Sat,30 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Para Perempuan Penjaga Lingkungan di Tengah Krisis Ruang Hidup

Para Perempuan Penjaga Lingkungan di Tengah Krisis Ruang Hidup

para-perempuan-penjaga-lingkungan-di-tengah-krisis-ruang-hidup
Para Perempuan Penjaga Lingkungan di Tengah Krisis Ruang Hidup
service

Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Ada jalan sunyi bagi perempuan dalam menjaga lingkungan. Di tengah tekanan ekspansi industri ekstraktif, ekonomi dan perubahan iklim, para perempuan tampil sebagai garda depan untuk mempertahankan sumber daya hidup dan kearifan lokal. Mereka menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan. Padahal seringkali suara mereka tak pernah didengar dan dilibatkan dalam pengambilan kebijakan, khususnya terkait ruang hidupnya. Padahal, mereka menjadi kelompok yang paling terdampak atas krisis lingkungan.  Dalam Indonesian Journal of Conservation, Marhaeni (2012), menjelaskan corak perjuangan perempuan Indonesia sangat beragam. Tak hanya melakukan protes atas ketetapan pembangunan yang merugikan, perempuan Indonesia juga menyuarakan pengalaman dan kritik mendalam tentang kondisi masyarakat dan pengelolaan sumber daya alam yang tidak ramah pada manusia dan perempuan. Dari Sumatera hingga Papua, perempuan Indonesia menunjukkan perjuangan dan perlawanannya untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik. Mulai dari menjaga hutan, melestarikan pangan lokal, berdaulat pangan hingga belajar permakultur untuk mencegah stunting. Mari menelusuri kisah perjuangan mereka: 1. Para perempuan pelestari tanaman obat Bagi masyarakat Suku Batin Sembilan, hutan telah menjadi apotek hidup yang diwariskan secara turun temurun. Menyadari pentingnya menjaga warisan ini, para perempuan Suku Batin Sembilan melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) Maju Besamo, mereka mengelola 399 hektare hutan secara komunal. Ini menjadi upaya agar pengetahuan tentang hutan bagi generasi muda terus lestari di tengah ancaman perubahan pola hidup dan menyempitnya ruang hutan. Sehingga jika ancaman datang, hutan tak lantas dirampas oleh para pendatang. Gendum, buah tumbuhan ini digunakan untuk upacara adat Besale. Foto: Elviza Diana/ Mongabay Indonesia…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.