Pagi itu, di sela rutinitas membersihkan kebun kakao di Pulau Enggano, Bengkulu, Zulfan Zaviery tak menyangka akan kembali menjumpai seekor ular kecil cokelat kusam di tumpukan daun kering. Tubuhnya menggulung, kepala sedikit mendongak, seolah siap menyerang. Namun, Zulfan paham bahwa ular ini tidak berbahaya. Ia seekor ular viper palsu (Psammodynastes pulverulentus), spesies yang kerap disalahpahami oleh umumnya warga Enggano. “Ular ini cuma diam. Posisi kepalanya selalu sama, naik sedikit seperti mau menyerang, padahal tidak,” jelasnya, Selasa (7/10/2025). Perilaku pasif itu kerap disalahartikan. Posisi kepalanya yang sedikit terangkat membuat banyak orang mengira ular ini bersiap menyerang. Padahal, itu hanya respons bertahan hidup dari ancaman pradator. Fotografer satwa liar ini bilang, viper palsu kerap dijumpai di tumpukan daun kering ketimbang di bawah tegakan pohon besar. “Warna tubuhnya yang menyerupai tanah dan daun kering membuatnya hampir tak terlihat.” Selain di kebun, Zulfan mengaku, juga beberapa kali melihat ular yang panjang maksimal berkisar antara 50-77 cm ini di hutan. “Selalu sendirian. Setiap kali ketemu, polanya sama. Tubuh melingkar, kepala naik sedikit, tanpa agresi.” Ular viper palsu yang tersebar luas di Asia Tenggara. Foto: Wikimedia Commons/Rushenb/CC BY-SA 4.0 Penjaga ekosistem Zulfan menjelaskan, jenis ini punya peran penting di kebun dan hutan, yaitu sebagai pengendali ekosistem alami. Viper palsu yang tersebar di Asia, khususnya Asia Tenggara, ini memangsa tikus, kodok, dan kadal. “Kalau tidak ada ular ini, bisa-bisa tikus makin banyak. Jadi, sangat membantu kami,” terang Zulfan, yang juga berprofesi sebagai petani. Namun, peran ekologis itu kerap tidak disadari masyarakat. Di Enggano, sebagaimana di…This article was originally published on Mongabay
Ular Viper Palsu, Apakah Jenis Berbahaya?
Ular Viper Palsu, Apakah Jenis Berbahaya?





Comments are closed.