Tangan kecilnya cekatan mengambil kotak berisi sayur dan buah-buahan di balik kandang ukuran 3×2 meter. Satu-persatu potongan wortel, jagung, timun, kacang panjang dan terong masuk ke mulutnya. Matanya sayu menatap ke luar kandang perawatan, seolah bertanya, kapan akan bertemu induknya dan kembali ke alam liar. “Usianya baru satu tahun, masih anakan, tapi sudah terpisah dari ibunya,” kata Arnestasya Fitri Andriani, dokter hewan di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Punti Kayu, Palembang, Sumatera Selatan, menceritakan kisah siamang yang mereka rawat, Kamis (7/5/2026). Hingga saat ini, ada 29 individu owa —terdiri 28 owa siamang dan satu owa ungko— dirawat di PRS Punti Kayu. Tempat rehabilitasi ini dikelola The Aspinall Foundation sejak 2022, yang sejauh ini telah melepasliarkan sekitar 40 individu siamang. “Untuk ungko, ada satu individu karena baru masuk kerja sama tahun ini (2026),” kata Made Wedana, Direktur The Aspinall Foundation, kepada Mongabay Indonesia, Rabu (20/4/2026). Mayoritas siamang yang dievakuasi ke PRS Punti Kayu memiliki latar belakang yang sama, yakni bekas peliharaan warga yang diserahkan sukarela maupun hasil sitaan. Mirisnya, empat individu sitaan tersebut masih bayi berumur sekitar satu tahun. Pemisahan paksa di usia dini berpotensi menghambat tumbuh kembang mereka. Secara alami, anak siamang seharusnya masih melekat dan berada dalam perlindungan penuh induknya. Anakan owa siamang berusia satu tahun ini dirawat di PRS Punti Kayu. Palembang, Sumatera Selatan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Pola asuh siamang pun cukup unik. Peran utama merawat anak akan bergeser dari induk betina ke induk jantan seiring bertambahnya usia anak. Selama rentang usia satu hingga dua tahun, induk betina…This article was originally published on Mongabay
Hidup di Kandang Perawatan, Kisah Sedih Owa di Sumatera Selatan
Hidup di Kandang Perawatan, Kisah Sedih Owa di Sumatera Selatan





Comments are closed.