Sun,6 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Tebar Ular di Sawah Indramayu untuk Kendalikan Populasi Tikus, Efektif atau Ancaman Petani?

Tebar Ular di Sawah Indramayu untuk Kendalikan Populasi Tikus, Efektif atau Ancaman Petani?

tebar-ular-di-sawah-indramayu-untuk-kendalikan-populasi-tikus,-efektif-atau-ancaman-petani?
Tebar Ular di Sawah Indramayu untuk Kendalikan Populasi Tikus, Efektif atau Ancaman Petani?
service

Tikus masih menjadi salah satu ancaman bagi pertanian padi. Ketika populasinya tidak terkendali, hama ini dapat merusak tanaman sejak awal masa tanam dan meningkatkan risiko gagal panen. Persoalan tersebut pernah terjadi hampir merata di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Berbagai metode pengendalian telah digunakan petani, mulai dari racun, pengasapan, dan gropyokan hingga pemasangan setrum listrik. Namun, sebagian cara itu tidak hanya kurang efektif, tetapi juga berbahaya. Penggunaan setrum di persawahan bahkan pernah menimbulkan korban jiwa.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan yang tetap relevan hingga kini: bisakah predator alami dikembalikan untuk mengendalikan tikus dengan lebih aman?

Salah satu percobaannya dilakukan melalui program “Ular Sahabat Tani”. Pada 8 Agustus 2025, Pemerintah Kabupaten Indramayu bersama Panji Petualang serta sejumlah pegiat media sosial melepas 200 ular ke area persawahan.

Ular yang dilepaskan terdiri dari ular jali (Ptyas mucosa), koros (Ptyas korros), dan lanang sapi (Coelognathus radiatus). Ketiganya tidak berbisa dan merupakan bagian dari ekosistem setempat. Selain tikus, ular-ular tersebut juga memangsa burung dan kodok.

Keberadaan ular di sawah sebenarnya bukan hal baru. Namun, populasinya semakin sulit ditemukan karena habitatnya berubah dan ular kerap dibunuh. Hilangnya predator alami membuat tikus lebih leluasa berkembang di kawasan pertanian monokultur yang menyediakan makanan berlimpah.

Amir Hamidy, herpetolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, menjelaskan bahwa hanya sekitar lima persen ular darat di Jawa yang berbisa. Jenis rat snake yang dilepas di Indramayu umumnya memilih menghindar ketika bertemu manusia dan tidak menyerang kecuali diganggu.

Secara biologis, ular dapat menjadi pengendali tikus yang efektif. Ular jali mampu memangsa hingga 12 tikus sehari. Satwa yang aktif pada siang hari ini dapat masuk ke lubang tikus dan memiliki organ untuk mendeteksi bau mangsanya.

Kemampuan tersebut tidak dimiliki kucing atau anjing domestik. Insting berburu kedua hewan peliharaan itu berbeda dari predator alami, sementara tubuh ular memungkinkannya mengejar tikus hingga ke dalam sarang.

Ledakan populasi tikus juga berkaitan dengan perubahan ekosistem. Hutan dataran rendah di Jawa telah banyak berubah menjadi persawahan monokultur. Lingkungan semacam itu menyediakan makanan berlimpah bagi tikus, terutama ketika predator alaminya berkurang.

Namun, pelepasan ular tidak boleh dilakukan tanpa pengawasan. Populasi yang terlalu banyak dapat mengganggu rantai makanan. Ular juga mempunyai predator alami, seperti biawak, garangan, elang, burung hantu, serta ular weling dan welang.

Pemanenan ular juga perlu dikendalikan. Jika ular kembali dieksploitasi secara berlebihan, keseimbangan yang ingin dipulihkan justru dapat terganggu.

Dengan demikian, ular berpotensi membantu petani mengendalikan tikus. Namun, keberhasilannya tidak cukup hanya dengan melepaskan ular. Seluruh ekosistem sawah, termasuk predator ular dan habitatnya, harus dijaga agar pengendalian hama berlangsung alami dan berkelanjutan.

Foto utama: Ular lanang sapi yang tidak berbahaya. Foto: Wikimedia Commons/Rushen/CC BY-SA 2.0.

Kredit

Topik

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.