Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari bak seekor gajah. Di depan 50-an anak-anak penyandang disabilitas, Kak Acan tampil memukau. Mereka duduk meriung menyimak Kak Acan, termasuk difabel tuli. Kak Arum, menerjemahkan dalam bahasa isyarat. Dongeng gajah Gogo dan Gigi, tersaji ketika memperingati Hari Gajah Sedunia Agustus lalu di Malang Creative Center (MCC). Acan mengisahkan dua anak gajah, kakak beradik, Gogo dan Gigi. Sang adik, Gigi terpisah dari rombongan gajah karena pemburu yang meletuskan senjatanya. Setelah aman, Gogo pun mencari Gigi di hutan rimba. “Gogo harus mengarungi hutan, sungai dan perbukitan,” kata Kak Acan. Menembus semak belukar dan berbagai halangan ia hadapi untuk bertemu dengan sang adik. Akhirnya, mereka bertemu, Gigi kembali bersama rombongan gajah. Mereka kembali berjalan bersama-sama menembus hutan belantara. “Dimana rumah Gogo dan Gigi?” tanya Kak Acan. “Di hutan,” jawab anak-anak penyandang disabilitas. Mereka antusias, menyimak dan menghayati pesan dari cerita Kak Acan. Kegiatan mendongeng gajah merupakan kerja sama antara Difabel Pecinta Alam (Difpala), Lingkar Sosial (Linksos) dengan Geopix. Kak Acan melontarkan pertanyaan kepada para penonton. Mereka yang menjawab benar mendapat hadiah. Selama tiga jam, mereka duduk tepekur menyimak Kak Acan. Edukasi ringan terkait dengan hutan dan satwa mengawali kegiatan edukasi itu. Di sela-sela mendongeng, mereka mengisinya dengan pentas seni. Dari membaca puisi, menyanyi, hingga membaca Quran. Selain peringati Hari Gajah Sedunia, kegiatan itu juga bagian dari kampanye bersama bertema ”Make Elephant Great Again atau Kembalikan Kejayaan Gajah”. Sebuah gerakan yang mengajak masyarakat bersama-sama menyuarakan perlindungan gajah Indonesia di habitatnya melalui aksi kreatif, edukasi publik, serta…This article was originally published on Mongabay
Cerita Gogo-Gigi tentang Rumah Gajah yang Hilang
Cerita Gogo-Gigi tentang Rumah Gajah yang Hilang





Comments are closed.