Sun,6 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Cerita Gogo-Gigi tentang Rumah Gajah yang Hilang

Cerita Gogo-Gigi tentang Rumah Gajah yang Hilang

cerita-gogo-gigi-tentang-rumah-gajah-yang-hilang
Cerita Gogo-Gigi tentang Rumah Gajah yang Hilang
service

Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari bak seekor gajah. Di depan 50-an anak-anak penyandang disabilitas, Kak Acan tampil memukau. Mereka duduk meriung menyimak Kak Acan, termasuk difabel tuli. Kak Arum, menerjemahkan dalam bahasa isyarat. Dongeng gajah Gogo dan Gigi, tersaji ketika memperingati Hari Gajah Sedunia Agustus lalu  di Malang Creative Center (MCC).  Acan mengisahkan dua anak gajah, kakak beradik, Gogo dan Gigi. Sang adik, Gigi terpisah dari rombongan gajah karena pemburu yang meletuskan senjatanya. Setelah aman, Gogo pun mencari Gigi di hutan rimba. “Gogo harus mengarungi hutan, sungai dan perbukitan,” kata Kak Acan. Menembus semak belukar dan berbagai halangan ia hadapi untuk bertemu dengan sang adik. Akhirnya, mereka bertemu, Gigi kembali bersama rombongan gajah. Mereka kembali berjalan bersama-sama menembus hutan belantara. “Dimana rumah Gogo dan Gigi?” tanya Kak Acan. “Di hutan,” jawab anak-anak penyandang disabilitas. Mereka antusias, menyimak dan menghayati pesan dari cerita Kak Acan. Kegiatan mendongeng gajah merupakan kerja sama antara Difabel Pecinta Alam (Difpala), Lingkar Sosial (Linksos) dengan Geopix. Kak Acan melontarkan pertanyaan kepada para penonton. Mereka yang menjawab benar mendapat hadiah. Selama tiga jam, mereka duduk tepekur menyimak Kak Acan. Edukasi ringan terkait dengan hutan dan satwa mengawali kegiatan edukasi itu. Di sela-sela mendongeng, mereka mengisinya dengan pentas seni. Dari membaca puisi, menyanyi, hingga membaca Quran. Selain peringati Hari Gajah Sedunia, kegiatan itu juga bagian dari kampanye bersama bertema ”Make Elephant Great Again atau Kembalikan Kejayaan Gajah”. Sebuah gerakan yang mengajak masyarakat bersama-sama menyuarakan perlindungan gajah Indonesia di habitatnya melalui aksi kreatif, edukasi publik, serta…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.