Sun,6 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Menggugat Konservasi Benteng, Mendorong Konservasi Berbasis Rakyat

Menggugat Konservasi Benteng, Mendorong Konservasi Berbasis Rakyat

menggugat-konservasi-benteng,-mendorong-konservasi-berbasis-rakyat
Menggugat Konservasi Benteng, Mendorong Konservasi Berbasis Rakyat
service

Meskipun telah lama merdeka, cara pandang kolonial yang memisahkan antara manusia dan alam dalam praktik konservasi atau yang dikenal sebagai konservasi benteng (fortress conservation), dinilai masih kuat mewarnai praktik konservasi di Indonesia. Dalam pendekatan ini, keberadaan manusia dipandang sebagai ancaman sehingga akses masyarakat terhadap kawasan yang hendak dilindungi dibatasi. Padahal nyatanya, masyarakat adat secara berabad-abad telah bermukim, menjaga hutan, sungai, dan laut seperti merawat kehidupan mereka sendiri. Bagi mereka, praktik-praktik konservasi bukanlah konsep yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Di berbagai wilayah di Indonesia, relasi antara manusia dengan alam masih banyak dapat dijumpai. Salah satunya masyarakat adat Dayak Iban di Sungai Utik, Kalimantan Barat, yang mengenal filosofi hidup: “Hutan adalah Bapak, Tanah adalah Ibu, dan Air adalah Darah Kami.” Namun ironi justru ada di sini. Banyak masyarakat adat dan komunitas lokal yang selama ini menjaga ruang hidupnya, dalam banyak kasus justru terusir dari tanahnya. “Sampai sekarang kita belum bisa lepas dari bentuk kolonialisme konservasi, yang memisahkan alam dengan manusia. Manusia justru dianggap sebagai ancaman dalam aktivitas konservasi,” ujar Yance Arizona, Ketua Pusat Kajian Demokrasi Konstitusi dan Hak Asasi Manusia (Pandheka) saat dijumpai di Peoples’ Conservation Summit (PCS)/Pertemuan Konservasi Rakyat 2026, yang diselenggarakan pada 1-3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta. Menurutnya, persoalan konservasi benteng masih berhubungan dengan anggapan bahwa pengetahuan pemerintah dan institusi akademik dianggap lebih ilmiah daripada pengetahuan yang berkembang di masyarakat, dan digunakan dalam penyusunan kebijakan konservasi di Indonesia. “Karena itu, upaya dekolonisasi konservasi menjadi penting untuk mengubah hubungan antara negara, masyarakat, dan alam,” tegas Yance…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.