Bincangperempuan.com– Kemarin sempat ramai soal Grok yang kerap disalahgunakan untuk mengedit foto perempuan menjadi konten tidak pantas, problem AI sebenarnya sudah muncul jauh sebelum itu. Dalam banyak demonstrasi teknologi, figur perempuan kerap dijadikan wajah utama baik sebagai asisten virtual, objek visual dalam prompt, maupun umpan untuk mencuri perhatian di ruang digital. Tubuh perempuan seakan hadir sebagai etalase, bukan sebagai subjek yang berdaulat.
Di saat yang sama, AI juga dipromosikan sebagai alat bantu yang memudahkan kerja manusia seperti mempercepat input data, menyunting teks, hingga mengambil alih pekerjaan teknis yang repetitif. Narasi ini membuat AI tampak netral, efisien, bahkan progresif.
Namun, benarkah demikian? Seberapa besar sebenarnya pemanfaatan AI hari ini, dan siapa yang paling diuntungkan olehnya? Lebih jauh lagi, ketika teknologi dikembangkan di dalam struktur sosial yang timpang, apa dampaknya bagi perempuan dan hanya masa depan?
Baca juga: Menikah dengan AI: Kita yang Terlalu Aneh, atau Dunia yang Sudah Terlalu Sepi?
AI Tidak Benar-benar Netral
Seperti dilansir UN Women, terdapat masalah besar soal kesetaraan gender antara kecerdasan buatan (AI). Karena AI justru mencerminkan bias gender yang sudah lama hidup di masyarakat. Dengan kata lain, teknologi ini belajar dari dunia yang timpang, lalu mereproduksi ketimpangan itu dalam bentuk baru.
Bias gender dalam AI sering muncul sejak tahap paling awal, yakni saat proses machine learning. Salah satu penyebab utamanya adalah data. Ketika perempuan tidak cukup terwakili dalam kumpulan data baik sebagai subjek, kontributor, maupun pengambil keputusan, maka akan ada lubang pengetahuan dalam sistem AI. Dari sinilah terjadi kesalahan dan bias. Apalagi, sistem pembelajaran mesin tetap dikendalikan manusia, yang membawa nilai, sudut pandang, dan prasangka mereka sendiri ke dalam teknologi yang dibangun.
UN Women mencatat sebuah studi dari Berkeley Haas Center for Equity, Gender and Leadership yang menganalisis 133 sistem AI di berbagai sektor. Hasilnya, sekitar 44 persen sistem tersebut menunjukkan bias gender, dan 25 persen lainnya bahkan mengandung bias ganda seperti gender dan ras.
UN Women mengutip studi dari Berkeley Haas Center for Equity, Gender and Leadership yang menganalisis 133 sistem AI di berbagai sektor. Hasilnya, sekitar 44 persen menunjukkan bias gender, dan 25 persen lainnya mengandung bias ganda, yakni gender dan ras. Temuan ini menegaskan bahwa bias dalam AI bukan kasus sporadis, melainkan pola yang sistemik.
Bias serupa juga tampak dalam representasi visual. Sebuah penelitian dalam jurnal Journalism and Media (2025) yang menganalisis gambar hasil dua sistem AI populer menemukan bahwa teknologi ini cenderung mereproduksi standar kecantikan hegemonik yang selama ini mendominasi media. Tubuh kurus, kulit cerah, dan fitur wajah yang diasosiasikan dengan standar Barat muncul jauh lebih sering dibandingkan representasi tubuh yang beragam. Tubuh gemuk hampir tak terlihat, atau jika muncul, kerap ditempatkan dalam konteks negatif seperti tidak sehat atau malas.
Ketimpangan ini tidak berhenti pada tubuh. Representasi gender juga berjalan timpang. Laki-laki lebih sering digambarkan dalam peran aktif seperti berolahraga, bekerja, atau memimpin, sementara perempuan kerap ditampilkan dalam posisi pasif, santai, atau terseksualisasi. Perempuan hadir sebagai objek visual, bukan sebagai subjek dengan agensi dan aktivitas.
AI dan Beban Baru yang Diam-Diam Dipikul Perempuan
Di tengah bias yang dibentuk oleh AI, perempuan menghadapi beban baru yang sering tidak terlihat. Mereka diminta untuk lebih waspada, lebih bijak bermedia, dan lebih berhati-hati membagikan foto atau ekspresi diri. Himbauan untuk tak mengunggah foto pribadi di media sosial misalnya. Alih-alih membatasi pelaku kekerasan digital, tanggung jawab justru dialihkan kepada korban untuk beradaptasi.
Beban ini menambah daftar panjang kerja tak terlihat yang selama ini dilekatkan pada perempuan. Alih-alih membebaskan, AI justru memperluas kontrol atas tubuh dan ekspresi perempuan dengan dalih efisiensi dan kemajuan teknologi.
Baca juga: Siapa yang Salah Saat AI Grok Dipakai untuk Melecehkan?
Masa Depan Teknologi, atau Masa Depan Patriarki?
Oleh karena itu saat ini kita bukan lagi sekadar menilai seberapa canggih AI akan berkembang, melainkan nilai apa yang ikut dibawanya. Jika pengembangan teknologi terus mengabaikan perspektif perempuan, maka AI hanya akan menjadi mesin reproduksi patriarki, bukan alat transformasi sosial.
Mendorong literasi teknologi yang berperspektif gender, regulasi yang berpihak pada korban, serta keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan teknologi bukanlah sikap anti-kemajuan. Justru di situlah letak keberanian untuk memastikan bahwa masa depan digital tidak dibangun di atas ketimpangan yang sama, hanya dengan wajah yang lebih modern.
UN Women menekankan bahwa langkah pertama adalah menjadikan kesetaraan gender sebagai tujuan awal pengembangan teknologi. Ini berarti meninjau ulang data yang digunakan, memastikan representasi pengalaman yang beragam tidak hanya dari segi gender, tetapi juga ras, usia, orientasi seksual, dan latar belakang sosial—serta membangun tim pengembang yang lebih inklusif.
Namun jika kita melihat industri AI, representasi gender masih jauh dari kata setara. Laporan Global Gender Gap Report 2023 mencatat bahwa hanya sekitar 30 persen pekerja di bidang AI adalah perempuan. Bahkan menurut World Economic Forum, perempuan hanya mencakup 29 persen dari total tenaga kerja STEM secara global. Meski jumlah perempuan yang masuk ke bidang ini meningkat, mereka cenderung terkonsentrasi di posisi awal dan jarang berada di level kepemimpinan tempat keputusan besar diambil.
Di tengah pesatnya perkembangan industri AI, ketiadaan perspektif gender dalam data, riset, dan pengambilan keputusan berisiko melanggengkan ketidakadilan selama bertahun-tahun ke depan. Karena itu, memperluas akses dan kepemimpinan perempuan dalam pendidikan STEM dan karier teknologi bukan sekadar soal representasi, melainkan prasyarat untuk memastikan bahwa masa depan digital tidak dibangun di atas bias yang sama, hanya dengan kemasan yang lebih canggih.
Referensi:
- UN Women. (n.d.). Artificial intelligence and gender equality. https://www.unwomen.org/en/articles/explainer/artificial-intelligence-and-gender-equality
- Vargas-Veleda, Y., del Mar Rodríguez-González, M., & Marauri-Castillo, I. (2025). Visual representations in AI: A study on the most discriminatory algorithmic biases in image generation. Journalism and Media, 6(3), 110. https://doi.org/10.3390/journalmedia6030110





Comments are closed.