas perempuan. Pagi hingga sore mereka sibuk mengupas kerang berkarung-karung. Para lelaki memanen kerang dan merebus hingga matang, juga memasang dan merawat keramba jaring. Perahu-perahu nelayan di Pesisir Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: Achmad R Azam/Mongabay Indonesia Dulu nelayan tangkap di laut, kini buruh keramba Dadap sebagai penghasil kerang hijau di Jabodetabek. Mereka budidaya kerang hijau dengan metode keramba jaring apung, terbuat dari jeriken-jeriken plastik terikat mengitari perairan. Mayoritas keramba apung punya orang luar sebagai pemodal. Nelayan Dadap hanya menjadi buruh kupas dan mengurus budidaya itu. Bikin keramba perlu modal besar, itu juga alasan nelayan lokal tak memiliki keramba kerang sendiri. Investasi awal untuk budidaya kerang hijau mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Dulu, nelayan Dadap mencari kerang hijau di alam tanpa harus budidaya. Seiring perubahan lanskap pesisir dan Teluk Jakarta, nelayan kini kesulitan mencari kerang di alam. Rico saputra, nelayan Dadap, mengatakan, pembangunan di pesisir, termasuk reklamasi Teluk Jakarta merusak ekosistem laut. Aktivitas itu membuat laut jadi dangkal dan air tercemar. Hutan mangrove, rumah bagi biota laut termasuk kerang hijau,…This article was originally published on Mongabay
Upaya Perempuan dan Generasi Muda Dadap di Tengah Kerusakan Pesisir
Upaya Perempuan dan Generasi Muda Dadap di Tengah Kerusakan Pesisir





Comments are closed.