Pagi itu, dua pacet menempel di pergelangan tangan Erlan. Pemuda 24 tahun asal Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tampaknya tidak terlalu terganggu. Ia sedang sibuk menyusuri tepian aliran sungai. Sesekali pandangannya tertuju ke lantai hutan, mencari dan memetakan keberadaan ki aksara atau anggrek permata (jewel orchid). Tanaman itu sebelumnya asing bagi Erlan. Dua tahun lalu, ia bahkan belum membayangkan bakal bekerja keluar-masuk hutan. Ketika itu, ia baru pulang ke kampung setelah mencoba mengadu nasib di Jakarta sebagai buruh serabutan. Kini kesehariannya berubah setelah bekerja sebagai pekerja harian EIGER Nature. “Sudah satu tahun bekerja di sini,” katanya. Sebagai pekerja harian, ia mendapat upah sekitar Rp100 ribu per hari. EIGER Nature merupakan kawasan yang tengah dikembangkan dengan konsep ekowisata di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan areal PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 Kebun Gunung Mas. Pada tahap awal, EIGER Nature menyebut telah mempekerjakan lebih dari 500 orang warga lokal, termasuk Erlan. Meski sebelumnya tak banyak mengenal hutan, pekerjaan Erlan kini justru lekat dengan kegiatan konservasi dan ekologi. Bersama timnya, ia ikut memonitor kawasan, memetakan jalur, mengecek keberadaan satwa, dan menandai titik-titik yang kelak dapat digunakan untuk interpretasi habitat. Hutan perlahan menjadi ruang belajar baru baginya. “Gigitan pacet ini bagian dari menyerap pengetahuan baru soal hutan,” ujarnya sambil mencabut pacet dari tangannya. Foto udara kawasan Eiger Nature di Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Foto: Donny Iqbal/ Mongabay Indonesia Pilihan Kerja yang Menyempit Bagi sebagian warga Sukagalih, hadirnya pekerjaan baru menjadi berarti ketika pilihan…This article was originally published on Mongabay
Dari Buruh Serabutan ke Ekowisata, Mencari Penghidupan Baru di Hulu Ciliwung
Dari Buruh Serabutan ke Ekowisata, Mencari Penghidupan Baru di Hulu Ciliwung





Comments are closed.