Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Ada jalan sunyi bagi perempuan dalam menjaga lingkungan. Di tengah tekanan ekspansi industri ekstraktif, ekonomi dan perubahan iklim, para perempuan tampil sebagai garda depan untuk mempertahankan sumber daya hidup dan kearifan lokal. Mereka menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan. Padahal seringkali suara mereka tak pernah didengar dan dilibatkan dalam pengambilan kebijakan, khususnya terkait ruang hidupnya. Padahal, mereka menjadi kelompok yang paling terdampak atas krisis lingkungan. Dalam Indonesian Journal of Conservation, Marhaeni (2012), menjelaskan corak perjuangan perempuan Indonesia sangat beragam. Tak hanya melakukan protes atas ketetapan pembangunan yang merugikan, perempuan Indonesia juga menyuarakan pengalaman dan kritik mendalam tentang kondisi masyarakat dan pengelolaan sumber daya alam yang tidak ramah pada manusia dan perempuan. Dari Sumatera hingga Papua, perempuan Indonesia menunjukkan perjuangan dan perlawanannya untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik. Mulai dari menjaga hutan, melestarikan pangan lokal, berdaulat pangan hingga belajar permakultur untuk mencegah stunting. Mari menelusuri kisah perjuangan mereka: 1. Para perempuan pelestari tanaman obat Bagi masyarakat Suku Batin Sembilan, hutan telah menjadi apotek hidup yang diwariskan secara turun temurun. Menyadari pentingnya menjaga warisan ini, para perempuan Suku Batin Sembilan melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) Maju Besamo, mereka mengelola 399 hektare hutan secara komunal. Ini menjadi upaya agar pengetahuan tentang hutan bagi generasi muda terus lestari di tengah ancaman perubahan pola hidup dan menyempitnya ruang hutan. Sehingga jika ancaman datang, hutan tak lantas dirampas oleh para pendatang. Gendum, buah tumbuhan ini digunakan untuk upacara adat Besale. Foto: Elviza Diana/ Mongabay Indonesia…This article was originally published on Mongabay
Para Perempuan Penjaga Lingkungan di Tengah Krisis Ruang Hidup
Para Perempuan Penjaga Lingkungan di Tengah Krisis Ruang Hidup





Comments are closed.