Setelah menempuh perjalanan dua hari, tim tiba di Desa Juhu, tertinggi di Pegunungan Meratus. Di sana, kami ke rumah Pinan, warga lokal sekaligus pemandu, dan terkesima dengan aneka buah-buahan yang memenuhi ruang tamunya. Dia bilang, desa mereka jadi satu-satunya lokasi di Meratus yang menghasilkan buah-buahan. Padahal, akhir Juli 2026, sebagian besar wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel) sedang musim kemarau parah. “Di tempat lain tidak ada yang berbuah. Hanya disini yang ada, aneh juga,” katanya, heran. Pinan jelaskan nama lokal buah itu satu persatu. Mulai dari yang cukup terkenal hingga jenis yang mulai langka dan hanya tumbuh di pedalaman hutan. Salah satunya kapul atau tampui (Baccaurea macrocarpa). Buah eksotis ini masih berkerabat dengan menteng, rambai, dan manggis. Ada juga kulidang atau keledang (Artocarpus lanceifolius), dari keluarga Moraceae atau nangka-nangkaan. Buah ini berkerabat dengan mentawa, kluwih, pintau, cempedak, sukun, selanking, benda, dan nangka. Kata Pinan, buah kulidang kini makin jarang warga temukan seiring berkurangnya hutan alami. “Ini tidak ada di Banua (sebutan bagi wilayah hulu Banjar), kan?” Keledang mulai langka di berbagai wilayah di Borneo. Buah ini memiliki banyak nama lokal, antara lain bangsal, binturung, bunon, kayu dadak, emputu, kakian, sedah, dan tempunang. Durian menjadi salah satu yang paling melimpah ketika kami tiba di Juhu. Buah berduri itu berjatuhan dari pohonnya di jalur perjalanan. “Durian kita, kah ini, Abah?” tanya Ayyub Muhajad, dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat. Bagi masyarakat setempat, buah itu sudah menjadi bagian dari keseharian dan kami pun bisa makan sepuasnya. “Banyak durian…This article was originally published on Mongabay
Jelajah Meratus: Berkunjung ke Juhu, Desa Surga Flora Fauna [2]
Jelajah Meratus: Berkunjung ke Juhu, Desa Surga Flora Fauna [2]





Comments are closed.