Madani Fest 2025:Awan gelap menyelubungi dunia. Genosida di Gaza, rekolonisasi di Sahel, Afrika, dan kerusuhan politik di dalam negeri. Dalam gegap gempita kesedihan dan amuk yang seolah tak berujung, sebuah pertemuan justru memilih untuk tidak tenggelam dalam narasi kegelapan. Alih-alih mengutuk kegelapan, mereka memutuskan untuk menyalakan lilin-lilin kecil, lalu mengumpulkannya menjadi sebuah misykat.
Dalam surah An-Nur, Miyskat menggambarkan sebuah lubang di dinding tempat orang zaman dulu menaruh lampu minyak. Secara simbolis kata ini berarti sebuah lubang atau ceruk yang menyimpan chaya ilahi. Itulah Misykat, pelita kecil yang terang.
Miyskat adalah metafora yang diusung Madani International Film Festival (Madani Fest) 2025 setelah tujuh tahun berlari. Festival yang digagas dari daerah Salam, Magelang ini, pada tahun ini, memaknai diri bukan sekadar ajang sinema, melainkan sebagai sebuah “festival kebudayaan inklusif”.
“Di tengah awan gelap ini kita membutuhkan bukan hanya menyalakan cahaya, tapi juga mengumpulkan cahaya itu dan memberi wadah supaya menjadi cahaya besar,” ujar Achmad Rifki, Direktur Festival, dalam konferensi pers yang digelar menjelang puncak acara.
Spirit itu diwujudkan dengan cara yang nyata. Tahun ini, Madani Fest bukan hanya memutar 95 film dari 24 negara, tetapi juga menghadirkan 14 pertunjukan, 45 diskusi, dan 5 workshop di beberapa titik sekitar Jakarta. Sebuah ekspansi yang disengaja. Madani Festival berkolaborasi dengan 31 komunitas, lembaga, dan kampus, yang oleh Rifki disebut sebagai “misykat-misykat kecil”.
Inayah Wahid, salah satu penyelenggara, dalam konferensi pers yang sama, membahasakan kegelisahan yang melatari upaya festival Madani ini. Berdiri di depan layar lebar, Menghadap penonton yang duduk di bangku-bangku bioskop. Badannya bercahaya seraya lampu sorot menerangi dirinya.
Ia mulai mengangkat mic “banyak orang yang kemudian bahkan mebahasakannya situasi hari ini dengan kata: sedang tidak baik-baik saja” ucapnya menggambarkan situasi hari ini.
Ia melanjutkan munculnya anggapa bahwa saat ini situasi Indonesia mau[un dunia sudah mencapai titik men-jengah-kan, dimana orang-orang menggambarkannya dengan “tidak baik-baik saja” tidaklah terjadi begitu saja. Ada proses panjang dibaliknya.
Inayah melihat ada “pembalikan kebudayaan” di mana nilai-nilai keagungan manusia justru terpinggirkan.Mulai dari genosida, rekonsiliasi yang tidak adil, sampai kericuhan politik di Indonesia, proyek penulisan ulang sejarah. Semua itu Ia sebut campur tangan penguasa terhadap kebudayaan.
“Hey, ini masih ada luka yang terjadi. Ini masih perlu ada penyelesaian untuk banyak tragedi. Tapi kemudian ada upaya malah untuk menghapuskan hal tersebut.” Inayah berkata seakan sedang berhadapan dengan penguasa, beditu lantang hingga terasa energinya.
Dalam keadaan yang runyam, Miyskat bukanlah hanya sekedar tema tapi juga harapan. Madani fest tahun ini, bagi Inayah dapat menjadi ruang-ruang inklusif bagi masyarakat. Madani berikhtiar untuk menjadi tiga hal: ruang aman, laboratorium, dan ruang penyembuhan.
“Kalau hari ini kita merasa sesak nafas dengan dengan banyaknya masalah… ya lumayanlah kita jadi alat oksigen,” ujarnya dengan nada khas, setengah bergurau tapi serius.
Ia berharap Madani menjadi ruang yang nyaman bagi semua untuk berdialog, menjembatani jarak yang menganga antara publik dan pemegang kebijakan, serta pada akhirnya, menyembuhkan luka-luka kebangsaan yang masih terbuka.
“Ini sombong banget ya cita-citanya Madani” lagi-lagi bercanda tapi Inayah meningngatkan bahawa cita-cita yang besar patut untuk selalu diidam-idamkan. Harapan tak boleh pupus begitu juga dengan konsistensi. Meskipun hasilnya baru terasa sepuluh atau duapuluh tahun kedepan, mungkin saja pada Madani Fest ke-18 atau ke-21, entah kapan tapi pasti.
Tak hanya penyelenggara, sutradara legendaris Garin Nugroho, yang karya-karyanya diretrospeksi dalam festival ini, memberikan perspektif puitis tentang medium yang digeluti. “Sesungguhnya, film adalah melukis dengan cahaya,” katanya.
Ia menggambarkan tema Misykat sebagai ruang antara gelap dan terang, seraya mengingatkan untuk memusatkan perhatian, seperti senter, pada kehidupan yang lebih baik.
Retrospeksi karyanya dari Opera Jawa hingga Samsara yang sedang diputar di berbagai belahan dunia, menjadi bukti bahwa film dengan keberagaman tema dan cara tutur punya ruang apresiasi dan pasarnya sendiri. Seperti hutan, ada beragam tanaman yang masing-masing memiliki keunikan dan keindahannya.
Puncak Cahaya dan Sebuah Harapan
Perhelatan selama lima hari (8-12 Oktober 2025) itu akhirnya berpuncak di Metropole XXI, Jakarta. Malam penutupan menjadi saksi pengumuman pemenang Madani Short Film Competition, yang tahun ini menerima 1.470 film pendek dari 8 negara. Lima belas finalis terpilih, dan dewan juri internasional memutuskan Oscar (Ali Asghari, Iran) sebagai pemenang pertama, disusul Apocalypse Mart (Dzauay Ilham, Indonesia) di posisi kedua, dan Samsa (Gianpiero Pumo, Italia) di posisi ketiga. Sebuah penghargaan khusus, Misykat Honorary Award, diberikan kepada film Of Womb and Tomb (Destian Rendra, Indonesia).
Festival kemudian ditutup dengan pemutaran Banel & Adama, film karya sutradara perempuan Prancis-Senegal, Ramata-Toulaye Sy, meninggalkan pesan tentang keindahan dan kerumitan kemanusiaan di benak penonton.
Madani Fest 2025 mungkin hanyalah sebuah misykat. Sebuah cahaya kecil di tengah gulita. Tapi, seperti diyakini para penyelenggara dan pendukungnya, kegelapan pada hakikatnya tidak ada; yang ada hanyalah ketiadaan cahaya. Maka, daripada mengutuk kegelapan, mereka memilih untuk bersama-sama menyalakan, menggelorakan, dan merayakan cahaya. Satu film, satu diskusi, satu pertunjukan, dalam satu ruang inklusif, pada satu waktu.





Comments are closed.